Kesehatan

Dampak Tidur Tidak Teratur terhadap Kesehatan Jantung: Temuan dari Penelitian 10 Tahun

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa tidur pada jam yang tidak konsisten dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, terutama bagi mereka yang berusia antara 40 hingga 60 tahun.

M
Maria Gabriella
06 July 2026 56 pembaca
Dampak Tidur Tidak Teratur terhadap Kesehatan Jantung: Temuan dari Penelitian 10 Tahun
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa tidur yang cukup dan berkualitas sudah cukup untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa memiliki waktu tidur yang konsisten setiap malam juga sangat penting. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal BMC Cardiovascular Disorders dan menunjukkan bahwa individu berusia 40 hingga 60 tahun yang memiliki pola tidur yang tidak teratur berisiko lebih tinggi mengalami masalah jantung dibandingkan dengan mereka yang tidur pada waktu yang sama setiap malam.

Laura Nauha, PhD, peneliti pascadoktoral di University of Oulu, menyatakan bahwa keteraturan dalam waktu tidur memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan jantung. "Kami menemukan bahwa keteraturan waktu tidur, khususnya jam mulai tidur, mungkin penting untuk kesehatan jantung. Hal ini mencerminkan ritme kehidupan sehari-hari dan seberapa besar ritme tersebut berubah," jelasnya.

Studi yang Memantau Pola Tidur Selama 10 Tahun

Dalam penelitian ini, para peneliti mengamati pola tidur 3.231 peserta yang semuanya berusia 46 tahun saat penelitian dimulai. Jam tidur dan waktu bangun mereka dicatat untuk mengetahui pola tidur yang diikuti. Selama periode 10 tahun, peneliti memantau kondisi kesehatan peserta melalui rekam medis. Dari jumlah tersebut, 128 peserta mengalami kejadian kardiovaskular serius, termasuk angina tidak stabil, stroke, gagal jantung, hingga kematian akibat penyakit jantung.

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti indeks massa tubuh (BMI) dan kadar kolesterol, peneliti menemukan bahwa peserta dengan jam tidur yang tidak konsisten memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah jantung. Risiko tersebut bahkan meningkat hingga dua kali lipat pada mereka yang memiliki jadwal tidur yang tidak teratur dan tidur kurang dari delapan jam setiap malam. Menariknya, penelitian ini tidak menemukan hubungan yang sama terkait variasi waktu bangun tidur.

Pentingnya Konsistensi dalam Jam Tidur

Penelitian selama 10 tahun ini menunjukkan bahwa tidur pada waktu yang berbeda setiap malam dapat meningkatkan risiko gangguan jantung pada orang berusia 40 hingga 60 tahun, meskipun durasi tidurnya sudah mencukupi. Sudha Tallavajhula, MD, seorang spesialis neurofisiologi dan kedokteran tidur di UTHealth Houston, menjelaskan bahwa tubuh berfungsi mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh selama sekitar 24 jam. Ritme ini tidak hanya menentukan kapan seseorang merasa mengantuk atau terbangun, tetapi juga mengatur perubahan hormon, irama jantung, dan tekanan darah.

Grant Bailey, MD, seorang ahli jantung di South Denver Cardiology, menambahkan bahwa kebiasaan mengubah jam tidur dapat mengganggu ritme biologis tersebut. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan hormon stres dan adrenalin, yang pada gilirannya mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah. Selain itu, perubahan hormon lapar juga dapat membuat seseorang lebih cenderung memilih makanan yang kurang sehat. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi, yang pada akhirnya memberikan beban tambahan bagi jantung.

Tallavajhula juga menjelaskan bahwa saat tidur, tubuh mengalihkan energinya dari aktivitas seperti bergerak dan mencerna makanan ke proses pemulihan, pengaturan hormon, serta konsolidasi memori. "Kurang tidur membuat jantung terus berada dalam kondisi tertekan dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk pulih. Kini kita memahami bahwa tiga aspek tidur, yaitu kualitas, durasi, dan waktu tidur, sama pentingnya," tuturnya.

Tips untuk Membangun Kebiasaan Tidur yang Baik

Para ahli menyatakan bahwa membangun jadwal tidur yang konsisten tidak selalu mudah, terutama di era digital saat ini. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu membentuk kebiasaan tersebut. Samantha Benin, MD, seorang ahli jantung, merekomendasikan untuk menerapkan kebersihan tidur, seperti menyediakan waktu untuk menenangkan diri sebelum tidur, menghindari media sosial dan televisi, serta menciptakan suasana kamar tidur yang nyaman dengan meminimalkan cahaya dan gangguan dari luar.

Bailey juga menyarankan agar seseorang mulai bersantai setidaknya satu jam sebelum waktu tidur. Ia menganjurkan untuk menghindari kafein, olahraga, atau aktivitas yang terlalu merangsang selama periode tersebut agar tubuh memiliki waktu untuk mempersiapkan diri beristirahat. Jika seseorang masih merasa terjaga setelah 10 hingga 15 menit berbaring, Tallavajhula menyarankan untuk bangkit sejenak dan melakukan aktivitas yang tenang, seperti membaca, hingga rasa kantuk kembali muncul. Dengan cara ini, otak akan belajar mengaitkan tempat tidur sebagai tempat khusus untuk tidur, bukan untuk tetap terjaga.

Artikel Terkait