Banyak orang memulai hari mereka dengan secangkir kopi atau teh. Namun, asupan kafein harian mungkin memiliki dampak yang lebih signifikan daripada sekadar membangunkan tubuh, khususnya terkait kesehatan tulang. Penelitian berjudul "Longitudinal Association of Coffee and Tea Consumption with Bone Mineral Density in Older Women: A 10-Year Repeated-Measures Analysis in the Study of Osteoporotic Fractures" yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients (2025) membahas hal ini. Riset yang melibatkan 9.704 wanita pascamenopause berusia di atas 65 tahun selama sepuluh tahun ini menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi teh berkaitan dengan peningkatan kepadatan tulang. Sebaliknya, mereka yang mengonsumsi kopi lebih dari lima cangkir sehari mengalami penurunan kepadatan tulang.
Teh dan Kesehatan Tulang
Melissa Prest, D.C.N., R.D.N., seorang juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, menyatakan bahwa hasil penelitian ini memberikan kabar baik bagi penggemar teh, tetapi tidak sepenuhnya buruk bagi pencinta kopi. "Hal terpenting yang bisa diambil adalah teh tampaknya sejalan dengan kesehatan tulang yang baik pada wanita paruh baya, sedangkan konsumsi kopi yang wajar tidak terlihat sebagai masalah besar bagi kepadatan mineral tulang," ujarnya.
Konsumsi Kopi dalam Batasan Aman
Konsumsi kopi dalam jumlah moderat tidak menunjukkan dampak negatif pada kesehatan tulang. Penurunan kepadatan mineral tulang baru terlihat pada partisipan yang mengonsumsi minimal lima cangkir kopi setiap hari. Namun, Prest mengingatkan agar temuan ini tidak dianggap sebagai bukti definitif bahwa asupan kopi tinggi menyebabkan hilangnya kepadatan tulang. "Temuan tersebut harus dianggap sebagai sinyal untuk penelitian lebih lanjut alih-alih bukti bahwa asupan kopi yang tinggi menyebabkan hilangnya kepadatan tulang," tegasnya.
Untuk mereka yang rutin mengonsumsi teh, penelitian ini mengonfirmasi bahwa kebiasaan tersebut aman. "Bagi seseorang yang menikmati teh, studi ini memberikan alasan tambahan untuk merasa senang memasukkan teh tanpa pemanis sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan," tambah Prest. Daniel Wiznia, M.D., profesor madya ortopedi di Yale School of Medicine, juga mencatat bahwa meskipun ada hubungan positif antara konsumsi teh dan kepadatan tulang, peningkatannya sangat kecil. "Apa yang ditunjukkan studi ini adalah adanya kaitan positif yang sangat kecil antara kebiasaan minum teh dan kepadatan tulang. Namun, meski secara statistik terbilang signifikan, hal itu belum tentu menjadi peningkatan yang bermakna secara klinis," ujarnya.
Pola Makan Sehat untuk Kesehatan Tulang
Kunci utama dalam menjaga kesehatan tulang adalah pola makan yang seimbang, termasuk konsumsi buah, sayuran, serta makanan yang kaya akan kalsium dan vitamin D. Semua ini berkontribusi untuk mempertahankan kepadatan tulang. "Tulang membutuhkan nutrisi yang memadai, termasuk kalsium, vitamin D, dan protein, untuk mempertahankan strukturnya dan mendukung proses perombakan tulang secara normal," jelas Prest. Kalsium dapat diperoleh dari susu, yogurt, dan tahu, sedangkan vitamin D bisa didapat dari telur, sarden, atau ikan. Sumber protein yang baik termasuk kacang-kacangan, lentil, kedelai, dan biji-bijian. Latihan fisik juga sangat penting untuk mencegah pengeroposan tulang.
Prest menekankan bahwa tulang bereaksi terhadap beban mekanis, dan menjaga massa otot sangat membantu mengurangi risiko terjatuh serta patah tulang. Namun, ia juga mengingatkan bahwa orang yang rutin minum teh mungkin memiliki perbedaan dalam faktor lain yang memengaruhi kesehatan tulang. "Pada akhirnya, teh sekadar pelengkap pola hidup sehat. Jangan minum teh hanya karena kamu berpikir itu bisa mencegah osteoporosis. Minumlah karena kamu menyukainya dan karena minuman itu cocok dengan pola makan sehatmu," tutup Prest.