Kesehatan

Dampak Negatif Self-Diagnosis pada Kesehatan Remaja

Penggunaan kecerdasan buatan dalam diagnosis kesehatan oleh anak muda berpotensi mengurangi kepatuhan terhadap saran medis dari dokter. Hal ini menciptakan tantangan baru dalam pelayanan kesehatan.

L
Luthfi Zaki Maulana
14 May 2026 10 pembaca
Dampak Negatif Self-Diagnosis pada Kesehatan Remaja
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dan mesin pencari untuk tujuan medis telah memberikan dampak signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Akses informasi yang mudah melalui perangkat digital perlahan-lahan mengubah cara pasien berinteraksi dengan tenaga medis di ruang periksa. Banyak pasien yang menggunakan hasil diagnosis dari algoritma, seperti yang diperoleh melalui ChatGPT dan Gemini, sebagai argumen untuk menolak atau mengabaikan rekomendasi dari dokter yang merawat mereka.

Ketidakpatuhan Pasien Terhadap Rekomendasi Medis

Ketua Peneliti dan Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyatakan, "Di sini teman-teman, kita lihat pathway hasil self-diagnostic itu enggak akan ke mana-mana, berakhir dengan pengabaian rekomendasi dokter," dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). Banyak anak muda yang terbiasa mencari informasi mengenai gejala di internet datang ke klinik bukan untuk memeriksakan keluhan mereka, melainkan untuk menuntut dokter mengonfirmasi diagnosis yang telah mereka buat sendiri.

Ray menambahkan, "Pas mereka datang, mereka akan ngomong bahwa, setengah dari mereka itu akan ngomong, 'Saya sudah punya hasil diagnosis dari ChatGPT'. Dan ini sering banget saya dengar dari teman-teman saya." Masalah ini semakin rumit ketika tenaga medis mengonfirmasi bahwa gejala yang dirasakan pasien memang sesuai. Namun, alih-alih mengikuti langkah pengobatan yang direkomendasikan, pasien sering kali merasa cukup dengan tebakan dari kecerdasan buatan dan mengabaikan resep yang diberikan.

Risiko Swamedikasi di Kalangan Masyarakat Urban

Ray mengungkapkan bahwa 27 persen pasien cenderung mengabaikan resep dan rekomendasi dari tenaga kesehatan. "Tinggi enggak? 27 persen kecil, tapi ini tiga dari 10, lho. Dari 100 orang, ada 27 orang," ujarnya. Ironisnya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada mereka yang kurang informasi. Studi HCC menunjukkan bahwa masalah ini lebih umum di kalangan masyarakat urban dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang baik. Survei yang melibatkan 448 responden berusia di bawah 39 tahun menunjukkan bahwa 25 persen di antaranya adalah lulusan S2 ke atas.

Dari segi finansial, 61 persen responden memiliki penghasilan di atas UMR, sementara 17 persen lainnya mendapatkan gaji lebih dari Rp 10 juta per bulan. Sebanyak 75 persen dari partisipan ini tinggal di lima kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Kelompok yang mapan ini sering kali memiliki kepercayaan diri yang berlebihan, yang dapat menyebabkan penyimpangan dari prosedur medis yang benar. Mereka merasa bebas untuk melakukan swamedikasi, bahkan membeli obat keras tanpa pengawasan medis.

"Apesnya, dia ke warung beli obat atau beli antibiotik. ChatGPT udah bilang, 'Anda infeksi paru'. Biasanya infeksi paru menggunakan antibiotik dosis tinggi," ungkap Ray. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pasien menjalani pengobatan mandiri tanpa bimbingan dokter.

Keputusan untuk mengabaikan saran dari tenaga kesehatan sangat dipengaruhi oleh gaya hidup perkotaan yang serba cepat. Dengan internet yang menyediakan jawaban instan, prosedur layanan kesehatan konvensional sering kali dianggap sebagai proses yang memakan waktu dan biaya. "Sebanyak 53,7 responden mengatakan bahwa, kenapa milih diagnosis sendiri dan tidak ke faskes atau ke dokter? Karena satu, ya lebih praktis. Apalagi ketika ke dokter, 57 persen mengatakan (hasil pencarian dari AI) bener kok," jelas Ray.

Jika situasi ini dibiarkan, kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi justru dapat menjadi ancaman bagi keselamatan pasien, karena intervensi medis yang diperlukan mungkin terlambat diberikan.

Artikel Terkait