Lifestyle

Enam dari Sepuluh Pemuda di Indonesia Pilih Diagnosa Mandiri, Waspadai Bahayanya

Fenomena diagnosa penyakit secara mandiri menggunakan internet semakin marak di kalangan pemuda Indonesia, namun hal ini menyimpan risiko kesehatan yang signifikan.

M
Maria Gabriella
14 May 2026 10 pembaca
Enam dari Sepuluh Pemuda di Indonesia Pilih Diagnosa Mandiri, Waspadai Bahayanya
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Mendiagnosis penyakit secara mandiri dengan memanfaatkan internet atau kecerdasan buatan kini menjadi kebiasaan yang umum di kalangan masyarakat urban. Banyak individu yang lebih memilih untuk mencari informasi tentang kondisi kesehatan mereka melalui ponsel pintar daripada langsung mengunjungi fasilitas kesehatan. Perubahan perilaku ini membawa risiko yang perlu diperhatikan dengan serius.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan bahwa kebiasaan ini sudah mencapai tahap yang perlu diwaspadai, karena berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan. "Enam dari sepuluh anak muda urban lebih memilih untuk swadiagnostik ketika mengalami keluhan kesehatan pertama kali, dan tidak langsung pergi ke dokter," kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Ketergantungan pada Teknologi Digital

Ketergantungan terhadap teknologi digital terlihat dari data 448 responden berusia di bawah 39 tahun yang diteliti. Sebanyak 99,5 persen dari mereka mengakses internet setiap hari melalui ponsel pintar, dengan 23 persen di antaranya menghabiskan lebih dari enam jam per hari untuk berselancar di dunia maya. "Kebayang algoritma itu sudah menjadi referensi kesehatan utama bagi anak muda sekarang di bawah 39 tahun," ujar Ray.

Responden yang terlibat dalam penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan dan ekonomi yang cukup baik, dengan mayoritas berpendidikan di atas SMA dan sarjana, bahkan 25 persen di antaranya merupakan lulusan S2 ke atas. Dari segi penghasilan, 61 persen responden memiliki gaji setara atau sedikit di atas Upah Minimum Regional (UMR), sementara 17 persen lainnya berpenghasilan lebih dari Rp 10 juta per bulan. "Mereka justru memiliki risiko lebih tinggi untuk menggunakan swadiagnosis dibandingkan pergi ke dokter," tambah Ray.

Masalah Kesehatan Masyarakat

Sebanyak 75 persen responden berasal dari lima kota besar, yaitu Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta, sedangkan sisanya tersebar di 12 kota urban lainnya. Dari kelompok ini, 59,8 persen anak muda lebih memilih swadiagnostik sebagai langkah pertama. "Suatu perilaku kesehatan jika sudah di atas 40 persen dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat," jelas Ray. Angka yang mendekati 60 persen tersebut telah melewati batas aman yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), menjadikan kebiasaan mendiagnosis penyakit melalui internet sebagai isu kesehatan masyarakat yang serius.

"Jadi, studi HCC ini menunjukkan bahwa swadiagnosis di kalangan anak muda urban di Indonesia sudah menjadi perhatian kesehatan masyarakat," tegas Ray.

Risiko Diagnosa yang Salah

Tingginya penggunaan mesin pencari untuk informasi medis ternyata tidak sebanding dengan pemahaman literasi digital yang dimiliki. Pengukuran menggunakan instrumen eHEALS menunjukkan bahwa 45 persen anak muda memiliki literasi kesehatan digital yang rendah, sehingga meningkatkan risiko mereka menerima informasi medis secara mentah tanpa bisa memverifikasi kebenarannya.

Ancaman nyata dari diagnosa melalui layar ponsel adalah ketidakmampuan kecerdasan buatan untuk memeriksa kondisi fisik pasien secara langsung. Ray menjelaskan bahwa algoritma sangat rentan membuat pengguna salah menafsirkan gejala ringan sebagai penyakit serius. "Risiko overdiagnosis sangat tinggi," ungkapnya. Rekomendasi dari mesin pencari juga sering kali memicu kecemasan kesehatan yang berlebihan, di mana seseorang terus mencari pembenaran atas penyakit yang diyakini tanpa adanya bukti medis yang jelas.

Pemeriksaan klinis yang akurat memerlukan proses evaluasi mendalam yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Tenaga medis harus melalui serangkaian langkah khusus untuk menentukan suatu penyakit, termasuk anamnesis, inspeksi fisik, palpasi, serta perkusi dan auskultasi. "Di algoritma, lima langkah itu dilewati. Bayangkan, hanya dengan mengetik keluhan di perangkat lunak," kata Ray. Ketiadaan pemeriksaan fisik yang menyeluruh membuat hasil diagnosa dari mesin ini tidak dapat dijadikan acuan utama yang sah.

Teknologi kecerdasan buatan dan mesin pencari sebaiknya tidak digunakan untuk menggantikan keahlian medis yang sesungguhnya. "Namun pada akhirnya, diagnosa hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan," tutupnya.

Artikel Terkait