Kesehatan

Mengenali Tanda-Tanda Keterikatan Cemas pada Anak

Pola pengasuhan yang tidak konsisten dapat menyebabkan anak mengalami keterikatan cemas, yang memengaruhi hubungan emosional mereka dengan orangtua. Terdapat beberapa tanda yang dapat dikenali untuk m...

A
Aisyah Nur Hidayah
17 July 2026 73 pembaca
Mengenali Tanda-Tanda Keterikatan Cemas pada Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Ketidakpastian dalam pola pengasuhan kadang-kadang membuat anak merasa bingung mengenai respons orangtua, yang pada gilirannya memengaruhi cara mereka membangun hubungan emosional. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai anxious attachment atau keterikatan cemas. Psikolog perkembangan Jessica Young, PhD, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat muncul ketika pengasuh bersikap responsif dan perhatian di satu waktu, namun di waktu lain tidak tersedia secara emosional atau bahkan mengabaikan anak.

“Anxious attachment dapat terbentuk jika pengasuh terkadang perhatian dan responsif, tetapi di waktu lain tidak tersedia secara emosional atau bersikap mengabaikan,” ungkap Young. Lalu, apa saja tanda-tanda yang menunjukkan bahwa anak mungkin mengalami anxious attachment? Berikut penjelasannya.

Tanda Pertama: Kesulitan Berpisah dari Orangtua

Anak yang mengalami anxious attachment biasanya menunjukkan kedekatan yang sangat kuat dengan orangtua. Mereka mungkin menangis keras saat ditinggal pergi ke sekolah, menolak untuk bermain tanpa kehadiran orangtua, atau terus mengikuti orangtua dari satu ruangan ke ruangan lain. Namun, penting bagi orangtua untuk membedakan perilaku ini dari kecemasan berpisah yang normal, terutama pada anak usia 3-5 tahun yang sering merasa takut ketika ditinggalkan di tempat yang asing. Yang perlu diperhatikan adalah jika kecemasan tersebut berlanjut dan mengganggu kegiatan anak, seperti kesulitan bersekolah atau enggan berinteraksi dengan teman sebaya.

Tanda Kedua: Rendahnya Rasa Percaya Diri

Indikator lain yang patut dicermati adalah rendahnya kepercayaan diri anak. Mereka mungkin terus-menerus membutuhkan pujian dan dorongan untuk meyakinkan diri bahwa mereka mampu melakukan sesuatu. Dalam konteks sosial maupun akademik, anak-anak ini sering kali ragu untuk mencoba hal baru. Mereka juga mungkin enggan untuk berbagi masalah karena merasa bahwa kesulitan yang dihadapi adalah kesalahan mereka sendiri. Young menambahkan bahwa perhatian orangtua yang tidak konsisten dapat menciptakan ketidakpastian dan kecemasan pada anak, sehingga mereka lebih membutuhkan kepastian.

Tanda Ketiga: Sensitivitas Terhadap Kritik

Anak-anak umumnya tidak menyukai kritik, tetapi anak dengan anxious attachment dapat menafsirkan kritik dengan cara yang lebih personal dan berlebihan. Sebuah koreksi kecil bisa membuat mereka merasa tidak disukai atau takut ditinggalkan. Mereka juga dapat menjadi sangat cemas jika merasa telah melakukan kesalahan saat berinteraksi dengan orang lain. Psikolog Jasmine Reed, MA, PsyD, menjelaskan bahwa anak dengan keterikatan cemas sering kali menganggap kritik sebagai indikasi bahwa mereka tidak dicintai, yang membuat mereka takut untuk berbuat salah, termasuk dalam pertemanan.

Tanda Keempat: Emosi yang Intens dan Sulit Mengungkapkan Perasaan

Anak dengan anxious attachment cenderung menunjukkan emosi yang sangat kuat. Situasi yang tampaknya sepele dapat memicu tangisan atau ledakan emosi yang sulit mereka kendalikan. Mereka mungkin belum mampu menjelaskan apakah yang mereka rasakan adalah kekecewaan, ketakutan, atau penolakan. Hal ini dapat membuat anak lebih rentan terhadap situasi meltdown. “Mereka memiliki respons emosional yang intens ketika ditolak atau menerima kritik dalam bentuk apa pun,” kata Reed.

Walaupun terdapat satu atau dua tanda tersebut, bukan berarti anak otomatis memiliki anxious attachment. Orangtua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga kesehatan mental yang berpengalaman dalam perkembangan anak untuk mendapatkan penilaian yang lebih akurat.

Artikel Terkait