Wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius telah menjadi sorotan dunia setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dan puluhan lainnya dievakuasi ke berbagai negara untuk menjalani karantina. Kapal yang berangkat dari Amerika Selatan ini awalnya mengangkut sekitar 150 orang dari 23 negara untuk menikmati pelayaran ke daerah terpencil, sebelum situasi tersebut berubah menjadi keadaan darurat kesehatan internasional.
Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, para penumpang yang dikarantina mulai membentuk rutinitas baru di dalam kamar isolasi mereka. Salah satu penumpang, Jake Rosmarin, berbagi pengalamannya selama menjalani karantina di Omaha, Amerika Serikat, melalui wawancara dengan BBC. Pria berusia 29 tahun ini awalnya berniat pulang ke Boston bersama tunangannya setelah pelayaran selama 35 hari, namun kini ia terpaksa tinggal di fasilitas medis khusus karantina selama berminggu-minggu.
Kegiatan Sehari-hari di Kamar Karantina
Pada hari Rabu, Jake memulai harinya dengan membuat roti lapis isi telur di kamarnya menggunakan bahan makanan yang dipesan dari menu yang disediakan oleh staf fasilitas medis. Ia juga menceritakan bahwa perawat datang dua kali sehari untuk memeriksa suhu tubuhnya. Selama masa karantina, Jake mengamati bahwa staf mengenakan perlindungan seperti masker dan pelindung wajah saat mengantarkan barang atau makanan ke kamarnya. Namun, saat staf masuk untuk mengambil darahnya, perlengkapan medis yang mereka kenakan lebih banyak.
“Setiap kali berganti ruangan, mereka harus melepasnya dan kemudian mengenakan perlengkapan baru,” jelas Jake. Kamar karantina yang ditempatinya dilengkapi dengan tempat tidur, televisi, telepon, meja, dan sepeda olahraga. Meskipun demikian, Jake mengaku merasa jenuh dengan rutinitas yang berjalan lambat. Untuk membuat ruang isolasi terasa lebih nyaman, ia memesan berbagai barang secara online, termasuk alas kasur baru, bantal, dan buku mewarnai.
Interaksi dengan Keluarga dan Media Sosial
Selain memesan barang secara online, Jake juga rutin berkomunikasi dengan orang-orang terkasih, termasuk keluarga dan tunangannya, untuk memastikan kebutuhannya selama di karantina. Sebagai seorang kreator konten dan fotografer, Jake tetap aktif membagikan pengalaman karantinanya di media sosial melalui akun Instagram @jakerosmarin, yang kini memiliki 127 ribu pengikut. Ia membagikan rutinitas kecilnya, termasuk menu makanan sehari-hari.
Contohnya, pada hari Kamis (14/05), Jake membagikan menu sarapannya yang terdiri dari telur orak-arik, bacon, muffin Inggris, kopi, dan susu almond. Untuk makan siang, ia memesan salad, ayam panggang, sup kentang, dan diet coke. Dalam salah satu unggahannya, ia juga menyebutkan bahwa ia memesan kopi dari Starbucks. “Seluruh hidup saya ada di media sosial, dan jika saya tidak bisa membuat konten, saya tidak tahu harus melakukan apa dengan diri saya sendiri,” ungkap Jake.
Ia mengakui bahwa respons publik terhadap konten yang dibagikannya beragam, ada yang memberikan dukungan, namun tidak sedikit pula yang menuduh para penumpang egois karena ingin segera turun dari kapal. “Membaca komentar-komentar itu membuat semuanya terasa berat,” tuturnya. Untuk membuat masa karantina lebih ringan, Jake berencana untuk mendokumentasikan pengalamannya dalam bentuk tulisan. “Ini bukan sesuatu yang ingin saya lupakan, karena ini adalah cerita yang pasti ingin saya ceritakan kepada anak-anak saya suatu hari nanti,” tambahnya.
Perbedaan Karantina Hantavirus dan Covid-19
Meskipun karantina hantavirus melibatkan isolasi dan pemantauan ketat, proses ini berbeda dari masa pandemi Covid-19. Hantavirus tidak menyebar melalui interaksi sosial biasa seperti Covid-19. Penularan antar manusia pada strain Andes virus sangat jarang terjadi dan biasanya memerlukan kontak dekat dalam waktu lama. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa hantavirus bukanlah Covid-19 kedua. “Saya perlu Anda mendengar saya dengan jelas: ini bukan COVID yang lain,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Selain itu, masa inkubasi hantavirus jauh lebih panjang, berkisar antara satu hingga delapan minggu. Oleh karena itu, penumpang MV Hondius yang tidak menunjukkan gejala tetap diminta untuk menjalani karantina selama enam minggu sambil memantau kondisi kesehatan mereka. Menurut WHO, hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, dengan penularan yang biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terinfeksi.