Peran atasan sangat krusial dalam membentuk pengalaman karyawan di tempat kerja. Cara mereka memberikan arahan, menyampaikan kritik, dan menghargai hasil kerja bawahan dapat berdampak besar pada kenyamanan serta kemajuan karier. Namun, tidak semua perilaku yang membuat karyawan merasa tidak nyaman dapat langsung dikategorikan sebagai toksik. Ada perbedaan antara pemimpin yang tegas dan atasan yang secara konsisten menunjukkan perilaku merugikan bagi tim. Menurut Dr. Paul Losoff, PsyD, seorang psikolog klinis dari Bedrock Psychology Group, atasan toksik cenderung tidak memperhatikan kesejahteraan atau perkembangan profesional karyawan. Tindakan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pengendalian yang berlebihan hingga kurangnya dukungan saat karyawan membutuhkannya.
Identifikasi Tanda Atasan Toksik
Ada beberapa tanda yang dapat membantu mengidentifikasi atasan yang berperilaku toksik. Pertama, seringnya kritik yang disampaikan tanpa memberikan masukan yang konstruktif. Kritik merupakan bagian penting dalam pekerjaan, namun jika hanya menyoroti kesalahan tanpa solusi, hal ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Atasan toksik cenderung menggunakan kritik untuk merendahkan karyawan atau mempertahankan kekuasaan mereka. Dr. Jolie Silva, PhD, menyatakan bahwa atasan toksik dapat memanfaatkan kekuasaannya untuk mengontrol karyawan melalui manipulasi atau perilaku intimidasi.
Kedua, perilaku mengambil kredit atas pekerjaan bawahan. Jika seorang karyawan telah bekerja keras pada suatu proyek tetapi atasan yang mendapatkan semua pujian, ini adalah tanda yang perlu diwaspadai. Atasan yang tidak mengakui kontribusi bawahannya dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai dan menghambat perkembangan karier mereka.
Kurangnya Penghargaan dan Micromanagement
Tanda lainnya adalah kurangnya penghargaan terhadap anggota tim. Hal ini bisa terlihat dari kebiasaan memotong pembicaraan, mengabaikan ide, atau tidak mempertimbangkan masukan dari karyawan. Jika perilaku ini terjadi secara konsisten, karyawan dapat merasa tidak dianggap penting dalam tim, yang pada gilirannya dapat menurunkan motivasi mereka.
Atasan yang terlalu sering melakukan micromanagement juga menjadi masalah. Meskipun pengawasan diperlukan, jika karyawan merasa tidak memiliki ruang untuk mengambil keputusan sendiri, hal ini dapat menciptakan ketidakpuasan di tempat kerja.
Pilih Kasih dan Tidak Mendengarkan Masukan
Atasan toksik juga sering menunjukkan perlakuan pilih kasih, di mana mereka memberikan perlakuan berbeda kepada anggota tim. Misalnya, beberapa karyawan mungkin mendapatkan proyek yang lebih menarik atau pujian berlebihan, sementara yang lain diabaikan. Ini dapat menciptakan persaingan yang tidak sehat dan membuat karyawan merasa terpinggirkan.
Selanjutnya, atasan yang tidak mau mendengarkan atau menerima masukan dari bawahannya juga merupakan tanda yang jelas. Mereka mungkin memiliki pola pikir "cara saya atau tidak sama sekali", yang menghalangi diskusi dan membuat karyawan enggan menyampaikan pendapat mereka.
Menangani Atasan Toksik
Jika karyawan menghadapi situasi dengan atasan toksik, langkah pertama yang bisa diambil adalah mendokumentasikan kejadian yang dianggap bermasalah. Catat tanggal, jenis perilaku, komunikasi yang terjadi, dan dampaknya terhadap pekerjaan. Dokumentasi ini dapat berguna jika masalah perlu dibahas dengan pihak sumber daya manusia atau atasan yang lebih tinggi.
Karyawan juga disarankan untuk menetapkan batasan yang jelas, terutama terkait komunikasi dan pekerjaan di luar jam kerja. Jika memungkinkan, bicarakan masalah secara profesional dengan atasan tanpa menyudutkan, fokus pada perilaku yang ingin diperbaiki.
Jika perilaku atasan sudah masuk ke ranah perundungan, pelecehan, atau diskriminasi, karyawan dapat mempertimbangkan untuk melaporkannya kepada HR atau pihak berwenang di perusahaan. Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, mempertimbangkan untuk berpindah tim atau mencari lingkungan kerja yang lebih baik bisa menjadi pilihan yang bijak. Yang terpenting, karyawan tidak boleh menganggap semua masalah di tempat kerja sebagai kegagalan pribadi, karena lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang dan dihargai atas kontribusinya.