News

Dukungan Prabowo untuk Palestina dalam Acara Gontor

Presiden Prabowo Subianto menyatakan dukungan untuk Palestina di hadapan ribuan hadirin pada acara peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, yang dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia.

S
Setya Tama
24 September 2026 66 pembaca
Presiden Prabowo Subianto berpidato dalam acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026)
Presiden Prabowo Subianto berpidato dalam acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026)

“Free Palestine! Free Palestine! Free Palestine!” teriakan ini menggema di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu (19/9/2026). Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dukungan tersebut setelah menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, dalam acara peringatan satu abad PMDG. Seruan dari Presiden tersebut disambut antusias oleh ribuan santri, alumni, dan tamu undangan yang hadir. Sesaat setelah itu, Dubes Alsattari naik ke panggung dan mengalungkan keffiyeh kepada Prabowo, yang kemudian berpelukan di hadapan para hadirin. Prabowo pun mengenakan keffiyeh tersebut selama sisa acara, yang dapat dilihat sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Dimensi Diplomasi dalam Seruan Prabowo

Namun, jika dilihat dari sudut pandang praktik diplomasi, peristiwa di Gontor memiliki makna yang lebih dalam. Diplomasi tidak selalu dilakukan melalui nota resmi, konferensi internasional, atau pertemuan bilateral. Seorang pemimpin negara dapat menyampaikan pesan melalui pidato, pilihan kata, simbol budaya, bahasa tubuh, dan konteks tempat penyampaian pesan. Oleh karena itu, seruan “Free Palestine” di Gontor dapat dipahami sebagai diplomatic signaling, yaitu penyampaian pesan politik melalui kata-kata, simbol, gestur, dan ruang publik yang dapat ditangkap oleh berbagai audiens.

Keffiyeh yang diberikan oleh Dubes Palestina bukan sekadar aksesori, melainkan simbol kuat dalam identitas dan solidaritas Palestina. Ketika Presiden mengenakannya di hadapan ribuan orang, simbol tersebut mendapatkan makna politik yang lebih luas. Selain itu, terdapat pula dimensi intermestik yang menarik. Dalam studi hubungan internasional, istilah intermestik menggambarkan isu yang memiliki dimensi domestik dan internasional secara bersamaan. Hubungan antara politik luar negeri dan dalam negeri menjadi semakin erat, dan isu Palestina adalah contoh yang jelas. Bagi masyarakat Indonesia, Palestina bukan hanya masalah kebijakan luar negeri, tetapi juga memiliki resonansi historis, moral, keagamaan, dan sosial yang mendalam.

Reaksi dan Makna Seruan di Gontor

Ketika Presiden meneriakkan “Free Palestine” di lembaga pendidikan Islam seperti Gontor, pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada komunitas internasional, tetapi juga kepada masyarakat Indonesia. Peringatan satu abad Gontor menyatukan Presiden, ulama, pendidik, santri, alumni, perwakilan diplomatik, dan berbagai elemen masyarakat. Dengan demikian, isu internasional mengenai Palestina dibawa ke dalam konteks sosial-politik domestik. Sebaliknya, persoalan domestik ini kemudian kembali memasuki ruang internasional melalui pemberitaan media, diplomasi publik, dan reaksi dari negara lain.

Seruan “Free Palestine” di Gontor dapat diinterpretasikan dari dua sisi. Di sisi domestik, hal ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap isu Palestina. Di sisi internasional, ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menempatkan kemerdekaan Palestina sebagai bagian penting dalam politik luar negerinya. Pertanyaannya adalah apakah seruan tersebut menunjukkan perubahan arah politik luar negeri Indonesia. Untuk menjawabnya, perlu dilihat dari rangkaian kebijakan, bukan hanya dari satu pernyataan.

Sepanjang tahun 2026, Presiden Prabowo beberapa kali menegaskan bahwa solusi dua negara dengan Palestina yang merdeka adalah jalan menuju perdamaian jangka panjang. Dalam pertemuan dengan Raja Yordania Abdullah II di Amman pada 25 Februari 2026, Prabowo menyatakan bahwa solusi jangka panjang yang dapat menghasilkan perdamaian adalah solusi dua negara dengan Palestina yang merdeka. Pada kesempatan tersebut, Prabowo juga mengaitkan partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dengan upaya mencapai solusi tersebut.

Seruan Prabowo di Gontor tidak muncul dalam ruang politik yang kosong. Ini merupakan bagian dari rangkaian artikulasi yang lebih panjang mengenai Palestina. Hal ini penting untuk memahami keterlibatan Indonesia dalam BoP, di mana Indonesia bergabung dalam mekanisme tersebut dan Presiden Prabowo berulang kali menjelaskan bahwa partisipasi itu diarahkan untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan serta membantu rakyat Palestina.

Media baik di dalam maupun luar negeri, termasuk media Israel, menyoroti seruan “Free Palestine” tersebut. The Times of Israel, misalnya, mengaitkan seruan tersebut dengan pidato Prabowo pada Sidang Umum PBB 2025, menyoroti perbedaan penekanan antara pidato sebelumnya yang lebih menekankan pengakuan dan keamanan Israel, dengan seruan “Free Palestine” di Gontor hampir setahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan di Gontor tidak hanya dibaca sebagai peristiwa domestik, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan posisi Indonesia terhadap konflik Palestina-Israel.

Dengan demikian, peristiwa Gontor mengingatkan bahwa konsistensi politik luar negeri tidak selalu berarti menggunakan instrumen yang sama dalam setiap situasi. Konsistensi lebih tepat dilihat dari hubungan antara tujuan, prinsip, instrumen, dan tindakan. Indonesia dapat tetap mendukung kemerdekaan Palestina sekaligus berkomunikasi dengan berbagai pihak yang memiliki posisi berbeda.

Seruan Prabowo di Gontor menunjukkan bahwa diplomasi kontemporer semakin sulit dipisahkan dari ruang publik. Presiden berbicara kepada santri, namun pesannya dapat didengar oleh perwakilan diplomatik yang hadir. Gambar-gambar dari acara tersebut menjadi bagian dari komunikasi diplomatik global. Inilah karakter diplomasi di era intermestik, di mana batas antara domestik dan internasional semakin kabur. “Free Palestine” dari Gontor memiliki banyak lapisan makna sebagai ungkapan solidaritas, diplomatic signaling, dan bagian dari komunikasi politik luar negeri serta komunikasi intermestik.

Akhirnya, diplomasi Indonesia tidak harus memilih antara simbol dan substansi, antara solidaritas dan pragmatisme. Diplomasi dapat berjalan bersamaan. “Free Palestine” adalah bahasa simbolik, keffiyeh adalah bahasa visual, pelukan Presiden dan Dubes Palestina adalah bahasa gestur, BoP adalah bahasa institusional, diplomasi PBB adalah bahasa multilateral, bantuan kemanusiaan adalah bahasa kemanusiaan, dan dukungan terhadap solusi dua negara adalah bahasa politik. Semua bahasa ini berada pada level yang berbeda, namun semuanya dapat diarahkan pada tujuan yang sama selama terdapat kesinambungan antara pesan, kebijakan, dan tindakan. Di hadapan ribuan santri Gontor, Prabowo meneriakkan “Free Palestine”, dan tepuk tangan menggema. Namun, bagi diplomasi Indonesia, gema tersebut tidak boleh berhenti di Gontor.


sumber : https://nasional.kompas.com/read/2026/09/24/12020021/-free-palestine-dan-sinyal-diplomatik-prabowo-dari-gontor

Artikel Terkait