Kesehatan

Makna Emosional di Balik Kata "Mama" dan "Rumah" Menurut Psikolog

Dua kata sederhana, "mama" dan "rumah," dapat membangkitkan kenangan dan emosi mendalam bagi banyak orang. Psikolog Changiz Mohiyeddini menjelaskan bahwa makna emosional dari kata-kata ini lebih kuat...

D
Danendra Surya
06 August 2026 75 pembaca
Makna Emosional di Balik Kata "Mama" dan "Rumah" Menurut Psikolog
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kata-kata seperti "mama" dan "rumah" sering kali mampu menyentuh hati dan membangkitkan kenangan bagi banyak orang. Menurut psikolog dan psikoterapis Changiz Mohiyeddini, Ph.D., hal ini bukanlah kebetulan. Kata-kata yang berkaitan erat dengan pengalaman hidup seseorang dapat memiliki dampak emosional yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan kutipan-kutipan terkenal atau kalimat motivasi. Dalam penjelasannya, Mohiyeddini menyatakan bahwa kata-kata yang benar-benar mengubah hidup seseorang biasanya berasal dari momen-momen sederhana yang terjadi pada waktu yang tepat.

Kisah yang Mengubah Perspektif

Salah satu contoh yang diberikan adalah kisah seorang pria yang kehilangan ibunya saat masih kecil. Bertahun-tahun kemudian, saat ia berada dalam keadaan putus asa, ia mendengar seorang anak kecil memanggil "Mama." Kata tersebut mengingatkannya pada kenangan indah bersama ibunya dan pesan yang pernah disampaikan oleh terapisnya. Momen itu membuatnya memutuskan untuk tidak mengakhiri hidupnya dan memilih untuk pulang.

Kisah lainnya melibatkan seorang wanita yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ketika seorang rekan kerja menanyakan, "Di mana rumah Anda?" ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun, ia tidak lagi memaknai rumah sebagai tempat yang memberikan rasa aman. Pertanyaan sederhana itu menjadi titik awal bagi proses pemulihannya.

Peran Kata dalam Memori

Mohiyeddini menjelaskan bahwa fenomena ini dapat dipahami melalui penelitian psikologi mengenai memori. Penelitian yang dilakukan oleh Endel Tulving dan Donald M. Thomson pada tahun 1973 menunjukkan bahwa seseorang lebih mudah mengingat pengalaman tertentu ketika menemukan isyarat yang berkaitan dengan memori tersebut. Konsep ini dikenal sebagai prinsip spesifikasi pengkodean. Dengan demikian, kata-kata tertentu dapat memicu munculnya kembali kenangan jika memiliki hubungan erat dengan pengalaman saat memori itu terbentuk.

Dalam contoh yang disampaikan, kata "mama" berfungsi sebagai pemicu yang menghubungkan seseorang kembali dengan ikatan emosional terhadap ibunya, sedangkan kata "rumah" mengingatkan seseorang pada pengalaman hidup yang selama ini berusaha dihindari.

Selain itu, Mohiyeddini juga merujuk pada teori memori autobiografis yang dikembangkan oleh Martin A. Conway dan Christopher W. Pleydell-Pearce. Teori ini menjelaskan bahwa manusia menyimpan kenangan berdasarkan pengalaman pribadi yang membentuk identitas mereka. Oleh karena itu, kata-kata yang berkaitan dengan orang-orang terdekat, tempat, atau peristiwa penting sering kali memiliki makna emosional yang lebih signifikan dibandingkan dengan kata-kata umum.

Contohnya, bagi seseorang yang telah kehilangan orang tua, kata "mama" bukan hanya sekadar panggilan, tetapi juga bagian dari pengalaman hidup yang sarat emosi. Begitu pula dengan kata "rumah," yang maknanya dapat berbeda bagi setiap individu, tergantung pada pengalaman yang telah dilalui.

Melalui pengalamannya sebagai psikoterapis selama hampir tiga dekade, Mohiyeddini menekankan pentingnya memilih kata-kata dengan hati-hati saat berbicara kepada anak, pasangan, teman, atau orang yang sedang menghadapi masa sulit. Dalam situasi tertentu, kata-kata sederhana yang diucapkan dengan tulus dapat menjadi pengingat atau sumber kekuatan yang lebih berarti dibandingkan dengan nasihat panjang atau kutipan terkenal.

Artikel Terkait