Kementerian Kehutanan menginformasikan bahwa per 21 September 2026 pukul 23.59 WIB, terdapat perbaikan signifikan pada jumlah titik hotspot yang terpengaruh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). "Alhamdulillah hari ini kondisi membaik secara hotspot dengan total nasional 948," ungkap Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, dalam konferensi pers di Kemenko Polkam, Jakarta, pada Selasa (22/9/2026).
Penurunan Hotspot di Berbagai Wilayah
Hotspot, yang merupakan indikasi adanya anomali suhu yang terdeteksi oleh sensor satelit, dapat berfungsi sebagai informasi penting dalam pemantauan dan penentuan lokasi yang perlu diverifikasi. Ristianto menjelaskan bahwa di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot mengalami penurunan dari 1.294 pada hari Minggu menjadi 350. Sementara itu, Kalimantan Barat juga menunjukkan penurunan dari 355 menjadi 75 titik hotspot.
Di Sumatera Selatan, hotspot turun dari 98 menjadi 64, sedangkan Kalimantan Selatan mengalami sedikit peningkatan dari 69 menjadi 74. Jambi menunjukkan penurunan yang signifikan dari 26 menjadi 6 titik hotspot, dan di Riau tidak terpantau adanya hotspot pada malam sebelumnya.
Data Hotspot dan Verifikasi di Lapangan
Dalam sepekan terakhir, yakni antara 15 hingga 21 September 2026, jumlah hotspot tertinggi tercatat pada Minggu (20/9/2026). Berdasarkan pemantauan satelit dari Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA-20 milik NASA, terdapat 1.988 hotspot secara nasional pada hari tersebut. Dari angka tersebut, sebanyak 1.843 hotspot terdeteksi di enam provinsi prioritas, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Ristianto menekankan bahwa data hotspot tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan. "Karena dalam sebuah hamparan hotspot ini bisa terdeteksi oleh beberapa satelit ya. Jadi jumlah ketika dalam sebuah hamparan terdeteksi jumlah hotspot-nya 10, bukan berarti ada 10 kejadian kebakaran hutan dan lahan," tambahnya. Selain itu, jumlah hotspot yang terdeteksi dapat bervariasi tergantung pada satelit dan tingkat kepercayaan data yang digunakan, sehingga perlu ada verifikasi di lapangan untuk memastikan adanya kebakaran.