Kesehatan

Waspadai Bahaya Mengandalkan Tukang Urut untuk Mengobati Patah Tulang Anak

Banyak orang masih mempercayakan pengobatan patah tulang kepada tukang urut, namun tindakan ini berisiko tinggi, terutama bagi anak-anak.

D
Danendra Surya
01 July 2026 39 pembaca
Waspadai Bahaya Mengandalkan Tukang Urut untuk Mengobati Patah Tulang Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Tukang urut atau dukun patah masih menjadi pilihan bagi sebagian orang dalam mengatasi patah tulang atau retak. Namun, cara ini menyimpan risiko yang perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak. Dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan komplikasi yang dampaknya bisa berlanjut hingga anak dewasa.

Ia menjelaskan bahwa ujung tulang yang patah biasanya memiliki bentuk tajam. Ketika bagian tersebut dipijat atau dimanipulasi, serpihan tulang dapat berpindah tempat dan berpotensi melukai saraf atau pembuluh darah yang berada dekat dengan lokasi patah. "Banyak sekali kasus dipijat-pijat. Karena patahnya biasanya tajam, kadang-kadang dia merobek sarafnya," ungkap dr. Gabriel, yang merupakan spesialis ortopedi anak dari RS Eka Hospital Cibubur.

Risiko Amputasi dan Komplikasi Serius

Selain berisiko merusak saraf, pijatan pada area patah tulang juga dapat mengakibatkan cedera pada pembuluh darah yang dapat berujung pada sindrom kompartemen. Menurut dr. Gabriel, kondisi ini terjadi ketika tekanan dalam otot meningkat sehingga menghambat aliran darah. Jika tidak segera ditangani, jaringan dapat mengalami kematian dan meningkatkan kemungkinan amputasi. "Kenapa kok berbahaya, karena salah satu risikonya adalah cedera pembuluh darah. Ujungnya amputasi," jelasnya.

Sindrom kompartemen termasuk salah satu komplikasi serius akibat pijatan pada patah tulang. Selain itu, tindakan memijat dapat menyebabkan malunion, yaitu tulang menyambung dalam posisi yang tidak tepat sehingga mengganggu fungsi gerak anak. "Jadi kalau dia nempel tulangnya salah, pertumbuhannya bisa salah. Bisa bengkok kakinya, bisa enggak sama panjang kakinya. Bahkan ujung-ujungnya itu pertumbuhannya bisa mati," tambah dr. Gabriel.

Pilihan Penanganan yang Tepat

Salah satu alasan mengapa orang tua masih memilih tukang urut adalah anggapan bahwa penanganan patah tulang di rumah sakit selalu melibatkan operasi besar. Namun, dr. Gabriel menegaskan bahwa penanganan ortopedi untuk anak-anak kini telah berkembang pesat. Prinsipnya adalah melakukan tindakan seminimal mungkin agar proses penyembuhan lebih cepat dengan luka yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

"Anak-anak itu berbeda sama orang dewasa. Anak-anak itu prinsipnya menangani seminimal mungkin. Jadi kalau pasang pen dulu pada anak itu lukanya panjang 12-15 senti, kalau sekarang lukanya kecil, bahkan enggak sampai 1 sentimeter. Hari ini operasi, besok sudah bisa pulang. Jadi, penanganan pada ortopedi pada bagian anak ini tidak semenakutkan zaman dulu," ungkapnya.

Tidak semua nyeri yang dialami anak setelah jatuh berarti patah tulang. Cedera tersebut juga bisa berupa retak tulang atau keseleo yang memerlukan penanganan berbeda. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak menebak jenis cedera yang dialami anak. "Untuk membedakannya yang pertama harus ke dokter ortopedi. Dia bisa menilai langsung dia patah atau enggak. Yang kedua, ada baiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, misalnya MRI, X-ray, atau yang lain untuk memastikan kerusakan lebih lanjut," pungkas dr. Gabriel.

Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat dengan tindakan yang lebih sederhana serta menghindari komplikasi jangka panjang.

Artikel Terkait