JAKARTA - Dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, label fesyen KHAYAE mempersembahkan koleksi terbarunya yang bertajuk Majestic Reverie. Koleksi ini mengusung tema klasik yang elegan dengan memadukan material velvet, bordir, dan payet, serta memiliki tujuan sosial dengan melibatkan para lansia dalam proses produksinya.
KHAYAE ingin menunjukkan bahwa kemewahan tidak hanya berasal dari bahan-bahan premium, tetapi juga dari ketelitian dalam pengerjaan serta nilai keberlanjutan yang dihasilkan melalui pemberdayaan kelompok rentan. Koleksi ini terdiri dari 11 tampilan yang dikerjakan selama sekitar dua bulan, dengan desain yang menggabungkan struktur tailoring modern dan detail couture.
Inspirasi dan Desain Elegan
Desainer KHAYAE, Elok Re Napio dan Silvia, menjelaskan bahwa Majestic Reverie terinspirasi oleh keindahan klasik yang tetap relevan di berbagai zaman. Mereka memilih untuk mengolah bahan-bahan seperti velvet dan bordir dengan cara yang sederhana namun tetap elegan. Elok menyatakan, "Menurut kami, koleksi ini adalah keindahan yang tidak lekang oleh waktu, karena kita berdua ini suka sesuatu yang klasik. Kami mengolah bahan velvet, bordir, tapi tetap simpel dan elegan."
Silvia menambahkan bahwa meskipun bahan velvet dan bordir sering dianggap berat, mereka berhasil menghilangkan kesan tersebut agar koleksi ini dapat dikenakan oleh berbagai kelompok usia. "Bahan velvet dan bordir itu terkesan berat, tapi kami menghilangkan kesan tersebut, sehingga baik tua maupun muda bisa mengenakan koleksi ini," ujarnya.
Pemberdayaan Sosial Melalui Kerajinan
Di balik kemewahan setiap busana, KHAYAE juga membawa misi sosial. Elok menjelaskan bahwa banyak perempuan lanjut usia yang terlibat dalam proses pengerjaan payet, yang memiliki keterampilan tinggi di bidang tersebut. "Tenaga kerja kami banyak ibu-ibu yang lanjut usia, kelompok rentan. Pegawai saya juga ada yang berusia 60, tapi dia masih bisa payet," ungkap Elok.
Setiap busana dalam koleksi Majestic Reverie dilengkapi dengan detail payet, yang bertujuan untuk memberdayakan kelompok rentan serta menjaga keberlangsungan keterampilan kriya. "Di setiap baju itu selalu ada payet-payetnya karena untuk memberdayakan kelompok rentan. Walaupun kami enggak pakai wastra, tapi sustainable-nya di situ gitu. Kami memperkaryakan mulai muda sampai yang sepuh," ujarnya.
Proses kreatif koleksi ini tidak berjalan mulus, karena tim KHAYAE beberapa kali mengganti material hingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Elok menekankan pentingnya ketelitian dalam pengerjaan, terutama dalam menjahit dan mempress material velvet. "Kesulitan velvet adalah dari mulai jahit dan pressing harus ada teknik tertentu yang enggak bisa asal, maka diperlukan ketelitian tinggi," tutup Elok.