Lifestyle

Faktor Penyebab Mengapa Buta Warna Lebih Umum pada Anak Laki-Laki

Buta warna adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membedakan warna, dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Penjelasan mengenai hal ini berkaitan dengan...

N
Nathania Gabriella Wardani
18 September 2026 49 pembaca
Komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) menggelar aksi sosial melalui Nayan Project di SDN 177 Cipedes, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, bertajuk Deteksi Dini Buta Warna untuk Generasi Cerah Indonesia pada Rabu (29/7/2026).(Dok. Anak Cerah Indonesia (ACI) )
Komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) menggelar aksi sosial melalui Nayan Project di SDN 177 Cipedes, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, bertajuk Deteksi Dini Buta Warna untuk Generasi Cerah Indonesia pada Rabu (29/7/2026).(Dok. Anak Cerah Indonesia (ACI) )

Buta warna adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan warna tertentu. Ini tidak selalu berarti bahwa individu tersebut tidak dapat melihat warna sama sekali. Pada kasus buta warna parsial, misalnya, seseorang masih bisa mengenali warna merah atau hijau, tetapi mengalami kesulitan dalam membedakan variasi atau tingkat warna tertentu. Kondisi ini dapat terjadi sejak lahir atau muncul akibat penyakit tertentu. Untuk buta warna yang bersifat bawaan, faktor genetik menjadi salah satu penyebab utama.

Lalu, mengapa buta warna bawaan lebih sering dijumpai pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan? Menurut dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Mata Cicendo, dr. Rusti Hanindya Sari, Sp.M(K), gangguan ini berkaitan erat dengan kromosom X. “Gangguan warna ini terutama kenanya di kromosom X,” jelas dr. Rusti dalam sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.

Perbedaan Kromosom Antara Laki-Laki dan Perempuan

Manusia memiliki dua jenis kromosom seks, yaitu X dan Y. Laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan perempuan memiliki dua kromosom X. Karena gangguan warna bawaan berhubungan dengan kromosom X, maka kondisi ini lebih umum terjadi pada laki-laki. Berdasarkan penelitian yang disampaikan oleh dr. Rusti, sekitar satu dari 12 laki-laki mengalami gangguan warna, sedangkan pada perempuan hanya sekitar satu dari 200.

Perbedaan ini disebabkan oleh jumlah kromosom X yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Jika kromosom X pada laki-laki membawa gangguan warna, maka kondisi tersebut akan muncul. Sementara itu, perempuan yang memiliki dua kromosom X dapat menjadi pembawa tanpa menunjukkan gejala, asalkan hanya satu kromosom X yang terpengaruh. “Jadi bisa saja dia hanya membawa, yang artinya dia tidak manifest karena tidak duanya yang terkena,” tambah dr. Rusti.

Pewarisan Buta Warna pada Anak

Bagaimana buta warna dapat diturunkan kepada anak? Dr. Rusti menjelaskan bahwa kemungkinan pewarisan tergantung pada orangtua yang memiliki gangguan warna. Jika ibu memiliki gangguan warna, maka anak laki-laki memiliki peluang sekitar 50 persen untuk mengalaminya. Namun, jika ayah yang mengalami gangguan warna, anak laki-laki tidak akan mewarisi kromosom X dari ayah, melainkan dari ibu. Dengan demikian, kondisi ayah tidak secara langsung mempengaruhi anak laki-lakinya, tetapi faktor dari ibu tetap berperan.

Tidak semua jenis buta warna disebabkan oleh faktor genetik. Dr. Rusti membagi gangguan warna menjadi dua kategori: bawaan dan yang didapat. Gangguan warna yang didapat biasanya terkait dengan penyakit atau masalah pada retina atau saraf mata. Misalnya, peradangan atau gangguan aliran darah dapat memengaruhi kemampuan melihat warna. Selain itu, penggunaan obat-obatan atau alkohol juga bisa menyebabkan gangguan warna yang muncul di kemudian hari.

Buta warna tidak selalu berarti seseorang hanya melihat dunia dalam hitam dan putih. Menurut dr. Rusti, kondisi di mana seseorang tidak dapat melihat warna sama sekali disebut buta warna total. Sementara itu, buta warna parsial dapat terjadi pada warna tertentu, seperti merah atau hijau. Anak-anak dengan gangguan warna parsial mungkin masih bisa mengenali bahwa suatu objek berwarna merah atau hijau, tetapi warna yang mereka lihat bisa berbeda dari yang dilihat oleh orang dengan penglihatan normal.

Pemeriksaan Buta Warna pada Anak

Pemeriksaan buta warna dapat dilakukan ketika anak sudah cukup kooperatif. Dr. Rusti menjelaskan bahwa tes untuk mendeteksi gangguan warna bawaan dapat dilakukan dengan menunjukkan gradasi warna dan pola tertentu. Anak yang berusia sekitar lima tahun sudah dapat menjalani pemeriksaan ini jika mereka kooperatif. Salah satu metode yang digunakan adalah tes Ishihara, yang melibatkan pola titik-titik warna untuk mengidentifikasi angka atau pola yang ada di dalamnya.

Gangguan warna bawaan umumnya tidak berubah seiring bertambahnya usia. Dr. Rusti menegaskan bahwa hasil pemeriksaan untuk gangguan warna bawaan cenderung konsisten ketika diperiksa kembali di masa remaja atau dewasa. Hal ini berbeda dengan gangguan warna yang didapat, di mana kemampuan melihat warna dapat bervariasi tergantung pada penyebabnya. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami kondisi penglihatan anak sejak dini agar dapat mempertimbangkan pilihan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Dr. Rusti menekankan bahwa buta warna seharusnya tidak dianggap sebagai kecacatan. Anak-anak tetap dapat mengembangkan potensi mereka dengan menyesuaikan aktivitas sesuai dengan kondisi penglihatan mereka. “Jangan takut untuk diperiksakan, baik pemeriksaan mata ataupun pemeriksaan buta warna,” pesan dr. Rusti.

Artikel Terkait