JAKARTA - Fenomena kompetisi kebugaran dengan intensitas tinggi, seperti Hyrox, telah menarik perhatian banyak orang, terutama di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat setelah pandemi Covid-19. Olahraga hybrid ini menggabungkan lari dengan berbagai rintangan fungsional, yang memerlukan persiapan fisik yang menyeluruh. Sayangnya, tingginya minat masyarakat tidak selalu diimbangi dengan pemahaman tentang teknik latihan yang benar. Banyak pemula yang berusaha keras tanpa persiapan yang matang, bahkan sampai mengalami rasa sakit, yang justru dapat meningkatkan risiko cedera dan kelelahan.
"Kalau you're training just for soreness, that is not training," ungkap Gavrilla Arya, mantan atlet golf nasional yang kini beralih menjadi atlet Hyrox di tim Hystoric, saat berbicara tentang pentingnya pendekatan latihan yang tepat.
Strategi Latihan yang Efektif dan Berkelanjutan
Gavrilla menyoroti bahwa banyak peserta baru terjebak dalam pemahaman yang keliru mengenai konsep latihan. Mereka seringkali terlibat dalam aktivitas fisik berintensitas tinggi tanpa memperhatikan pentingnya pemulihan otot. Kesalahan umum lainnya adalah mengandalkan satu jenis olahraga saja sebagai persiapan. Mengingat Hyrox adalah perlombaan hybrid, persiapan tidak dapat hanya difokuskan pada kecepatan berlari atau kekuatan angkat beban.
"Pelari pun harus strength training juga soalnya takutnya enggak kuat kakinya," jelas Timothy Tjahja, pemilik F45 Semarang dan pemegang Rekor Nasional Mixed Doubles Hyrox. Ia menambahkan bahwa orang yang kuat di gym pun bisa bingung saat diminta untuk berlari jika tidak terbiasa.
Untuk itu, metode yang dikenal sebagai compromised running sangat penting dalam jadwal latihan. Transisi cepat antara berlari dan melakukan gerakan fungsional di stasiun rintangan menjadi kunci dalam menyelesaikan kompetisi Hyrox.
Pentingnya Pendekatan Bertahap
Proses adaptasi tubuh terhadap rangsangan fisik yang baru sangatlah penting. Meningkatkan beban atau jarak lari secara drastis dalam waktu singkat bisa menyebabkan cedera pada tendon dan ligamen. "Biasa orang pemula, kita sarankan jangan tiba-tiba menaikkan volume training dengan waktu singkat," jelas Timothy, menekankan pentingnya disiplin dalam menerapkan metode progressive overloading.
Pengenalan beban kerja juga harus dilakukan dengan hati-hati, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak aktif. "Jangan yang enggak pernah lari, yang pace-nya mungkin tujuh, delapan, tiba-tiba maunya sprint," kata dokter spesialis anak, Melanie Yudiana Iskandar, yang juga aktif berkompetisi di tingkat internasional.
Hari istirahat penuh dan sesi latihan berintensitas rendah juga merupakan aspek penting yang sering diabaikan oleh peserta amatir. Menurut Gavrilla, pola pikir kompetitif dapat mengaburkan fakta bahwa otot tumbuh saat tubuh beristirahat. "Mereka memerlukan rencana latihan yang terstruktur, di mana terdapat jadwal untuk porsi latihan ringan dan hari untuk latihan intensif," ujarnya.
Keseimbangan antara aktivitas fisik yang berat dan fase pemulihan sangat mendukung hasil akhir dalam kompetisi Hyrox, termasuk pengelolaan hidrasi, kualitas tidur, dan asupan nutrisi yang terencana.