Kebaya lebih dari sekadar pakaian tradisional yang dikenakan dalam berbagai acara resmi dan perayaan budaya. Di masa lalu, kebaya memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar busana. Cara pemakaian, jenis kain yang dipilih, serta detail pelengkapnya menjadi indikator status sosial seseorang. Rumi Siddharta, seorang fashion stylist dan direktur kreatif yang mengamati sejarah serta budaya, menyatakan bahwa busana di masa lalu memiliki makna yang jauh lebih rumit dibandingkan saat ini. Melalui pakaian, masyarakat dapat memahami latar belakang sosial, posisi, dan identitas budaya seseorang.
“Kalau kita melihat foto-foto lama atau arsip sejarah, kita sebenarnya bisa membaca siapa orang itu, berasal dari kelompok sosial mana, bahkan bagaimana posisi mereka di masyarakat hanya dari cara berpakaiannya,” ungkap Rumi dalam Kelas Sandang pada acara Kebaya Bercerita yang berlangsung di Surakarta.
Pakaian sebagai Penanda Status Sosial
Rumi menjelaskan bahwa di masa lalu, pilihan pakaian tidak hanya didasarkan pada selera pribadi. Terdapat berbagai aturan, tradisi, dan nilai budaya yang mempengaruhi cara seseorang berpakaian. Jenis kain, kualitas material, teknik pembuatan, hingga motif yang dikenakan bisa mencerminkan status sosial pemakainya. Di beberapa daerah, ada motif atau jenis kain tertentu yang hanya dapat dikenakan oleh kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan. Oleh karena itu, pakaian berfungsi sebagai bahasa sosial yang dapat "dibaca" oleh masyarakat pada masa itu.
“Kita sering melihat pakaian hanya sebagai sesuatu yang indah. Padahal, pada zamannya, pakaian adalah identitas,” tambah Rumi.
Kebaya dan Pelengkapnya
Rumi juga menjelaskan bahwa kebaya tidak pernah hadir sendirian tanpa pelengkap. Busana ini selalu dipadukan dengan kain, selendang, perhiasan, dan aksesori yang menunjukkan identitas pemakainya. Perbedaan terlihat dari pilihan bahan, detail sulaman, renda, hingga cara memadukan kebaya dengan kain yang dikenakan. Menurutnya, perkembangan kebaya juga dipengaruhi oleh interaksi masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa melalui jalur perdagangan. Pengaruh dari India, Tiongkok, Arab, Persia, hingga Eropa kemudian berpadu dengan tradisi lokal, melahirkan beragam bentuk kebaya yang dikenal hingga kini. Meskipun banyak menerima pengaruh, masyarakat Nusantara tidak sekadar meniru. Berbagai unsur tersebut diolah kembali sehingga membentuk karakter busana yang khas di setiap daerah.
“Dulu pakaian bukan barang sekali pakai. Nilainya sangat tinggi sehingga dijaga dan diwariskan,” ujar Rumi.
Menelusuri Sejarah Melalui Kebaya
Rumi menekankan bahwa mempelajari kebaya bukan hanya sekadar memahami bentuk busananya, tetapi juga menelusuri perjalanan masyarakat yang mengenakannya. Melalui kebaya dan kain, seseorang dapat melihat perubahan struktur sosial, perkembangan perdagangan, hubungan antarbangsa, serta perubahan gaya hidup masyarakat Nusantara dari waktu ke waktu. Ia mengajak masyarakat untuk melihat kebaya tidak hanya sebagai warisan budaya yang indah, tetapi juga sebagai dokumen sejarah yang merekam perjalanan peradaban Indonesia.
“Kebaya adalah living tradition. Ia terus berkembang mengikuti zamannya, tetapi tetap membawa cerita tentang masyarakat yang melahirkannya,” tutup Rumi.