Kesehatan

Kebiasaan Begadang Dapat Meningkatkan Risiko Penambahan Lemak Tubuh

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kebiasaan tidur larut malam dapat berpengaruh pada pola makan dan kesehatan metabolik, khususnya pada perempuan di Selandia Baru.

N
Nathania Gabriella Wardani
23 July 2026 79 pembaca
Kebiasaan Begadang Dapat Meningkatkan Risiko Penambahan Lemak Tubuh
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kebiasaan tidur larut malam, yang dikenal dengan istilah night owl, tidak hanya berkaitan dengan pola tidur, tetapi juga dapat memengaruhi pola makan serta komposisi lemak tubuh. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers melibatkan 287 perempuan berusia 18 hingga 45 tahun di Selandia Baru, menunjukkan bahwa kebiasaan ini berhubungan dengan kesehatan metabolik.

Kaitan Antara Kebiasaan Makan dan Lemak Tubuh

Dalam studi ini, peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan chronotype mereka: tipe pagi, tipe malam (night owl), dan tipe menengah. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang aktif di malam hari memiliki indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, dan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Selain itu, kelompok night owl diketahui mengonsumsi lebih banyak kalori pada malam hari, dengan asupan karbohidrat, lemak, dan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terbiasa bangun pagi.

Risiko Gangguan Metabolik yang Lebih Tinggi

Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok night owl memiliki indikator metabolik yang kurang baik, seperti kadar gula darah dan trigliserida yang lebih tinggi. Waktu tidur yang semakin larut berkaitan dengan peningkatan kadar insulin dan hemoglobin A1C, yang merupakan penanda risiko pradiabetes dan diabetes tipe 2. Seorang ahli endokrin menekankan pentingnya waktu makan, di samping jumlah kalori yang dikonsumsi, dalam memengaruhi kesehatan metabolik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan chronotype malam memiliki kadar trigliserida, insulin, HbA1c, dan leptin yang lebih tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang lebih rendah. Selain itu, mereka cenderung mengonsumsi lebih sedikit mikronutrien, yang menunjukkan asupan buah dan sayur yang lebih rendah.

Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang konsisten, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara kebiasaan begadang dengan peningkatan berat badan. Penelitian ini juga memiliki batasan karena hanya melibatkan perempuan dari kelompok etnis tertentu, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh populasi.

Meski demikian, temuan ini memberikan implikasi klinis yang signifikan. Seorang direktur pusat penurunan berat badan menyarankan agar pengaturan waktu makan dapat menjadi strategi untuk mengurangi lemak tubuh. Ia menekankan pentingnya mengurangi konsumsi karbohidrat dan gula pada malam hari, serta mengedepankan pola makan yang kaya akan protein dan sayuran rendah pati.

Penilaian terhadap chronotype juga penting dalam evaluasi gizi, terutama bagi pasien dengan masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes. Rekomendasi pola makan di masa depan sebaiknya mempertimbangkan tidak hanya jenis dan jumlah makanan, tetapi juga waktu konsumsi.

Artikel Terkait