Kesehatan

Apakah Berjalan Tanpa Alas Kaki Dapat Mencegah Virus? Ini Penjelasannya

Aktivitas berjalan tanpa alas kaki atau grounding belum terbukti efektif dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau mencegah infeksi virus, menurut penjelasan seorang ahli dari IPB University.

M
Maria Gabriella
15 September 2026 52 pembaca
Apakah Berjalan Tanpa Alas Kaki Dapat Mencegah Virus? Ini Penjelasannya
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Beraktivitas tanpa mengenakan alas kaki, yang dikenal sebagai grounding atau earthing, kini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun, metode ini belum dapat dianggap sebagai cara yang efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau mencegah infeksi virus, menurut dr. Widya Eka Nugraha, seorang dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University.

Dr. Widya menekankan bahwa klaim tersebut harus diperiksa dengan cermat berdasarkan bukti ilmiah dan prinsip-prinsip biomedik. "Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus," jelasnya.

Penelitian Awal dan Keterbatasan

Ia menjelaskan bahwa beberapa penelitian awal menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara grounding dengan faktor-faktor seperti stres oksidatif, inflamasi, nyeri, kualitas tidur, dan aktivitas sistem saraf otonom. Namun, dr. Widya menegaskan bahwa penelitian yang ada umumnya masih terbatas, memiliki masalah metodologis, dan belum ada replikasi yang konsisten oleh peneliti independen. "Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti pendahuluan, bukan dasar untuk menjadikan grounding sebagai terapi infeksi virus," tuturnya.

Pentingnya Memahami Efektivitas Klinis

Dr. Widya juga menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk membedakan antara plausibilitas biologis dan efektivitas klinis. "Suatu mekanisme dapat masuk akal secara biologis, tetapi efektivitas klinis harus dibuktikan melalui uji klinis acak, kelompok kontrol yang tepat, pengukuran objektif, dan replikasi penelitian," ungkapnya. Meskipun secara biologis, kontak kulit dengan permukaan bumi dapat memungkinkan pertukaran muatan dalam jumlah kecil, belum ada bukti yang cukup bahwa elektron yang berpindah dapat bertindak sebagai antioksidan atau mengubah respons imun secara klinis.

Manfaat yang dirasakan saat melakukan grounding juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti aktivitas berjalan, paparan cahaya alami, udara segar, relaksasi, suasana alam, dan efek plasebo.

Dalam menghadapi virus, tubuh memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks. Sistem imun bawaan mengenali komponen virus dan memicu interferon serta sitokin untuk menghambat replikasi. Sel natural killer dan makrofag berperan dalam membatasi penyebaran infeksi. Imunitas adaptif juga berperan melalui antibodi dari limfosit B serta limfosit T yang mengoordinasikan dan menghancurkan sel yang terinfeksi. Respons ini perlu seimbang, karena respons yang terlalu lemah atau inflamasi berlebihan dapat merugikan.

"Belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, viral load, lama infeksi, rawat inap, atau kematian. Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi," tegasnya.

Dr. Widya menambahkan bahwa grounding tetap bisa dilakukan sebagai aktivitas rekreasi dan relaksasi selama dilakukan dengan aman, tetapi bukan sebagai pengganti intervensi medis. Pencegahan infeksi tetap mengandalkan vaksinasi, ventilasi yang baik, kebersihan tangan, etika batuk, penggunaan masker pada situasi berisiko, serta pemeriksaan dan terapi yang sesuai.

Bagi masyarakat di perkotaan, menikmati alam dan berjalan santai bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tanpa mengaitkannya secara otomatis dengan kemampuan untuk mencegah atau menyembuhkan infeksi virus. "Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman," tambahnya.

Artikel Terkait