Kesehatan

Koleksi Fesyen Garuda oleh Mickael Nana dan Beatrice Angelica

Pertunjukan fesyen bertajuk Garuda yang dipersembahkan oleh desainer Prancis Mickael Nana dan desainer Indonesia Beatrice Angelica memukau penonton di BRI JF3 Fashion Festival 2026, menampilkan karya...

M
Maria Gabriella
28 July 2026 8 pembaca
Koleksi Fesyen Garuda oleh Mickael Nana dan Beatrice Angelica
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Para model melangkah dengan percaya diri di atas runway, diiringi oleh musik yang mengingatkan pada nuansa klasik, sementara pencahayaan yang lembut menciptakan suasana mistis. Pertunjukan fesyen yang bertajuk Garuda ini merupakan hasil kolaborasi antara desainer Prancis Mickael Nana dan desainer lokal Beatrice Angelica, berlangsung pada Kamis (23/7/2026) di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading. Koleksi ini menampilkan Garuda dalam palet warna yang terinspirasi oleh lanskap bumi, dengan nuansa yang jauh dari interpretasi harfiah, tanpa adanya sayap besar atau kostum teatrikal yang mencolok.

Inspirasi dari Alam Nusantara

Koleksi GARUDA yang ditampilkan dalam festival ini merupakan hasil kerja sama antara desainer yang terlibat dalam program PINTU Residency Program. Keduanya mengolah warna-warna yang menggambarkan keindahan alam Indonesia, mulai dari cokelat tanah, tan, arang, tanah merah, hingga gading. Sepuluh tampilan yang ditampilkan terdiri dari busana pria dan wanita, terbuat dari tiga jenis tekstil tenun eksklusif yang dikembangkan bersama perajin perempuan di Lombok, dengan teknik songket dan tenun tradisional yang dipadukan dengan denim dan beludru untuk menciptakan siluet yang kuat dan bertekstur.

Referensi visual untuk koleksi ini berasal dari foto-foto arsip Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yang menunjukkan bagaimana tradisi busana lokal berinteraksi dengan pengaruh Eropa. Teknik draping tradisional dan tailoring dari era 1970-an hingga 1980-an berpadu dengan elemen budaya populer dari sosok-sosok seperti Lenny Kravitz dan Erykah Badu.

Keunikan Setiap Tampilan

Ketika model Yanu, pemenang JF3 Model Search 2025, melangkah di runway, ia mengenakan jubah panjang bermotif tenun yang menjuntai hingga mata kaki, dipadukan dengan celana senada. Meskipun potongannya sederhana, kerumitan motif pada busana tersebut memberikan kesan monumental. Bobot kain tenun membuat jubahnya hampir tidak bergerak mengikuti langkahnya, menciptakan kesan tegak dan kokoh.

Selama pertunjukan, Mickael dan Beatrice terus mengeksplorasi struktur desain, dengan banyak tampilan yang mengusung elemen asimetri. Salah satu momen menarik adalah munculnya jaket asimetris berwarna kuning neon yang dipadukan dengan kain lilit netral. Mickael menjelaskan, "Pada dasarnya, aku ingin semua koleksiku, terutama yang kubuat bersama Beatrice, punya ritme. Buatku, sebuah koleksi itu benar-benar seperti sebuah cerita yang kita jalani, dan setiap adegannya enggak harus terlihat sama." Ia menambahkan bahwa kejutan dalam desain membuat koleksi lebih menarik.

Beatrice menambahkan bahwa pilihan warna neon tersebut juga berfungsi untuk menonjolkan detail-detail di dalam koleksi. "Warna neon sangat identik dengan utility wear, seperti perlengkapan outdoor yang sering menggunakan warna terang agar lebih mudah terlihat," ujarnya.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika sangat terasa dalam koleksi ini, di mana dua desainer dari latar belakang berbeda berhasil menciptakan satu kesatuan. Kombinasi antara tailoring bergaya Eropa dan tenun Lombok, serta model-model yang beragam, menciptakan suasana yang harmonis. Detail-detail yang mungkin terlewatkan juga mengandung makna, seperti kain beludru yang motifnya terinspirasi oleh gugusan pulau-pulau Indonesia.

Mickael menambahkan bahwa koleksi ini mencerminkan keberagaman Indonesia melalui penggunaan berbagai material dan tekstur. "Kami berusaha menggunakan berbagai jenis kain untuk merepresentasikan Indonesia apa adanya. Banyak jenis kain, banyak budaya, banyak bahasa," ungkapnya.

Di balik pertunjukan yang berlangsung selama belasan menit ini, terdapat proses kreatif yang panjang, melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Beatrice menyebutkan beberapa perajin yang berkontribusi, termasuk Bu Ani yang mengerjakan kain songket dan Hadis yang membantu dalam pengolahan kain selama residensi.

Setelah program residensi, Beatrice akan meluncurkan koleksi ready-to-wear pertama untuk labelnya, Noen, sementara Mickael akan kembali ke Paris untuk merilis koleksi ready-to-wear pertamanya, Marlon Nana, yang bertepatan dengan Paris Fashion Week pada bulan September mendatang.

Artikel Terkait