Lifestyle

Mengatasi Masalah Lutut Terkunci di Usia Muda: Penyebab dan Solusi

Kondisi lutut terkunci pada individu berusia 20-an dapat disebabkan oleh cedera yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Penting untuk mengenali penyebabnya agar penanganan yang tepat dapat dilakukan.

J
Jonathan Michael Saputra
08 October 2026 45 pembaca
Ilustrasi lutut.(Dok. Freepik/Freepik)
Ilustrasi lutut.(Dok. Freepik/Freepik)

Lutut merupakan bagian tubuh yang sangat penting dalam berbagai aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, berolahraga, dan naik turun tangga. Rasa tidak nyaman pada lutut sering kali dianggap sebagai masalah sepele yang akan hilang dengan sendirinya. Namun, sensasi lutut yang terasa terkunci saat bergerak bisa menunjukkan adanya masalah yang lebih serius, terutama pada orang yang masih muda.

Simon Tri Prasetyo, pendiri dan fisioterapis utama di Physiorehab, menyatakan bahwa kondisi lutut harus dievaluasi berdasarkan riwayat cedera dan keadaan lutut secara keseluruhan. Ia menjelaskan bahwa keluhan lutut tidak selalu muncul segera setelah seseorang mengalami cedera. “Kalau sampai locking, saya takutnya si bantalan sendinya sobek,” ungkap Simon saat ditemui di Klinik Physiorehab cabang Meruya, Jakarta Barat.

Penyebab Lutut Terkunci pada Usia Muda

Simon mengingatkan bahwa cedera yang dialami di masa lalu dapat berhubungan dengan keluhan yang muncul saat ini. “Itu biasanya kamu pernah jatuh atau kecelakaan olahraga, baik dua atau lima tahun yang lalu. Jadi bukan baru mulai,” jelasnya. Salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah adanya robekan pada meniskus, bantalan yang terletak di antara tulang pada sendi lutut. “Kalau seumuran (20 tahun) itu, takutnya ada robekan di bantalan sendinya yang namanya meniscus,” tambahnya.

Seiring bertambahnya usia, keluhan dari cedera lama dapat semakin terasa. Simon juga menekankan bahwa penyebab keluhan lutut pada orang muda berbeda dengan yang dialami oleh orang yang lebih tua. Ia memberikan contoh pengapuran, yang lebih umum terjadi pada usia lanjut. “Kalau usia 60 mungkin pengapuran,” ujarnya. Namun, faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya pengapuran lebih dini. “Jadi genetik tuh turun keturunannya, salah satunya pengapuran dini,” jelasnya.

Latihan dan Pemulihan yang Sesuai

Setelah mengidentifikasi kondisi yang dialami, latihan dalam proses pemulihan dapat disesuaikan dengan kemampuan pasien. Salah satu metode yang disarankan adalah latihan di dalam air, yang sangat bermanfaat bagi mereka yang masih kesulitan bergerak. “Kalau mereka latihan di daerah kesulitan, memang dianjurkan di air dulu,” kata Simon. Latihan di air membantu mengurangi beban gravitasi, sehingga otot tetap dapat berfungsi dengan baik.

Latihan ini dapat dilakukan ketika pasien masih memerlukan bantuan untuk berjalan. “Jadi kalau di darat masih berat pakai tongkat, (bisa) latihan di air,” papar Simon. Setelah kemampuan bergerak meningkat, latihan di air tidak perlu dilakukan terus-menerus. “Kalau sudah kuat ya jangan balik ke air, kecuali memang mau niat berenang,” tambahnya.

Simon juga menjelaskan bahwa fisioterapi bukan hanya sekadar pijatan, tetapi juga mencakup latihan dan peregangan. “Jadi di dalam tuh sekitar 40 menit, habis itu keluar. Exercise, stretching seperti itu,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam fisioterapi agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

Artikel Terkait