Berbagi cerita kepada teman atau pasangan sering kali menjadi cara untuk melepaskan beban setelah menjalani hari yang melelahkan. Banyak orang merasa lebih lega setelah menceritakan masalah yang mereka hadapi. Namun, penting untuk menyadari bahwa mengeluh tidak selalu memberikan efek positif. Jika dilakukan secara berlebihan tanpa tujuan yang jelas, kebiasaan ini justru dapat membuat seseorang terjebak dalam emosi negatif.
Psikoterapis dan pendiri Invited Psychotherapy and Coaching, Lauren Farina, LCSW, MSW, menjelaskan bahwa mengeluh merupakan cara seseorang untuk mengekspresikan ketidaknyamanan, frustrasi, atau kekecewaan. "Dalam kadar yang wajar, mengeluh dapat menjadi pelepasan emosi yang membantu mengurangi dampak stres akibat menahan perasaan," ungkap Farina. Dengan demikian, mengeluh bukanlah hal yang harus sepenuhnya dihindari, asalkan dilakukan dengan cara yang sehat.
Pentingnya Mengeluh dalam Kehidupan Manusia
Menurut biopsikolog dan dosen di Universitas Negeri San Jose, Dr. Mary Poffenroth, kebiasaan mengeluh memiliki akar dalam proses evolusi manusia. Sejak zaman dahulu, manusia perlu mengungkapkan ancaman atau kesulitan yang dihadapi untuk mendapatkan bantuan dan bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan untuk menyampaikan ketidakpuasan ini menjadi bagian penting dari cara manusia bertahan hidup. Di era modern, fungsi ini tetap relevan. Ketika seseorang menceritakan masalahnya kepada orang yang dipercaya, mereka tidak hanya mencari solusi, tetapi juga ingin merasa didengar dan dipahami.
Manfaat Mengeluh yang Dilakukan dengan Benar
Jika dilakukan dengan benar, mengeluh dalam porsi yang wajar dapat memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan mental. Pertama, mengurangi tekanan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa menekan emosi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko depresi, kelelahan emosional, dan menurunnya kepuasan hidup. Dengan mengungkapkan perasaan kepada orang yang dipercaya, seseorang dapat melepaskan beban emosional sehingga stres terasa lebih ringan.
Kedua, membantu menemukan solusi. Poffenroth menyatakan bahwa ketika seseorang berusaha menguraikan masalah yang dihadapi, bagian otak yang berfungsi dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah akan aktif. Proses ini membantu individu berpikir lebih jernih dibandingkan hanya memendam kekesalan. Selain itu, teman atau keluarga dapat memberikan sudut pandang baru yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan.
Ketiga, emosi seperti marah atau frustrasi memiliki fungsi penting, yaitu mendorong seseorang untuk bertindak. Misalnya, seseorang yang terus mengeluhkan beban kerja yang berlebihan mungkin terdorong untuk berdiskusi dengan atasan tentang pembagian tugas yang lebih seimbang.
Dampak Negatif dari Kebiasaan Mengeluh yang Berlebihan
Walaupun mengeluh memiliki manfaat, kebiasaan ini dapat menjadi bumerang jika dilakukan secara terus-menerus tanpa mencari solusi. Farina mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat memperkuat negativity bias, yaitu kecenderungan otak untuk lebih fokus pada hal-hal negatif dibandingkan pengalaman positif. Dalam jangka panjang, pola pikir ini dapat menghasilkan cara berpikir yang pesimistis.
Poffenroth menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan neuroplastisitas, kemampuan otak untuk membentuk dan memperkuat jalur saraf berdasarkan kebiasaan yang dilakukan berulang kali. Dengan kata lain, semakin sering seseorang mengeluh tanpa mencari solusi, semakin terbiasa otaknya untuk mencari hal-hal yang salah atau mengecewakan. Akibatnya, individu dapat merasa lebih mudah stres, sulit melihat sisi positif, dan terjebak dalam lingkaran pikiran negatif.
Langkah-Langkah Mengeluh dengan Sehat
Agar curhat dapat membantu memperbaiki suasana hati, psikolog menyarankan beberapa langkah. Pertama, batasi waktu untuk mengeluh. Jangan biarkan sesi curhat berlangsung terlalu lama hingga menjadi pengulangan masalah yang sama. Jika perlu, tetapkan batas waktu sekitar 10 hingga 15 menit agar pembicaraan tetap fokus.
Kedua, arahkan pembicaraan pada solusi. Farina menyarankan menggunakan pola sederhana saat mengungkapkan perasaan, yaitu: "Saya merasa ... karena ..., dan saya membutuhkan ...." Cara ini membantu seseorang tidak hanya berhenti pada keluhan, tetapi juga mengenali kebutuhan atau solusi yang diharapkan.
Ketiga, pilih orang yang tepat untuk diajak berbagi. Tidak semua orang perlu mengetahui masalah yang dihadapi. Sampaikan keluhan kepada satu atau dua orang yang benar-benar dipercaya dan mampu memberikan dukungan emosional serta masukan yang membangun.
Keempat, fokus pada masalah yang memang penting. Hindari menjadikan setiap gangguan kecil sebagai bahan keluhan. Fokuslah pada persoalan yang berdampak signifikan terhadap kehidupan, seperti konflik dalam hubungan, tekanan pekerjaan, atau masalah keluarga.
Terakhir, berhenti ketika mulai berputar pada masalah yang sama. Jika pembicaraan mulai mengulang keluhan tanpa menghasilkan sudut pandang baru, cobalah mengalihkan fokus pada langkah yang bisa dilakukan selanjutnya. Dengan demikian, curhat tidak hanya menjadi pelampiasan emosi, tetapi juga membantu menemukan jalan keluar.