Berbelanja sebagai pelarian setelah mengalami hari yang berat atau penuh tekanan sering kali terasa menyenangkan, terutama saat menemukan barang diskon atau yang sudah lama diinginkan. Namun, keputusan untuk membeli barang secara mendadak ini, yang biasanya didorong oleh emosi, dapat berujung pada penyesalan setelah transaksi selesai. Menurut psikolog Emily Hylton Jean, Ph.D., MPH, belanja impulsif adalah tindakan membeli yang dilakukan secara spontan dan dipengaruhi oleh dorongan emosional. Terkadang, keinginan untuk berbelanja menjadi begitu kuat sehingga sulit untuk ditahan. Belanja impulsif berbeda dari belanja kompulsif, yang lebih bersifat kronis dan dapat menimbulkan tekanan yang lebih besar.
Meski keduanya berbeda, belanja impulsif dan kompulsif berkaitan dengan kesulitan dalam mengatur diri, yang dapat berdampak pada kesejahteraan dan kondisi keuangan seseorang. Jean menjelaskan bahwa beberapa individu lebih rentan terhadap pembelian impulsif, termasuk mereka yang kesulitan dalam mengelola emosi, memecahkan masalah, merencanakan, atau menahan gangguan. Salah satu pendekatan yang bisa diterapkan untuk mengurangi kebiasaan ini berasal dari Dialectical Behavior Therapy (DBT). Berikut adalah beberapa strategi yang dapat dicoba.
Identifikasi Pemicu Belanja Impulsif
Salah satu langkah awal untuk mengurangi pembelian impulsif adalah dengan mengidentifikasi apa yang terjadi sebelum keputusan membeli diambil. Jean merekomendasikan untuk melakukan analisis rangkaian kejadian terhadap pembelian impulsif yang pernah dilakukan. Ingatlah apa yang menjadi pemicu awal, seperti melihat unggahan influencer di media sosial, bertengkar dengan orang terdekat, menerima gaji, atau merasa lelah secara emosional. Setelah itu, perhatikan rangkaian peristiwa yang terjadi hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Dengan mengenali rangkaian ini, seseorang dapat menemukan titik di mana mereka masih bisa menghentikan diri sebelum melakukan pembelian.
Evaluasi Dampak Jangka Pendek dan Panjang
Pembelian impulsif dapat memberikan perasaan senang dalam waktu singkat, seperti saat menunggu paket tiba atau saat membuka kemasan barang baru. Namun, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan tersebut. Barang yang dibeli mungkin saja tidak terpakai, kualitasnya tidak sesuai harapan, atau malah menambah beban tagihan kartu kredit. Dengan mempertimbangkan kedua sisi ini, keputusan untuk membeli bisa lebih bijaksana dan tidak hanya didasarkan pada kesenangan sesaat.
Buat Daftar Kelebihan dan Kekurangan
Sebelum menyelesaikan pembayaran, luangkan waktu untuk mencatat alasan mengapa barang tersebut perlu dibeli dan alasan mengapa sebaiknya tidak. Meskipun terlihat merepotkan, jeda ini dapat membantu memperlambat proses pengambilan keputusan. Dengan cara ini, seseorang memiliki kesempatan untuk merenungkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena suasana hati saat itu.
Perhatikan Emosi yang Dirasakan
Keinginan untuk berbelanja sering kali muncul bukan karena kebutuhan, melainkan untuk menghindari perasaan tertentu. Emosi seperti kebosanan, kekecewaan, kecemasan, atau tekanan dapat mendorong seseorang mencari kesenangan cepat melalui belanja. Namun, membeli barang tidak selalu menyelesaikan masalah emosional tersebut. Jean menyarankan untuk menyadari dan menerima emosi yang dirasakan sebelum mengambil keputusan untuk membeli. Berikan waktu beberapa menit untuk memahami emosi tersebut dan pertimbangkan kembali apakah barang yang ingin dibeli benar-benar diperlukan.
Cari Alternatif untuk Menenangkan Diri
Belanja bukan satu-satunya cara untuk merasa lebih baik. Ketika dorongan untuk membeli muncul karena ingin menenangkan diri, cobalah menggantinya dengan aktivitas lain yang melibatkan pancaindra. Misalnya, merapikan ruangan, mendengarkan musik, membuat teh, menikmati buah segar, menggunakan aroma yang menyenangkan, atau mengenakan pakaian yang nyaman. Tujuan dari ini bukan untuk mengabaikan emosi, tetapi untuk memberikan alternatif dalam mengelola perasaan tanpa harus berujung pada transaksi.