Kesehatan

Mengapa Tidur Cukup Tak Selalu Menghilangkan Rasa Lelah? Simak Penjelasannya

Tidur yang cukup sering dianggap sebagai solusi untuk mengatasi kelelahan, namun bagi sebagian orang, rasa lelah tetap ada meskipun telah tidur dengan baik. Berbagai faktor, baik fisik maupun mental,...

T
Theresia Agatha Lestari
03 October 2026 63 pembaca
Ilustrasi rebahan di lantai.()
Ilustrasi rebahan di lantai.()

Tidur yang memadai sering kali dianggap sebagai kunci untuk mengembalikan energi setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, masih ada orang yang merasa lelah meskipun telah mendapatkan waktu tidur yang cukup. Dokter Alexa Davis menjelaskan bahwa tuntutan dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat seseorang tetap merasa lelah meski sudah tidur dengan baik. "Di dunia saat ini, banyak dari kita masih merasa lelah bahkan setelah mendapatkan tidur yang cukup karena tuntutan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari membuat kita merasa kewalahan dan terkuras," ungkap Davis.

Penyebab Kelelahan yang Tidak Terlihat

Aktivitas sehari-hari dapat membuat tubuh dan pikiran terus bekerja. Misalnya, seseorang yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer mungkin tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Namun, konsentrasi yang tinggi, berpindah dari satu tugas ke tugas lain, mengikuti rapat, membuat keputusan, dan mengejar tenggat waktu tetap memerlukan energi mental. Hal ini juga berlaku bagi individu yang banyak berinteraksi dengan orang lain. Menghadiri rapat, bertemu klien, atau berkomunikasi melalui pesan dan media sosial dapat membuat seseorang merasa perlu untuk beristirahat dari berbagai rangsangan tersebut. Oleh karena itu, rasa lelah setelah tidur cukup bisa menjadi indikasi adanya kebutuhan lain yang belum terpenuhi.

Kelelahan Mental dan Emosional

Salah satu bentuk kelelahan yang sering tidak disadari adalah kelelahan mental. Meskipun pekerjaan fisik telah selesai, pikiran mungkin masih terjebak memikirkan tugas yang belum selesai atau agenda keesokan harinya. Hal ini dapat menghambat kemampuan seseorang untuk benar-benar rileks. Tanda-tanda kelelahan mental meliputi kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, melakukan kesalahan sederhana, dan merasa kewalahan saat harus menyelesaikan sesuatu. Mengambil jeda singkat di tengah pekerjaan, membuat daftar tugas, berjalan kaki, atau menghabiskan waktu di luar ruangan dapat membantu memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Selain itu, emosi juga dapat menguras energi. Individu yang terbiasa menekan perasaan atau selalu berusaha menyenangkan orang lain dapat mengalami kelelahan emosional. Tanda-tandanya termasuk kesulitan untuk mengatakan "tidak", merasa terbebani oleh kebutuhan orang lain, atau merasa harus menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Dalam keadaan seperti ini, meskipun tidur dapat memberikan istirahat fisik, hal itu belum tentu menyelesaikan sumber kelelahan emosional. Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang membuat nyaman, mengekspresikan perasaan secara jujur, dan menetapkan batasan yang sehat dapat membantu memberikan ruang bagi diri sendiri.

Rangsangan Berlebih dan Kelelahan

Kehidupan sehari-hari juga dipenuhi dengan berbagai rangsangan seperti notifikasi ponsel, suara kendaraan, dan paparan layar yang berkepanjangan. Ketika terlalu banyak rangsangan diterima sekaligus, seseorang dapat merasa kewalahan. Gejala dari kondisi ini termasuk mudah terganggu oleh suara atau cahaya, mata lelah setelah menggunakan layar, serta keinginan untuk berada di tempat yang tenang. Mengurangi notifikasi, menjauh dari layar sejenak, atau menghabiskan waktu di lingkungan yang lebih tenang dapat memberikan jeda bagi indra.

Menariknya, memberikan waktu bagi tubuh atau pikiran untuk beristirahat tidak selalu berarti berhenti dari aktivitas. Psikolog Michael Carollo menyatakan bahwa berpindah dari satu jenis aktivitas ke aktivitas lain bisa menjadi bentuk istirahat. "Setelah menggunakan banyak energi mental untuk duduk, berkonsentrasi, dan menyelesaikan pekerjaan, kita mungkin 'beristirahat' dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga," jelas Carollo. Sebaliknya, setelah berinteraksi sosial yang panjang, seseorang mungkin memerlukan suasana tenang untuk memulihkan energi, seperti dengan duduk sendiri atau membaca buku. "Kuncinya adalah menemukan tingkat toleransi pribadi terhadap berbagai aktivitas dan menyeimbangkannya dengan bentuk 'istirahat' yang sesuai dengan jenis kelelahan yang dialami," tutup Carollo.

Artikel Terkait