JAKARTA, KOMPAS.com – Industri fashion di Indonesia kembali melangkah maju untuk menembus pasar internasional. Melalui acara Indonesia Pride World Tour 2026, platform promosi budaya dan fashion yang menampilkan karya anak bangsa ini siap untuk memperluas jangkauannya ke berbagai kota di dunia dengan membawa koleksi unggulan dari desainer dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Memasuki tahun keempat, Indonesia Pride tidak hanya berfungsi sebagai ajang peragaan busana, tetapi juga sebagai jembatan strategis yang menghubungkan kreativitas desainer Indonesia dengan peluang di pasar global.
Tahun ini, Indonesia Pride akan melanjutkan perjalanannya ke Melbourne, Shanghai, dan Hong Kong, serta merencanakan ekspansi ke Moscow dan Jepang pada tahun mendatang. Founder Indonesia Pride, Rama Budisetyo, menjelaskan bahwa konsep utama yang diusung adalah roadshow internasional yang membawa karya-karya kreatif Indonesia ke pusat-pusat mode dunia. "Konsep kami memang roadshow, nantinya ada perjalanan ke Hongkong, Australia, insyaAllah tahun depan kami akan ke Moscow dan ada undangan ke Jepang juga," ungkap Rama dalam acara pembukaan di Jakarta Selatan.
Dalam setiap rangkaian tur internasional, Indonesia Pride melakukan kurasi ketat terhadap desainer dan pelaku UMKM yang akan ditampilkan. Rama menekankan bahwa Indonesia Pride tidak hanya fokus pada batik sebagai identitas budaya, tetapi juga menghadirkan beragam karya fashion lain yang mencerminkan kekayaan kreativitas tanah air. "Kami membawa atau mengkurasi beberapa desainer yang memang segmennya Indonesia Pride. Jadi bukan hanya batik, tapi kebaya, ataupun karya-karya lainnya hasil dari desainer Indonesia," jelasnya.
Beberapa desainer ternama telah dipastikan terlibat dalam tur tahun ini, antara lain Denny Wirawan, Je Sui Flirt by Indah Kalalo & Fabiola Aisha, Natasha Robert, dan Titi Songket. Kehadiran berbagai label tersebut menunjukkan bahwa Indonesia Pride terus memperluas spektrum fashion yang dibawanya ke pasar global, mulai dari busana tradisional modern hingga karya kontemporer dengan sentuhan lokal yang kuat.
Selama tiga tahun terakhir, Indonesia Pride telah membuktikan kemampuannya sebagai fasilitator bagi pelaku industri kreatif untuk menjangkau konsumen internasional. Salah satu pasar yang memberikan respons positif adalah Australia. "Alhamdulillah sudah berjalan 3 tahun, kami berhasil menjembatani antara UMKM atau desainer Indonesia untuk masuk ke Australia," kata Rama.
Rama juga menambahkan bahwa pasar internasional memiliki daya beli yang membuka peluang besar bagi produk fashion Indonesia. "Barang yang di sini harganya dianggap mahal, tapi di sana tidak terlalu mahal karena perbedaan mata uang. Alhamdulillah kemampuan daya beli Australia lebih tinggi," ujarnya. Untuk mendukung partisipasi desainer dan UMKM, Indonesia Pride menerapkan berbagai skema kolaborasi, termasuk sistem berbayar, konsinyasi, dan kerja sama bisnis.
Dengan tema besar "Bring Indonesia to The Next Level", Indonesia Pride 2026 hadir dalam format fashion show sekaligus trade show, yang memungkinkan peserta tidak hanya menampilkan koleksi mereka di runway, tetapi juga menjalin koneksi bisnis langsung dengan pembeli internasional. "Kami ingin menjadikan ini sebagai platform yang tepat sasaran bagi UMKM dan desainer, serta menjadi jembatan nyata agar karya anak bangsa semakin dikenal di pasar internasional," tutup Rama.
Melalui langkah ekspansi yang terus diperluas, platform ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan kreatif yang diperhitungkan di panggung fashion dunia. Dengan rencana ekspansi ke Moscow dan Jepang yang mulai dijajaki, Indonesia Pride World Tour 2026 menjadi tanda bahwa karya anak bangsa semakin siap bersaing dan tampil percaya diri di pasar internasional.