Kesehatan

Mengenal Perbedaan Jerawat Hormonal dan Bakterial

Jerawat dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk hormon dan bakteri. Penting untuk memahami perbedaan antara jerawat hormonal dan bakterial serta cara penanganannya.

A
Angelica Putri Wijaya
08 July 2026 69 pembaca
Mengenal Perbedaan Jerawat Hormonal dan Bakterial
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kondisi jerawat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti produksi minyak berlebih, perubahan hormon, penyumbatan pori-pori oleh sel kulit mati, dan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Dua jenis jerawat yang umum terjadi adalah jerawat hormonal dan jerawat bakterial. Lalu, bagaimana cara membedakan dan mengatasi kedua jenis jerawat ini?

Memahami Jerawat Hormonal

Jerawat hormonal biasanya muncul akibat fluktuasi hormon yang terjadi saat ovulasi, menstruasi, kehamilan, atau kondisi medis tertentu seperti sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS). Jerawat ini sering muncul di area bawah wajah, seperti rahang, dagu, dan leher, dan biasanya berupa kista merah yang menyakitkan.

Jerawat hormonal disebabkan oleh sensitivitas kulit terhadap hormon pria yang dikenal sebagai androgen, dengan testosteron sebagai pemicu utama. Androgen merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi minyak berlebih, yang pada gilirannya memberi makanan bagi bakteri penyebab jerawat, sehingga jumlah bakteri meningkat dan menyumbat pori-pori.

Karakteristik Jerawat Bakterial

Di sisi lain, jerawat bakterial bukanlah jenis jerawat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil dari pertumbuhan bakteri yang berlebihan, peradangan, dan produksi sebum yang tinggi. Berbeda dengan jerawat hormonal, jerawat bakterial lebih sering muncul di area wajah yang berminyak seperti zona-T, pipi, dan hidung. Jerawat ini biasanya lebih dangkal, berwarna kemerahan, dan meradang.

Jamur dan bakteri adalah bagian dari mikrobioma kulit yang normal, mirip dengan mikroflora di usus. Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam mikrobioma ini, hal tersebut dapat memicu timbulnya jerawat.

Membedakan Jenis Jerawat

Menurut seorang dermatologis, jika jerawat sering meradang pada waktu tertentu dalam siklus menstruasi, kemungkinan besar itu adalah jerawat hormonal. Banyak masalah jerawat berasal dari ketidakseimbangan hormon, tetapi terkadang kondisi ini dapat diperparah oleh bakteri, yang dapat muncul sebagai komedo hitam, benjolan mirip kista, atau sumbatan di folikel rambut. Berkonsultasi dengan dokter kulit adalah langkah yang bijak untuk memastikan jenis jerawat melalui observasi fisik atau tes darah.

Penting juga untuk menjaga keseimbangan bakteri di kulit. Jika bakteri jahat diimbangi dengan bakteri baik, kondisi ini dapat mengendalikan bakteri jahat dan mencegah jerawat bakterial. Hormon juga berperan dalam hal ini, karena hormon dapat mempengaruhi iklim mikro kulit.

Perawatan untuk Jerawat Hormonal

Dokter biasanya meresepkan pil KB untuk menstabilkan hormon dan mengurangi produksi minyak. Selain itu, obat seperti spironolactone juga sering digunakan. Spironalactone berfungsi untuk mencegah androgen, seperti testosteron, yang merangsang produksi minyak, sehingga mengurangi kemungkinan pori-pori tersumbat dan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Selain pengobatan, penting untuk menggunakan produk kosmetik non-komedogenik agar pori-pori tidak semakin tersumbat.

Disarankan untuk menggunakan produk jerawat dalam jumlah kecil, seukuran biji kacang polong, karena penggunaan berlebihan dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan kekeringan. Menjaga gaya hidup sehat, termasuk tidur yang cukup dan mengurangi konsumsi produk olahan susu, juga sangat penting. Produk olahan susu dapat memperburuk jerawat dengan memicu hormon testosteron pada beberapa individu.

Penanganan Jerawat Bakterial dan Jamur

Bahan aktif seperti benzoil peroksida atau retinoid sangat efektif dalam mengatasi bakteri dan kotoran yang menyumbat pori. Dalam beberapa kasus, penggunaan antibiotik mungkin diperlukan untuk mengatasi peradangan yang lebih parah. Selain itu, jerawat jamur yang disebabkan oleh infeksi jamur malassezia atau folikulitis pityrosporum juga perlu diobati dengan obat antijamur yang tepat.

Dengan memahami perbedaan antara jerawat hormonal dan bakterial, serta cara penanganannya, diharapkan dapat membantu dalam mengatasi masalah kulit ini secara lebih efektif.

Artikel Terkait