Atlet HYROX asal Australia, Joanna Wietrzyk, menjadi sorotan publik setelah mengalami buang air besar (BAB) saat mengikuti perlombaan HYROX di Beijing, China pada hari Sabtu, 12 September 2026. Meskipun mengalami insiden tersebut, Joanna tetap melanjutkan perlombaan hingga mencapai garis finis. Kejadian ini memunculkan pertanyaan mengenai mengapa olahraga dengan intensitas tinggi seperti HYROX dapat menyebabkan dorongan BAB hingga diare.
Penyebab Masalah Pencernaan Selama Olahraga Intensif
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Ria Lestari, B.Med.Sc, PGDip.SEM, Sp.KO, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor dalam olahraga HYROX yang dapat memengaruhi sistem pencernaan. “Karena HYROX menggabungkan intensitas tinggi, lari berulang, gerakan fungsional, tekanan intra-abdomen, dan stres kompetisi,” ungkap dr. Ria. Ia menambahkan bahwa saat seseorang melakukan olahraga berat, tubuh akan mengalihkan aliran darah ke otot dan kulit untuk mendukung aktivitas fisik serta pengaturan suhu tubuh. Akibatnya, aliran darah ke saluran cerna dapat berkurang, yang dapat memengaruhi fungsi pencernaan.
“Ini bisa mengganggu motilitas usus, penyerapan, dan memicu mual, kram perut, urgency BAB, sampai diare,” jelasnya. Kondisi ini merupakan bagian dari gejala gastrointestinal yang dipicu oleh olahraga, yang dapat muncul selama atau setelah aktivitas fisik.
Gerakan Olahraga dan Dampaknya terhadap Pencernaan
Selain faktor intensitas, jenis gerakan yang dilakukan dalam HYROX juga dapat berkontribusi terhadap gangguan pencernaan. Menurut dr. Ria, gerakan berulang seperti lari, jumping, burpee, dan wall ball dapat menyebabkan guncangan pada organ-organ di dalam perut, serta meningkatkan tekanan intra-abdomen. “Efeknya tidak selalu langsung menyebabkan diare, tetapi dapat memperberat gejala pada atlet yang sudah sensitif, dehidrasi, atau makan terlalu dekat dengan waktu olahraga,” tambahnya.
Oleh karena itu, dorongan BAB saat berolahraga tidak selalu menunjukkan adanya masalah kesehatan yang serius. Kondisi ini dapat muncul akibat kombinasi dari aktivitas fisik yang berat, perubahan aliran darah, gerakan mekanis, dan kondisi tubuh saat berolahraga.
Strategi Mencegah Gangguan Pencernaan
Dr. Ria menekankan pentingnya persiapan sebelum melakukan olahraga berat, yang tidak hanya melibatkan latihan fisik, tetapi juga penyesuaian sistem pencernaan. Atlet disarankan untuk membiasakan diri dengan strategi makan dan minum yang akan digunakan saat latihan maupun perlombaan. “Latihan pencernaan juga, bukan hanya latihan otot,” katanya. Atlet sebaiknya mencoba berbagai strategi nutrisi seperti makanan, minuman, gel, dan waktu makan selama latihan untuk menemukan pola yang paling cocok.
Ia juga menyarankan agar atlet tidak mencoba makanan atau minuman baru pada hari perlombaan. “Jangan eksperimen di hari lomba, jaga hidrasi, jangan mulai dengan perut yang terlalu penuh, dan kenali makanan yang sering memicu keluhan,” ujarnya. Untuk makanan sebelum latihan atau perlombaan, sebaiknya pilihlah yang sudah dikenal dan mudah dicerna, dengan dominasi karbohidrat serta menghindari lemak dan serat berlebihan.
Dr. Ria merekomendasikan agar makanan besar dikonsumsi sekitar 3-4 jam sebelum olahraga, dan jika perlu, atlet dapat mengonsumsi camilan ringan 1-2 jam sebelumnya. Hidrasi juga sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan mengonsumsi banyak cairan sekaligus sebelum berolahraga.
Menangani Dorongan BAB Saat Berlomba
Jika dorongan BAB muncul saat berolahraga, tidak selalu berarti atlet harus menghentikan aktivitas. Jika keluhannya masih ringan, intensitas olahraga dapat dikurangi dan atlet dapat mencari waktu untuk menggunakan toilet jika memungkinkan. Dr. Ria juga menyarankan untuk minum sedikit demi sedikit dan tidak memaksakan asupan energi yang dapat memperburuk rasa mual.
Namun, ada kondisi tertentu yang memerlukan perhatian lebih, seperti diare berat yang berulang, muntah, pusing, lemas, tanda-tanda dehidrasi, nyeri perut hebat, darah pada BAB, kebingungan, hampir pingsan, atau kesulitan mempertahankan asupan cairan. “Prinsipnya: performa bisa dikejar lagi, tetapi dehidrasi berat dan tanda-tanda bahaya jangan dilawan,” pungkasnya.