Kesehatan

Strategi Meningkatkan Konsentrasi Anak Sesuai Usia

Di tengah dunia yang serba cepat, anak-anak sering kali kesulitan untuk fokus. Berbagai cara dapat dilakukan untuk melatih konsentrasi mereka sesuai dengan tahapan usia.

J
Jonathan Michael Saputra
09 July 2026 68 pembaca
Strategi Meningkatkan Konsentrasi Anak Sesuai Usia
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kondisi saat ini yang serba instan membuat anak-anak terbiasa dengan hiburan yang datang dengan cepat. Dengan hanya satu ketukan pada layar, berbagai animasi dan suara menarik langsung muncul. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi masalah ketika mereka harus duduk tenang di sekolah atau menyelesaikan tugas yang memerlukan kesabaran. Ketika anak-anak sering mendapatkan kepuasan instan, aktivitas yang membutuhkan waktu lebih lama, seperti membaca, bisa membuat mereka mudah menyerah. Lantas, bagaimana cara meningkatkan konsentrasi mereka di tengah berbagai gangguan?

Becky Kennedy, PhD, seorang psikolog klinis dan pendiri Good Inside, menjelaskan bahwa inti dari rentang perhatian anak terletak pada seberapa besar toleransi mereka terhadap rasa frustrasi. "Anak-anak tidak dapat bertahan pada hal-hal yang sulit jika mereka belum belajar bahwa rasa frustrasi dapat diatasi," ungkapnya.

Pemahaman Tentang Perkembangan Fokus Anak

Menurut Anna Malia Beckwith, M.D., seorang pakar perkembangan dan perilaku anak, kemampuan fokus sangat dipengaruhi oleh kematangan otak. Bagian lobus frontal dan parietal yang bertanggung jawab atas pengendalian perhatian baru akan sepenuhnya berkembang ketika seseorang memasuki usia pertengahan 20-an. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar jika anak-anak kecil memiliki rentang perhatian yang pendek.

Dokter Beckwith juga mengingatkan orang tua agar tidak mengharapkan anak-anak, terutama balita, memiliki tingkat konsentrasi yang sama dengan orang dewasa, karena kemampuan memori dan emosi mereka masih dalam tahap perkembangan. Carina Fischer, seorang guru sekolah menengah dan pembuat konten, menambahkan bahwa kesulitan dalam mempertahankan fokus dapat berdampak pada aspek emosional anak sehari-hari. "Secara emosional, ketika anak merasa kewalahan atau terstimulasi berlebihan, perhatian sering kali menjadi hal pertama yang terganggu," jelasnya.

Dampak Penggunaan Gawai Terhadap Anak

Pola komunikasi dan cara orang tua memperlakukan anak sejak dini sangat berpengaruh pada kemampuan anak untuk membangun hubungan yang sehat di masa dewasa. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa durasi penggunaan gawai berhubungan langsung dengan munculnya masalah sosial emosional pada anak. Ironisnya, saat merasa kewalahan, anak-anak seringkali kembali menggunakan gawai sebagai pelarian.

Laporan dari American Academy of Pediatrics dalam jurnal Pediatrics edisi Januari 2026 juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap jenis tontonan yang dikonsumsi anak. Gawai telah mengubah anak menjadi penerima rangsangan pasif, yang membuat otak mereka terus-menerus mencari hiburan instan tanpa usaha. Untuk mengatasi masalah ini, orang tua disarankan untuk mengganti layar kecil dengan layar yang lebih besar seperti televisi, memilih tontonan dengan alur cerita yang lebih lambat, dan mematikan fitur putar otomatis agar anak tidak terus menerus mencari hal baru.

Cara Melatih Fokus Anak Berdasarkan Usia

Bermain merupakan cara yang paling alami bagi anak untuk melatih fokusnya. Berikut adalah beberapa strategi untuk melatih rentang perhatian anak sesuai dengan tahapan usianya:

Bayi dan Balita (0-2 tahun): Batasi jumlah pilihan mainan agar anak tidak bingung. Sediakan area bebas larangan di rumah, misalnya satu laci dapur yang berisi wadah plastik aman untuk mereka eksplorasi tanpa banyak aturan.

Prasekolah (3-5 tahun): Sediakan barang yang dapat memicu kreativitas seperti alat musik atau pensil warna. Biarkan anak asyik dengan permainan mereka sendiri tanpa gangguan, meskipun terlihat membosankan bagi orang dewasa.

Anak Sekolah Dasar (6-9 tahun): Berikan waktu luang tanpa jadwal tertentu setiap hari agar anak terbiasa menghadapi rasa bosan. Hindari kebiasaan langsung membantu anak sepenuhnya saat mereka mengerjakan tugas sekolah.

Praremaja dan Remaja (10-17 tahun): Jauhkan gawai dari jangkauan mereka saat waktu belajar tiba. Menyimpan gawai dalam keadaan terbalik tidak cukup jika barang tersebut masih terlihat di depan mata.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, diharapkan anak-anak dapat mengembangkan kemampuan fokus yang lebih baik seiring dengan pertumbuhan mereka.

Artikel Terkait