Kesehatan

Belanja Barang Kecil: Merawat Diri di Tengah Kesulitan Ekonomi

Membeli barang-barang kecil seperti lipstik atau aksesori dapat memberikan rasa lega dan syukur di tengah tekanan ekonomi yang meningkat. Bagi sebagian orang, hal ini bukan hanya tentang memenuhi kein...

M
Mikayla Rahmadani
28 July 2026 2 pembaca
Belanja Barang Kecil: Merawat Diri di Tengah Kesulitan Ekonomi
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com – Sebuah lipstik baru, sepasang anting, atau peralatan rumah tangga yang sudah lama diinginkan mungkin terlihat seperti pembelian biasa. Meskipun nilainya tidak selalu besar dan sering kali harus dibeli dengan menabung sedikit demi sedikit, bagi sebagian orang, barang-barang sederhana tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan berbagai tekanan yang datang silih berganti, berhasil membeli sesuatu yang diinginkan dapat memberikan rasa lega dan syukur, serta menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk menghargai diri sendiri. Ini bukan hanya tentang memenuhi keinginan, melainkan juga merayakan pencapaian kecil yang diperoleh melalui usaha.

Menabung untuk Memanjakan Diri Sendiri

Widya (24), seorang ibu rumah tangga dari Surabaya, berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli barang yang diinginkannya. Meskipun kondisi ekonomi mengharuskan pengeluaran diatur dengan cermat, ia tetap mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan yang bisa membuatnya bahagia. Untuk membeli produk makeup atau aksesori yang harganya tidak lebih dari Rp 200.000, ia harus menabung dari uang bulanan yang dimilikinya. "Aku pribadi masih menyisihkan uang untuk beli produk perawatan tubuh atau aksesoris yang aku inginkan. Bahkan untuk beli peralatan rumah tangga juga aku cicil uangnya," ungkap Widya saat dihubungi.

Bagi Widya, membeli barang yang diinginkan bukan berarti mengabaikan kebutuhan keluarga. Keputusan itu diambil setelah memastikan kebutuhan utama telah diprioritaskan. "Biasanya ketika awal bulan, aku sudah bagi-bagikan uang untuk nabung, kebutuhan pokok, dan tabung uang untuk beli keinginanku, harapannya supaya enggak mengganggu keuangan keluarga untuk yang lebih penting," jelasnya. Perencanaan tersebut membuat setiap pembelian terasa lebih bermakna. Ia tidak membeli sesuatu secara impulsif, melainkan menunggu hingga tabungan yang disisihkan benar-benar cukup. "Beli barang yang aku inginkan itu penting, karena seperti menghadiahi diriku sendiri. Apalagi aku selalu pastikan barang yang aku inginkan itu memang dibutuhkan dan untuk manfaat jangka panjang,” tambahnya.

Makna di Balik Pembelian Sederhana

Widya percaya bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari barang-barang mewah atau mahal. Justru, barang-barang sederhana yang berhasil dibeli setelah melalui proses menabung memberikan kepuasan tersendiri. "Barangnya itu memang kecil dan harganya juga mungkin tidak terlalu mahal. Tapi rasanya senang, karena apa yang aku inginkan bisa kebeli meskipun harus pelan-pelan menabung,” jelasnya. Perasaan tersebut bahkan berkembang menjadi rasa syukur. Setiap kali berhasil membeli perlengkapan rias atau aksesori yang disukai, ia merasa memiliki semangat baru untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi Widya, kemewahan bukan selalu identik dengan harga yang tinggi. Kemewahan justru hadir ketika sesuatu yang sebelumnya terasa sulit akhirnya dapat diwujudkan melalui kesabaran dan pengelolaan keuangan yang disiplin. "Kemewahan sederhana itu ketika aku bisa beli barang yang sudah aku dambakan, padahal sebelumnya merasa enggak mungkin kebeli. Setelah berhasil tercapai, rasanya puas banget,” tuturnya.

Merawat Diri sebagai Bentuk Ketahanan Mental

Dr. Esther Widhi Andangsari, M.Si., Psikolog dari BINUS University, menjelaskan bahwa situasi hidup yang penuh tekanan dapat mengubah cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan. Ketika tantangan ekonomi meningkat, banyak orang menjadi lebih fokus pada kebutuhan masing-masing sehingga perhatian dari orang lain terasa semakin terbatas. "Memang hidup di situasi serba menekan itu orang akan semakin kompetitif. Manusia hanya akan fokus pada dirinya sendiri sehingga kemungkinan untuk orang lain memperhatikan kita itu menjadi kecil sekali,” terangnya. Menurutnya, perubahan ini membuat perhatian dan kepedulian dari orang lain menjadi sesuatu yang semakin berharga. "Perubahan perilaku ini membuat perhatian atau kepedulian orang lain terhadap diri kita itu menjadi sesuatu yang 'mahal',” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, penting bagi seseorang untuk belajar memberikan perhatian kepada dirinya sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membeli barang yang telah lama diinginkan, selama keputusan tersebut diambil secara sadar dan sesuai kemampuan. "Membeli barang yang lama didambakan itu bisa jadi salah satu cara yang baik untuk memberikan self-compassion buat diri sendiri,” imbuh Esther. Tindakan tersebut bukan sekadar memenuhi keinginan, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri yang tetap mampu bertahan di tengah berbagai keterbatasan. Menurutnya, rasa senang yang muncul dari pembelian sederhana dapat menjadi pengingat bahwa seseorang masih mampu memberikan perhatian kepada dirinya sendiri.

Esther menambahkan, "Bagaimana seseorang memperhatikan dirinya sendiri di tengah keterbatasan, sehingga membeli barang kecil tersebut terasa menjadi little luxury karena bisa menghibur diri sendiri.” Ketika dukungan dari lingkungan tidak selalu mudah didapat, bentuk kepedulian kecil terhadap diri sendiri dapat membantu membangun ketahanan mental untuk menghadapi tekanan hidup. Di tengah situasi yang serba menekan, mungkin bukan besar kecilnya harga sebuah barang yang paling berarti, melainkan makna yang menyertainya, yaitu rasa syukur karena masih memiliki kesempatan untuk merawat diri, walau melalui kemewahan yang sangat sederhana.

Artikel Terkait