Kesehatan

Risiko Penggunaan Nebulizer yang Tidak Tepat pada Anak

Orangtua sering kali mengandalkan nebulizer sebagai solusi utama saat anak mengalami batuk dan pilek, padahal penggunaannya bisa berisiko jika tidak sesuai indikasi medis.

Y
Yusuf Ahmad Pratama
02 July 2026 72 pembaca
Risiko Penggunaan Nebulizer yang Tidak Tepat pada Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Banyak orangtua saat ini cenderung menggunakan terapi inhalasi dengan nebulizer setiap kali anak mereka mengalami batuk dan pilek. Metode nebulisasi ini dianggap sebagai langkah awal yang efektif untuk meredakan masalah pernapasan. Namun, peringatan dari tenaga medis di media sosial X menunjukkan bahwa sebagian besar kasus batuk pada anak tidak memerlukan penggunaan nebulizer. Penggunaan alat ini secara sembarangan justru dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Pentingnya Pemahaman Penggunaan Nebulizer

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K), menjelaskan bahwa akses terhadap alat bantu pernapasan kini semakin mudah di rumah tangga. Ia menekankan bahwa penggunaan nebulizer harus didasarkan pada prinsip target organ. "Terapi inhalasi ini adalah salah satu cara memberikan obat yang langsung masuk ke target organnya. Target organnya itu ke mana? Yaitu ke sistem respiratori, mulai dari hidung sampai dengan paru-paru," ungkap dr. Wahyuni dalam acara peluncuran Omron Nebulizer NE-U300 di Jakarta Selatan.

Ia menegaskan bahwa penanganan untuk batuk dan pilek tidak bisa disamaratakan dengan penggunaan nebulizer. Terapi nebulisasi dirancang khusus untuk mengubah obat cair menjadi aerosol yang ditujukan untuk mengobati penyakit saluran napas tertentu, seperti asma, bronkiolitis, atau laringitis. Oleh karena itu, edukasi mengenai indikasi medis sangat penting agar orangtua tidak sembarangan menggunakan alat ini.

Batuk dan Pilek Bukan Indikasi Nebulizer

Batuk dan pilek yang terjadi sesekali adalah hal yang wajar bagi balita. Dalam satu tahun, anak yang sehat biasanya mengalami infeksi saluran napas atas hingga enam kali. Penggunaan nebulizer untuk kondisi ini tidak tepat, karena ukuran partikel yang dihasilkan tidak sesuai dengan organ yang membutuhkan. Saluran napas atas memerlukan partikel aerosol berukuran besar di atas 10 mikron, sementara nebulizer menghasilkan partikel yang lebih kecil, yaitu sekitar empat hingga enam mikron, yang dapat menembus paru-paru bagian bawah.

Jika anak hanya mengalami hidung tersumbat, dr. Wahyuni menyarankan perawatan rumahan yang lebih efektif, seperti memberikan air putih hangat untuk membantu mengeluarkan lendir. "Kalau misalnya kita butuhnya hidung, ya pakai aja intranasal spray. Pakai aja cuci hidung. Itu lebih efektif sebenarnya, karena memang sesuai dengan target organ," jelasnya.

Risiko Kesehatan dari Penggunaan Nebulizer yang Salah

Selain kesalahan dalam indikasi, penggunaan nebulizer tanpa pemahaman yang tepat mengenai alat tersebut juga dapat berisiko. Penggunaan corong mulut atau masker wajah harus disesuaikan dengan posisi pasien agar aerosol tidak bocor ke arah lain. Terkadang, orangtua menjauhkan masker dari wajah anak yang ketakutan mendengar suara kompresor, sehingga obat tidak terdistribusi dengan baik dan dapat mengenai area mata.

Dr. Wahyuni mengingatkan bahwa sisa obat yang mengenai mata dapat menyebabkan masalah serius. "Steroid ketika kena mata dan dalam jangka waktu yang lama hati-hati, bisa jadi katarak. Golongan antikolinergik itu bisa menyebabkan tekanan intraokular atau tekanan bola mata kita menjadi tinggi dan bisa glaukoma," jelasnya.

Untuk menghindari komplikasi tersebut, sangat penting bagi orangtua untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan alat bantu pernapasan pada anak di rumah. "Jadi, melakukan nebulisasi itu bukannya tanpa kewaspadaan. Alatnya harus baik dan dia harus betul, jangan sampai residunya banyak dan mengganggu organ lain," tutup dr. Wahyuni.

Artikel Terkait