JAKARTA - Aktivitas menggulir layar media sosial tanpa henti telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi banyak generasi muda. Meskipun memudahkan akses informasi dan memperluas jaringan sosial, penggunaan perangkat yang berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang tidak terlihat. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa tubuh dan pikiran mereka sudah mencapai batas toleransi terhadap informasi digital. "Dengan generasi Z yang 75 persen menggunakan media sosial, mereka itu sebetulnya stres dan juga cemas karena platform tersebut," ungkap seorang konselor kesehatan mental saat acara Lightplus Lightperience Picnic 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan.
Ciri-Ciri Kelelahan Digital
Berikut adalah beberapa tanda yang menunjukkan bahwa Anda mungkin sudah terlalu lama terjebak di dunia maya:
1. Munculnya Kecemasan Mendadak
Salah satu indikasi utama kelelahan digital adalah perasaan cemas yang muncul secara tiba-tiba. Hal ini sering dipicu oleh perubahan emosi yang cepat saat melihat berbagai postingan di media sosial, mulai dari berita bahagia hingga berita sedih dalam waktu singkat. Otak dipaksa untuk terus memproses informasi yang berubah-ubah. "Ketika kita misalnya menekan satu unggahan, ada teman nikah, senang. Tiba-tiba melihat berita yang tidak enak, hatinya langsung kesal atau sedih," jelasnya.
2. Kedutan di Wajah dan Rasa Mual
Dampak fisik dari kelelahan digital juga dapat terlihat melalui kedutan di area wajah dan rasa mual. "Secara fisik ada dampaknya. Semakin banyak menggunakan gawai, semakin kedutan. Jadinya melihat media sosial rasanya mual, marah, stres, atau membandingkan diri sendiri," tambahnya.
3. Rentang Perhatian yang Memendek
Stimulasi informasi yang cepat juga menyebabkan rentang perhatian seseorang semakin memendek, yang pada akhirnya mempengaruhi cara otak dalam mengambil keputusan.
4. Kesehatan Kulit yang Menurun
Kelelahan digital yang berujung pada stres memiliki dampak langsung terhadap kesehatan kulit wajah. Rasa tertekan akibat perbandingan dengan standar kehidupan di media sosial dapat memicu reaksi biologis yang merugikan kulit. "Stres itu, apa pun jenisnya, dia akan meningkatkan kortisol. Kortisol kan adalah sebuah hormon," jelas seorang dokter.
Peningkatan hormon stres ini membuat kelenjar minyak di bawah kulit bekerja lebih aktif, yang dapat menyebabkan penyumbatan pori-pori dan peradangan, terutama jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat. "Ketika kortisol itu meningkat, maka akan terjadi peningkatan sebum. Sebum itu ujung-ujungnya akan meningkatkan produksi dari jerawatnya," tambahnya.
Pentingnya Detoks Media Sosial
Seorang brand ambassador menyatakan bahwa melihat unggahan yang sangat terkurasi di dunia maya dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Lingkungan digital yang terisolasi memperburuk kondisi mental karena individu cenderung terjebak dalam pikiran mereka sendiri tanpa adanya validasi dari interaksi dunia nyata. "Apa yang kita ingin tunjukkan, apa yang kita sudah capai, tapi kita tidak bisa benar-benar tahu atau merasakan apa yang orang lain lewati," ujarnya.
Melepaskan diri sejenak dari perangkat digital menjadi langkah penting untuk meredakan kelelahan mental. Interaksi langsung dengan orang lain terbukti efektif dalam mengatasi stres. "Sebagai generasi Z, menurut aku burnout (digital) itu tidak bisa dihindari. Mau kita coba hindari seberapa pun, tiba-tiba tanpa kita sadar burnout itu muncul," tutupnya.