Apakah Anda merasa sulit tidur ketika pasangan sedang tidak di rumah? Meskipun saat tidur bersama Anda dapat terlelap dengan cepat, tidak jarang banyak orang mengalami kesulitan saat harus tidur sendiri. Menurut para ahli, kondisi ini cukup umum dan tidak selalu menunjukkan adanya ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap pasangan.
Dr. Wendy Troxel, seorang psikolog klinis dan pakar tidur, menjelaskan bahwa kehadiran pasangan sering kali menjadi bagian dari rutinitas tidur yang memberikan rasa aman. Seiring berjalannya waktu, otak kita akan mengaitkan keberadaan pasangan dengan waktu untuk beristirahat. "Ketika pasangan menjadi bagian dari rutinitas sebelum tidur, mereka berfungsi sebagai sinyal keamanan yang membantu tubuh lebih mudah tertidur. Saat pasangan tidak ada, sinyal tersebut ikut menghilang," ungkap Troxel.
Penyebab Kesulitan Tidur Saat Terpisah
Menurut Dr. Hrayr Attarian, seorang ahli neurologi dan Direktur Northwestern Medicine Center for Sleep, manusia memiliki kemampuan untuk membentuk kebiasaan melalui proses belajar. Jika seseorang terbiasa tidur di samping pasangan setiap malam, otak akan menghubungkan keberadaan pasangan dengan aktivitas tidur. "Orang cenderung tidur lebih baik ketika memiliki ritual tertentu sebelum tidur. Kehadiran pasangan dapat menjadi bagian dari ritual tersebut sehingga tubuh secara otomatis bersiap untuk beristirahat," jelas Attarian.
Dr. Joseph Dzierzewski, Wakil Presiden Senior Bidang Penelitian National Sleep Foundation, juga menambahkan bahwa rutinitas sederhana yang dilakukan bersama pasangan sebelum tidur, seperti membaca buku atau mengobrol, dapat menjadi sinyal kuat bahwa waktu tidur telah tiba. Rutinitas ini membantu tubuh memasuki kondisi rileks sehingga seseorang lebih mudah terlelap.
Rasa Aman dan Kualitas Tidur
Selain kebiasaan, kehadiran pasangan juga memberikan rasa aman yang berpengaruh pada kualitas tidur. Troxel menjelaskan bahwa tidur atau berpelukan dengan pasangan dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin, yang dikenal sebagai "hormon cinta". Hormon ini memiliki efek menenangkan dan dapat mengurangi kecemasan. Ketika kecemasan berkurang, tubuh menjadi lebih rileks, sehingga proses untuk tertidur menjadi lebih mudah.
Ketika pasangan tidak ada, seperti saat menjalani hubungan jarak jauh atau karena alasan lainnya, beberapa orang mungkin merasa kehilangan rasa nyaman tersebut, sehingga mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap. Penelitian menunjukkan bahwa tidur bersama pasangan berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik, termasuk tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidur sendiri.
Namun, tidak semua pasangan mengalami tidur yang lebih nyenyak saat berbagi tempat tidur. Beberapa orang justru menghadapi gangguan tidur akibat kebiasaan pasangan, seperti mendengkur atau perbedaan waktu tidur. Oleh karena itu, penting untuk menemukan pola tidur yang sesuai bagi kedua belah pihak agar dapat memperoleh istirahat yang berkualitas.
Cara Mengatasi Kesulitan Tidur Saat Jauh dari Pasangan
Jika Anda harus tidur terpisah untuk sementara, Troxel menyarankan agar tetap mempertahankan rutinitas sebelum tidur yang biasa dilakukan bersama pasangan. Misalnya, membaca buku atau mendengarkan musik yang menenangkan sebelum tidur. Dengan cara ini, tubuh tetap mengenali tanda bahwa waktu tidur telah tiba.
Dzierzewski juga menekankan pentingnya mempertahankan rutinitas tersebut meskipun pasangan tidak bersama. Bagi sebagian orang, menggunakan bantal peluk atau benda yang memiliki aroma pasangan dapat membantu menghadirkan rasa nyaman saat terpisah.