Mendengkur saat tidur mungkin dianggap hal yang biasa bagi anak, terutama ketika mereka mengalami pilek atau hidung tersumbat. Namun, jika dengkuran terjadi secara konsisten dan terdengar keras, orangtua sebaiknya memperhatikan pola tidur anak dengan lebih serius. Dengkuran terjadi ketika aliran udara terhambat melalui hidung dan tenggorokan saat tidur, yang menyebabkan jaringan di saluran napas bagian atas bergetar saat bernapas, menghasilkan suara dengkuran.
Menurut Dr. Gopal Agrawal, Direktur Departemen Pediatri dan Neonatologi di Cloudnine Group of Hospitals, kondisi ini bisa disebabkan oleh hidung tersumbat akibat pilek, alergi, atau infeksi. Ia menjelaskan, “Dengkuran terjadi ketika udara tidak dapat bergerak bebas melalui hidung dan tenggorokan saat tidur. Ketika anak bernapas, jaringan di saluran napas bagian atas dapat bergetar dan menghasilkan suara dengkuran.”
Dengkuran Sementara vs. Dengkuran Teratur
Dengkuran yang muncul sesekali biasanya tidak menunjukkan masalah kesehatan yang serius. Anak mungkin mendengkur saat pilek, mengalami alergi, atau setelah beraktivitas berat. Posisi tidur tertentu juga dapat menyebabkan dengkuran. Jika suara dengkuran hilang setelah pilek atau hidung tersumbat membaik, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, orangtua harus memperhatikan frekuensi, volume suara dengkuran, serta kondisi anak pada siang hari.
Jika dengkuran terjadi setiap malam, terutama jika terdengar hingga ke ruangan lain, ini bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur. Orangtua perlu mengamati apakah anak mengalami jeda napas saat tidur, terbangun dengan suara tersedak, terengah-engah, atau mendengus. Anak juga bisa tidur gelisah dan sering berganti posisi. Gejala lain yang perlu dicatat termasuk bernapas melalui mulut saat tidur, berkeringat berlebihan di malam hari, sakit kepala saat bangun, kesulitan untuk dibangunkan, serta mengantuk dan lelah di siang hari. Perubahan perilaku, seperti kesulitan berkonsentrasi atau mudah marah, juga bisa terjadi pada beberapa anak.
Pentingnya Memperhatikan Jeda Napas
Pola mendengkur yang disertai jeda napas harus diwaspadai karena dapat berhubungan dengan obstructive sleep apnoea (OSA) atau apnea tidur obstruktif. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas tersumbat sebagian atau sepenuhnya saat anak tidur. Dr. Agrawal menjelaskan, “Sumbatan tersebut dapat membuat pernapasan berhenti sementara dan berulang kali sepanjang malam.” Akibatnya, kualitas tidur anak bisa terganggu, yang berdampak pada energi, perhatian, dan perilaku mereka di siang hari.
Salah satu penyebab umum gangguan pernapasan saat tidur pada anak adalah pembesaran amandel atau adenoid. Adenoid terletak di belakang hidung, sedangkan amandel berada di belakang tenggorokan. Ketika jaringan ini membesar, ruang yang dilalui udara menjadi lebih sempit, yang dapat menyebabkan anak mendengkur atau bernapas melalui mulut. Tidak semua anak yang mendengkur memerlukan pengobatan, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.
Jika penyebabnya adalah alergi atau hidung tersumbat, penanganan yang tepat dapat membantu memperbaiki pernapasan. Namun, jika dengkuran terjadi secara rutin disertai jeda napas, suara terengah-engah, tidur terganggu, atau perubahan perilaku di siang hari, orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak. Dalam kasus tertentu, pemeriksaan tidur mungkin diperlukan untuk memantau pernapasan, kadar oksigen, denyut jantung, dan kondisi lain saat anak tidur. Jika anak mengalami kesulitan bernapas, jeda napas yang berkepanjangan, atau perubahan warna pada bibir atau wajah, segera cari pertolongan medis.