JAKARTA - Mencari pasangan yang sejalan dan berkomitmen bukanlah hal yang mudah, terutama di tengah kesibukan pekerjaan yang padat. Beberapa orang memilih aplikasi kencan, sementara yang lain lebih suka bertemu langsung untuk menilai keseriusan calon pasangan. Dio, seorang pria berusia 33 tahun dari Tasikmalaya, adalah salah satu yang memilih jalur tatap muka. Ia telah merantau ke Jakarta selama sepuluh tahun dan bekerja sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, serta aktif sebagai pemandu acara, event organizer, dan komika.
Dio mengungkapkan bahwa ia sengaja memilih acara taaruf Golek Garwo sebagai platform untuk menemukan pendamping hidup. "Ini pertama kali banget ikut serta. Kayaknya umurnya udah cukup deh, terus udah ada bekal buat menghidupi istri. Jadi, gaskeun," ujarnya di Golek Garwo, SMESCO Exhibition Hall, Jakarta Selatan, pada Minggu (28/6/2026).
Kesulitan Mencari Pasangan di Tengah Kesibukan
Dengan jadwal yang padat dari Senin hingga Jumat sebagai pegawai pemerintah, ditambah pekerjaan sampingan di akhir pekan, Dio merasa kesulitan untuk menemukan pasangan di kampung halamannya. Ia juga enggan menggunakan aplikasi kencan online karena khawatir akan bertemu dengan perempuan yang tidak serius atau hanya ingin bermain-main. "Belum pernah (pakai aplikasi kencan). Agak takut gitu dengan ketemu perempuan yang aneh-aneh lah. Beberapa teman soalnya pernah kejadian," tuturnya.
Lingkungan pertemanan Dio di komunitas stand-up comedy juga belum membantunya menemukan sosok yang tepat. Menurutnya, perempuan yang hadir di acara komedi biasanya masih terlalu muda dan tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan serius. Sebelum mengikuti ajang ini, Dio merasa lelah karena terus-menerus berpacaran tanpa kepastian. Ia pernah menjalin tiga hubungan yang semuanya berakhir, dua di antaranya hampir berujung ke pelaminan namun batal karena permintaan mahar yang terlalu tinggi dan perbedaan suku yang menghalangi restu orangtua.
Selektif dalam Memilih Calon Pasangan
Kegagalan dalam hubungan membuat Dio sangat selektif dalam memilih calon pasangan. Ia percaya bahwa informasi mengenai latar belakang, hobi, dan pekerjaan sangat penting untuk dipertimbangkan. "Latar belakang penting banget. Dari berasal dari mana, hobi, pekerjaan, itu tuh bisa menggambarkan kepribadiannya," jelas Dio.
Meski pernah mengalami kegagalan, Dio tidak merasa risau dengan pandangan negatif terhadap keikutsertaannya dalam acara taaruf. "Aku sih enggak di-judge kayak gitu ya, soalnya aku laku. Tapi aku takutnya ketemuan sama cewek yang enggak serius. Makanya ikut acara ini," ungkapnya. Dengan pengalaman sebagai pemandu acara, Dio tampil percaya diri dan telah memetakan tiga peserta perempuan yang menarik perhatiannya.
Dio memiliki kriteria tegas bahwa calon istrinya harus lebih muda. Ia menghindari perempuan yang seumuran atau lebih tua karena khawatir akan karakter yang terlalu kaku dan mempertimbangkan faktor masa subur. Sebagai anak pertama yang terbiasa mengayomi adik-adiknya, ia menginginkan pasangan yang dewasa dan taat beragama, setidaknya dengan menjaga salat lima waktu. Ia juga memprioritaskan perempuan yang santai dan tidak kaku, mengingat ia merasa jenuh dengan lingkungan kerjanya yang formal.
"Karena aku dinamis orangnya ya, please banget jangan kaku. Soalnya aku di kantor banyak banget yang ngomong 'mohon izin' mulu, capek aku. Sehari 30 kali ada ngomong 'izin'," jelas Dio sambil tertawa. Mengenai selera humor, ia tidak menuntut pasangannya harus menyukai dunia stand-up comedy atau menanggapi candaan dengan cara tertentu.
Dio terinspirasi oleh idolanya, Raditya Dika, dan percaya bahwa perbedaan karakter bukanlah masalah selama keduanya nyaman berkomunikasi. "Bang Radit sama Anissa Aziza (istrinya) kan jokes-nya beda. Terus bang Radit introvert dan dia ekstrovert. Yang penting enak diajak ngobrol aja," tutup Dio.