JAKARTA - Setiap daerah di Jakarta memiliki ciri khas motif batik Betawi yang berbeda, dan salah satunya dapat ditemukan di Gandaria, Jakarta Selatan. Gandaria Batik Betawi, yang berlokasi di Jalan Bahari Raya, Gandaria Selatan, Cilandak, mulai beroperasi pada tahun 2012. Keahlian membatik dalam keluarga ini berasal dari pengalaman sang ibu yang pernah bekerja sebagai pembuat wastra di kawasan Karet dan Kebayoran Lama.
Nur, pemilik Gandaria Batik Betawi, menjelaskan, "Sebenarnya seni dari orangtua, tapi pengembangan dari pembinanya itu sendiri Ibu Sumiati." Sumiati, seorang perajin dari Segarajaya, Kabupaten Bekasi, memberikan pelatihan awal kepada Nur untuk mengasah keterampilannya dalam membatik.
Proses Kreatif dan Identitas Lokal
Selama tiga bulan, Nur bersama keluarga dan tetangganya belajar teknik membatik hingga berhasil menciptakan berbagai desain. Pemilihan nama merek ini terinspirasi dari sejarah tempat kelahirannya. "Kebetulan saya lahir di Kampung Gandaria, jadi pakai motif kampung sendiri," ungkap Nur. Pada awalnya, motif yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh unsur lokal, seperti buah gandaria, alat musik gambus, dan ornamen gigi balang.
Setelah bergabung dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta, desainnya semakin berkembang dengan penekanan pada unsur flora dan fauna. "Karena kan Jakarta Selatan itu kan rambutan ikonnya, rambutan rapiah, dan burung gelatik. Jadi aku bikin motif sendiri," tambah Nur. Ia juga menciptakan corak bambu sri gunting yang melambangkan tanaman yang memberikan kehidupan bagi sekitarnya. "Saya kepengin yang pemakainya itu biar hidupnya lebih makmur dan bertumbuh," harapnya.
Inovasi Motif dan Palet Warna
Sentuhan lokal ditambahkan pada bagian tepi kain yang dikenal sebagai tumpal. Berbeda dengan pembatik lain yang menggunakan pucuk rebung, Nur memilih gambar ondel-ondel. Di tengah tren desain batik yang memenuhi seluruh permukaan kain, ia memperkenalkan inovasi yang disebut motif ceplok. "Awalnya coba pasarannya, 'Gimana nih kalau motif batik saya paduin ceplok-ceplok begini?'. Ternyata orang suka juga," jelas Nur.
Dalam satu lembar kain batik motif ceplok, pembeli akan menemukan kombinasi berbagai motif seperti buah rambutan, gandaria, burung gelatik, dan siluet Monumen Nasional (Monas). Nur menambahkan detail garis atau bunga sepatu di bagian bawah untuk memberikan kesan dinamis. "Kadang-kadang inspirasi tuh keluar sendiri tanpa cerita. Karena terinspirasi, langsung bikin, ngide sendiri," imbuhnya.
Keunikan batik Betawi dari Gandaria juga terlihat pada pemilihan palet warnanya. Berbeda dengan warna cokelat gelap yang umum pada batik Jawa, karya Nur didominasi oleh warna-warna cerah seperti merah, oranye, dan hijau terang. "Karena batik Betawi juga kan dia enggak punya pakem warna, jadi semua warna itu ada di situ. Warna-warna pesisiran, warna-warna cerah," jelasnya.
Awalnya, kombinasi warna yang mencolok ini dianggap tidak pantas, namun seiring waktu, masyarakat mulai menyukai komposisi tersebut. Palet warna yang berani ini mencerminkan karakter masyarakat Betawi yang dinamis dan sosial. "Memang perpaduan warna yang norak-norak, merah, oren dijadiin satu. Orang jadi lebih mengenalnya kayak, ya memang (orang Betawi) sifatnya seperti itu," tutup Nur.