Meninggal dunia saat berolahraga meskipun jarang terjadi, namun risikonya dapat meningkat jika aktivitas fisik dilakukan tanpa memperhatikan kondisi kesehatan dan aspek keselamatan. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) menjelaskan bahwa kejadian tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (10/7/2026), PDSKO menyampaikan rasa duka cita atas beberapa kasus kematian yang terjadi selama aktivitas fisik di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
PDSKO mencatat bahwa insiden ini terjadi dalam berbagai jenis kegiatan, mulai dari lari trail, maraton, pendakian gunung, sepak bola, bulu tangkis, renang, hingga kegiatan Pendidikan Dasar Militer yang diikuti oleh masyarakat sipil. Meskipun demikian, organisasi ini menegaskan bahwa berolahraga tetap merupakan cara yang efektif untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kebugaran, dan mencegah berbagai penyakit.
Pentingnya Keselamatan dalam Berolahraga
Agar manfaat olahraga tetap optimal, penting untuk melakukannya dengan aman, terencana, dan sesuai dengan kondisi masing-masing individu. PDSKO menjelaskan bahwa kejadian fatal saat berolahraga umumnya dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari kondisi kesehatan yang tidak terdeteksi hingga keterlambatan dalam mengenali tanda bahaya. Penelitian menunjukkan bahwa kejadian medis serius selama aktivitas fisik biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor pertama adalah kondisi kesehatan yang belum terdeteksi. Seseorang bisa saja memiliki gangguan kesehatan tertentu tanpa menyadarinya, sehingga berisiko mengalami masalah medis saat melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi. Faktor kedua adalah beban latihan yang tidak sesuai dengan kapasitas tubuh. Program latihan yang terlalu berat atau tidak dilakukan secara bertahap dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah medis selama berolahraga. Selain itu, kondisi lingkungan yang ekstrem juga berpengaruh. PDSKO mengingatkan bahwa suhu, kelembapan, cuaca, kualitas udara, dan karakteristik medan harus dipertimbangkan sebelum melakukan aktivitas fisik.
Kesadaran akan Tanda Bahaya
PDSKO juga menekankan pentingnya mengenali gejala yang muncul saat berolahraga. Keterlambatan dalam mengenali tanda bahaya dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko kejadian fatal. Peserta disarankan untuk segera menghentikan aktivitas jika mengalami keluhan seperti nyeri dada, sesak napas berat, penurunan kesadaran, kolaps, atau gejala gangguan akibat paparan panas. Faktor lain yang berkontribusi adalah penanganan kegawatdaruratan yang belum optimal. Oleh karena itu, PDSKO menilai bahwa setiap penyelenggaraan kegiatan olahraga perlu memiliki Rencana Tindakan Darurat (EAP), tenaga terlatih untuk melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD/CPR), akses terhadap Automated External Defibrillator (AED) jika memungkinkan, serta sistem rujukan yang cepat untuk penanganan yang optimal.
PDSKO menegaskan bahwa penerapan prinsip keselamatan dalam olahraga dapat membantu menurunkan risiko kejadian medis serius secara signifikan. Mereka merekomendasikan agar setiap peserta menjalani skrining kesehatan dan stratifikasi risiko sebelum mengikuti aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi. Program latihan juga harus disusun berdasarkan prinsip ilmiah, dilakukan secara bertahap, dan disesuaikan dengan usia, tingkat kebugaran, riwayat kesehatan, dan kemampuan masing-masing individu. Selain itu, penting untuk membangun budaya keselamatan dalam setiap aktivitas fisik, di mana keselamatan harus menjadi bagian dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.
Penyelenggara, pelatih, tenaga kesehatan, pendamping, dan peserta memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan memastikan tidak ada peserta yang dipaksa melanjutkan aktivitas ketika kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. PDSKO juga mengajak kementerian dan lembaga, TNI, Polri, institusi pendidikan, organisasi olahraga, pusat kebugaran, perusahaan, pelatih, instruktur, serta seluruh penyelenggara kegiatan fisik untuk menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama agar manfaat olahraga dapat diperoleh dengan risiko kejadian medis yang seminimal mungkin.