Lifestyle

Pikiran Positif Dapat Membantu Kesehatan di Usia Lanjut

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pandangan positif terhadap penuaan dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental seseorang setelah berusia 65 tahun. Hal ini menegaskan pentingnya pola pikir dalam...

A
Angelica Putri Wijaya
24 September 2026 65 pembaca
Ilustrasi lansia, wajah keriput.(Google Gemini AI)
Ilustrasi lansia, wajah keriput.(Google Gemini AI)

Kebanyakan orang beranggapan bahwa bertambahnya usia selalu disertai dengan penurunan kemampuan. Namun, sebuah studi terbaru yang berjudul "Aging Redefined: Cognitive and Physical Improvement with Positive Age Beliefs" yang dipublikasikan dalam jurnal Geriatrics pada Maret 2026, menunjukkan bahwa pola pikir positif tentang penuaan sangat berpengaruh terhadap kebugaran seseorang di masa tua. Penelitian ini, yang berlangsung selama 12 tahun dan melibatkan lansia di Amerika Serikat melalui Health and Retirement Study, menemukan fakta menarik. Sebanyak 45 persen responden mengalami peningkatan dalam kemampuan fisik dan mental mereka, bukannya menurun.

Orang-orang yang memiliki sikap optimis terhadap proses penuaan terbukti memiliki peluang yang lebih besar untuk mengalami peningkatan baik secara kognitif maupun fisik. Para peneliti menekankan pentingnya menanamkan pandangan positif tentang usia dan mendefinisikan ulang penuaan agar mencakup kemungkinan adanya peningkatan.

Hubungan Antara Pola Pikir dan Kualitas Hidup

Meskipun studi tersebut tidak menyatakan bahwa pola pikir adalah satu-satunya penyebab, para ahli percaya bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pandangan hidup dan kesehatan fisik. Penelitian lain yang berjudul "Aging anxiety and epigenetic aging in a national sample of adult women in the United States" yang dimuat dalam jurnal Psychoneuroendocrinology pada Februari 2026, mendukung temuan ini. Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan data dari wanita yang terlibat dalam Midlife in the United States dan menemukan bahwa kecemasan berlebih terkait penuaan dapat mempercepat penuaan epigenetik, yang merupakan ukuran usia biologis berdasarkan perubahan kimia pada DNA. Para peneliti menyimpulkan bahwa "ketakutan terhadap penurunan kesehatan dapat terwujud secara biologis dan berkontribusi pada proses percepatan penuaan."

Pengaruh Negatif Kecemasan pada Kesehatan

Menurut Thea Gallagher, Psy.D., seorang profesor asosiasi klinis di NYU Langone Health, keyakinan negatif dapat memengaruhi kebiasaan dan gaya hidup seseorang. "Jika seseorang percaya bahwa penuaan berarti penurunan yang tak terhindarkan, mereka mungkin cenderung untuk tidak berolahraga, tidak menantang diri secara mental, tidak tetap terhubung secara sosial, atau tidak mencari pengobatan karena berasumsi bahwa hal itu tidak akan memberikan banyak perbedaan," jelasnya. Sebaliknya, orang-orang yang meyakini bahwa mereka dapat terus tumbuh dan beradaptasi cenderung lebih aktif dalam menjalani gaya hidup yang mendukung penuaan sehat.

Gallagher mengamati bahwa ekspektasi sering membentuk tindakan, dan seiring berjalannya waktu, tindakan tersebut akan memengaruhi hasil akhir. Hillary Ammon, Psy.D., seorang psikolog klinis di Center for Anxiety and Women’s Emotional Wellness, sepakat dengan hal ini. Ia menegaskan bahwa ketidakbahagiaan saat membayangkan masa tua dapat memicu kecemasan, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap kesehatan fisik. "Kecemasan kronis dapat mulai berdampak negatif secara langsung terhadap kesehatan fisik seseorang," ujarnya. Kondisi mental ini dapat meningkatkan risiko depresi, yang berdampak pada pola makan dan rutinitas olahraga yang sehat.

Selain itu, pikiran negatif dapat meningkatkan kadar hormon kortisol, yang dapat memengaruhi kualitas tidur, fluktuasi gula darah, dan meningkatkan peradangan. Oleh karena itu, sikap positif dapat membantu menjaga kesehatan tubuh.

Namun, Gallagher mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak boleh disederhanakan. Kesehatan tidak bisa dicapai hanya dengan kekuatan pikiran tanpa tindakan nyata. Otak dan tubuh kita tetap adaptif sepanjang hidup. "Jaringan saraf manusia mampu membentuk koneksi baru tanpa terhalang oleh usia," tambah Gallagher. "Pertumbuhan kognitif dan emosional tidak berhenti pada usia tertentu. Banyak orang dewasa yang lebih tua menjadi lebih baik dalam mengelola emosi, memprioritaskan hal-hal penting, dan melepaskan stres yang tidak perlu."

Membangun Pola Pikir Positif untuk Kesehatan yang Lebih Baik

Proses penuaan sebenarnya jauh lebih dinamis, dan individu memiliki peran penting dalam menentukan kualitas hidup di masa tua. "Meskipun tidak ada yang dapat mengendalikan semua aspek dari bertambahnya usia, kita memiliki lebih banyak pengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan kita daripada yang kita sadari," ungkap Gallagher. Ia menyarankan agar alih-alih terjebak dalam kecemasan tentang penuaan, seseorang harus mencari cara untuk tetap bersinar, seperti tetap aktif secara fisik, membangun hubungan yang bermakna, terus belajar hal baru, dan menolak narasi budaya yang menyatakan bahwa menjadi tua berarti penurunan.

Jika kecemasan mengenai masa tua sudah sangat mengganggu, disarankan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional.

Artikel Terkait