Kota yang dipenuhi dengan cahaya lampu dan etalase pusat perbelanjaan sering kali menjadi pilihan utama bagi masyarakat urban untuk bersantai. Namun, taman kota dengan rumput hijau dan udara segar juga menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan. Di tengah kesibukan sehari-hari, perdebatan mengenai tempat rekreasi yang ideal bagi anak muda terus berlangsung. Mereka harus memilih antara nongkrong di taman yang gratis atau di mal yang berpendingin udara, yang menjadi dilema tersendiri.
Bagi sebagian anak muda, mal tetap menjadi pilihan utama untuk berkumpul di akhir pekan. Fasilitas yang lengkap dan kenyamanan menjadi alasan utama. Namun, bagi yang lain, keberadaan taman kota yang layak menjadi alternatif untuk menghemat pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Preferensi Anak Muda dalam Memilih Tempat Nongkrong
Rifa (24), seorang karyawan swasta di Jakarta, mengungkapkan bahwa pusat perbelanjaan masih menjadi pilihan utamanya saat berkumpul dengan teman-teman. Cuaca panas di ibu kota sering kali menjadi alasan mengapa tempat ber-AC lebih dipilih. “Biasanya lebih pilih di mall karena lebih banyak pilihan tempat makan atau cafe buat nongkrong, dan bisa window shopping juga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa fasilitas yang lengkap membuat pengunjung tidak perlu repot mempersiapkan banyak hal dari rumah.
Rifa juga mencatat bahwa meskipun nyaman, nongkrong di mal memiliki risiko tersendiri. “Kekurangan nongkrong di mall jadi lebih impulsif untuk beli sesuatu terus malah jadi boros,” keluhnya. Ia mengakui bahwa biaya juga menjadi pertimbangan saat memilih tempat nongkrong, menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Meskipun Rifa tertarik untuk menghabiskan waktu di taman, ia memiliki kriteria tertentu, seperti adanya pohon rindang dan kondisi taman yang bersih.
Taman Sebagai Alternatif Hemat untuk Bersosialisasi
Di sisi lain, Zulfa (22), yang juga seorang karyawan swasta, melihat taman sebagai solusi cerdas untuk bersosialisasi tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Meskipun ia juga menghabiskan waktu di mal untuk berbelanja, interaksi sosial yang lebih nyaman sering kali dilakukan di ruang terbuka. “Tapi kalau nongkrong buat ngobrol sama teman aja aku lebih suka taman, karena bisa duduk gratis,” ungkapnya.
Zulfa menekankan bahwa faktor ekonomi sangat berperan dalam pergeseran kebiasaan ini. “Sesimpel karena taman itu gratis aja sih. In this economy, kalau bisa menghemat pengeluaran yang enggak perlu, kenapa enggak?” ujarnya. Ia juga mencatat bahwa taman sering kali dikelilingi oleh pedagang makanan dengan harga yang lebih terjangkau.
Perubahan gaya nongkrong ini dirasakannya sejak masa kuliah, di mana ia lebih sering mencari tempat seperti perpustakaan dan ruang publik untuk mengerjakan tugas. “Makin ke sini kita lebih sering ke Taman Ismail Marzuki, terutama ke perpusnya, buat menikmati fasilitas yang gratis tanpa harus merasa bersalah stay di situ berjam-jam lamanya,” jelasnya.
Pentingnya Fasilitas dan Aktivitas di Taman
Sosiolog dan dosen di Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, menjelaskan bahwa pilihan anak muda ini mencerminkan kondisi fasilitas kota. Ia menegaskan bahwa daya tarik mal terletak pada integrasi fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai kelompok usia, terutama anak muda. “Mal memang menawarkan banyak hal dalam satu tempat,” katanya.
Di sisi lain, tidak semua taman dapat bersaing dalam hal kenyamanan. “Terkadang taman itu panas dan tempat duduknya terbatas, toiletnya juga belum tentu ada,” lanjut Sry. Ia menyarankan agar penataan ruang terbuka hijau tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus ada aktivitas yang menarik untuk masyarakat.
“Menghidupkan taman ini membuat suasana lebih nyaman dan pengunjung tidak takut menikmati waktu sendirian. Akan berbeda antusiasnya dengan taman yang hanya dihiasi rumput tanpa ada aktivitas lainnya,” tutupnya. Sry juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan komunitas untuk menciptakan ruang terbuka yang inklusif dan berfungsi dengan baik.