Kesehatan

AIMI Dorong Kampanye Menyusui Berlanjut Hingga Usia Dua Tahun

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengajak agar kampanye menyusui tidak hanya berhenti pada ASI eksklusif selama enam bulan, melainkan juga mendukung keberlanjutan menyusui hingga anak berusia du...

M
Maria Gabriella
29 July 2026 55 pembaca
AIMI Dorong Kampanye Menyusui Berlanjut Hingga Usia Dua Tahun
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menginginkan agar dukungan dan kampanye menyusui tidak berhenti pada pesan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. AIMI berpendapat bahwa narasi publik mengenai menyusui harus diperluas, karena perlindungan serta dukungan untuk ibu menyusui seharusnya berlanjut hingga anak mencapai usia dua tahun atau lebih. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum AIMI Pusat Nia Umar dan Divisi Advokasi AIMI Pusat Gina Sabrina, yang akrab disapa Monik, dalam konferensi pers Pekan Menyusui Dunia 2026 yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (29/7/2026).

Perluasan Narasi Menyusui

Menurut AIMI, meskipun pesan tentang ASI eksklusif selama enam bulan sangat penting, hal tersebut tidak seharusnya menjadi akhir dari kampanye menyusui. Monik menjelaskan bahwa saat ini masih ada kesenjangan antara regulasi dan implementasi dukungan terhadap ibu menyusui. Ia mengungkapkan, "Intervensi maupun narasi kampanye publik yang dilakukan oleh pemerintah itu hanya berhenti di angka enam bulan pertama." Monik mencontohkan poster yang sering terlihat di fasilitas kesehatan, yang biasanya hanya mengajak ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Ia menilai, meskipun pesan tersebut benar, namun belum mencakup keseluruhan dukungan untuk keberlanjutan menyusui.

Dukungan Lintas Sektor

AIMI mendorong pemerintah untuk menyusun ulang narasi kampanye menyusui agar tidak hanya berfokus pada ASI eksklusif selama enam bulan, tetapi juga mendorong ibu untuk melanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih. Monik menekankan pentingnya penyusunan ulang narasi tersebut untuk memperkuat perlindungan bagi ibu menyusui dan mengurangi stigma di masyarakat. Ia berbagi pengalamannya saat menyusui anak hingga berusia dua setengah tahun, di mana ia sering mendapatkan komentar dari orang-orang sekitar yang mempertanyakan keputusan tersebut.

Lebih lanjut, AIMI menegaskan bahwa perlindungan terhadap ibu menyusui adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, kementerian, lembaga terkait, dan pemerintah daerah. Monik menyatakan, "Semua stakeholder itu harus mencoba menyusun ulang narasi terhadap perlindungan ibu menyusui." AIMI juga menekankan pentingnya dukungan dalam kebijakan dan implementasi di berbagai lingkungan, termasuk tempat kerja, untuk membantu ibu yang kembali bekerja dalam proses menyusui.

Ketua Umum AIMI Pusat Nia Umar menekankan bahwa keberhasilan menyusui memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa ibu menyusui tidak bisa menjalani proses ini sendirian, melainkan memerlukan dukungan dari pasangan, keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, media, akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. AIMI terus berupaya memberikan edukasi berbasis bukti, mendampingi ibu menyusui, serta melakukan advokasi untuk kebijakan publik yang mendukung perlindungan ibu menyusui.

Nia menambahkan bahwa penting untuk terus menyampaikan pesan mengenai menyusui agar informasi yang benar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan demikian, AIMI berharap dukungan terhadap ibu menyusui tidak hanya berfokus pada keberhasilan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, tetapi juga berlanjut hingga anak berusia dua tahun atau lebih.

Artikel Terkait