Menuntaskan pendidikan tinggi tidak selalu menandai akhir dari perjuangan. Banyak anak muda justru mulai merasa tertekan dengan berbagai pertanyaan mengenai masa depan mereka setelah wisuda, seperti kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan, bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan, hingga perasaan kehilangan arah dalam hidup. Fenomena ini dikenal sebagai krisis seperempat abad atau quarter-life crisis. Situasi ini semakin relevan di tengah tingginya ketidakcocokan antara pendidikan dan dunia kerja yang dialami oleh lulusan muda di Indonesia.
Psikolog Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memicu krisis identitas ketika harapan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak sejalan dengan kenyataan di dunia kerja. "Banyak anak muda terjebak dalam apa yang dalam psikologi perkembangan disebut sebagai identity foreclosure, yaitu kondisi ketika seseorang membuat komitmen terhadap masa depannya karena mengadopsi mentah-mentah harapan orangtua atau tren masyarakat, tanpa melakukan eksplorasi mandiri," ungkap Danti.
Perbedaan Antara Harapan dan Kenyataan
Danti menambahkan bahwa salah satu penyebab munculnya krisis seperempat abad adalah benturan antara ekspektasi dan kenyataan setelah menyelesaikan pendidikan. Banyak mahasiswa memilih jurusan tanpa memahami sepenuhnya minat dan kemampuan mereka. Kesadaran akan hal ini sering kali muncul saat mereka menjalani kuliah, magang, atau memasuki dunia kerja. "Kemudian mereka menyadari bahwa minat dan nilai hidup mereka tidak sejalan dengan jurusan yang dipilih," jelasnya.
Di sisi lain, kondisi pasar kerja yang kompetitif juga mendorong banyak lulusan untuk menerima pekerjaan apa pun demi memenuhi kebutuhan finansial dan mencapai kemandirian. Danti menyatakan bahwa kebutuhan dasar seperti keamanan ekonomi sering kali membuat lulusan menurunkan ekspektasi dari pekerjaan ideal menjadi pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan. Hal ini membuat sebagian anak muda merasa hidup mereka tidak berjalan sesuai rencana.
Pengaruh Eksternal dalam Memilih Jurusan
Banyak anak muda mengalami krisis seperempat abad setelah lulus kuliah akibat benturan antara harapan, pilihan jurusan, dan realitas dunia kerja yang tidak selalu sesuai dengan rencana. Danti menjelaskan bahwa pengaruh faktor eksternal dalam pemilihan jurusan masih sangat kuat, terutama di Indonesia. Persetujuan orangtua, gengsi sosial, serta tren pekerjaan yang populer di media sosial sering kali memengaruhi keputusan pendidikan seseorang. Akibatnya, saat memasuki dunia kerja, banyak lulusan mulai mempertanyakan pilihan yang telah mereka buat. "Ketika memasuki dunia kerja nyata, benturan antara ekspektasi orang lain dan realitas diri akan memicu krisis eksistensial yang mendalam," tambahnya.
Walaupun demikian, Danti menegaskan bahwa bekerja di luar bidang studi tidak selalu menjadi masalah. Dampak psikologisnya tergantung pada cara individu memaknai pengalaman tersebut. Mereka yang memiliki growth mindset cenderung melihat pergeseran bidang karier sebagai peluang untuk memperluas keterampilan dan pengalaman. Selain itu, seseorang bisa tetap merasa puas dengan pekerjaan jika sesuai dengan nilai-nilai pribadi yang diyakini. "Mereka melihat ketidaksesuaian ini sebagai peluang untuk memperluas portofolio keterampilan, bukan sebagai kegagalan akademis," ungkap Danti.
Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang mengalami disonansi kognitif. "Ada benturan batin yang terus-menerus antara siapa saya seharusnya berdasarkan investasi waktu dan biaya kuliah dengan apa yang saya lakukan sekarang," katanya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan, boreout, hingga burnout.
Mengubah Cara Pandang terhadap Karier
Untuk mengurangi perasaan gagal setelah lulus, Danti menyarankan anak muda agar mengubah cara pandang terhadap karier. Menurutnya, kesuksesan tidak harus diukur berdasarkan kesesuaian antara pekerjaan dan jurusan kuliah. "Lepaskan mitos bahwa karier harus berupa garis lurus yang searah dengan ijazah," tegasnya.
Ia mendorong lulusan muda untuk mengadopsi konsep protean career, yaitu model karier yang lebih fleksibel, dikendalikan oleh diri sendiri, dan diukur dari kemampuan belajar serta beradaptasi. Dengan cara pandang ini, perubahan arah karier tidak lagi dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses menemukan jalan yang paling sesuai dengan diri sendiri.