Kesehatan

Mengapa Perpisahan dari Hubungan Tanpa Status Menyakitkan?

Patah hati yang dialami seseorang sering kali lebih menyakitkan ketika berakhir dari hubungan tanpa status dibandingkan dengan perpisahan resmi. Hal ini menimbulkan kebingungan dan emosi yang kompleks...

M
Muhammad Rizki Ramadhan
02 July 2026 44 pembaca
Mengapa Perpisahan dari Hubungan Tanpa Status Menyakitkan?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com - Patah hati yang paling menyakitkan sering kali tidak berasal dari perpisahan yang resmi, melainkan dari hubungan tanpa status atau situationship. Banyak individu merasakan kesedihan yang mendalam setelah mengakhiri kedekatan yang belum lama terjalin. Keadaan ini tidak hanya membingungkan bagi mereka yang terlibat, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar mereka. Terkadang, pertanyaan sederhana mengenai pria tersebut dapat memicu tangisan seolah-olah baru saja mengalami perceraian setelah bertahun-tahun menikah.

Penyebab Emosi yang Berfluktuasi

Fase pendekatan dengan orang yang telah lama diidamkan sering kali menjadi momen yang ideal bagi cinta yang adiktif untuk tumbuh. Tanpa adanya kejelasan dalam status hubungan, perhatian dan kasih sayang yang diterima dapat berfluktuasi secara drastis, menciptakan pengalaman emosional yang naik turun bagi otak. "Ada romansa dan kesenangan yang penuh gairah, lalu beberapa hari berjarak, ada penghindaran, ketidakpastian, dan pesan yang campur aduk pada hari-hari lainnya," jelas terapis Naomi Bernstein, PsyD. Kondisi ini membuat individu yang mendambakan komitmen merasa "ketagihan" akan lonjakan dopamin yang pernah dirasakan pada saat-saat baik. Menurutnya, dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai 'penguatan intermiten', yang merupakan bentuk penghargaan yang paling kuat dan dapat menyebabkan kecanduan.

Gejala Layaknya Putus Obat

Oleh karena itu, saat hubungan berakhir, seseorang dapat merasakan gejala yang mirip dengan putus obat. "Ketika kamu tidak lagi mendapatkan lonjakan dopamin, kamu hancur, karenanya muncul perasaan depresi dan kecemasan atas orang yang memberi rasa mabuk kepayang itu," ungkap terapis Lindsey Brock. Terdapat alasan khusus mengapa rentang waktu tiga bulan sering dianggap sebagai "titik kritis" dalam hubungan. Bernstein menjelaskan bahwa pada periode ini, fase gairah mulai beralih ke fase kelekatan, di mana pihak yang lebih terikat biasanya mulai menuntut kejelasan status. Permintaan ini sering kali berujung pada akhir hubungan, seolah-olah dipaksa putus di tengah "fase bulan madu".

Dalam tiga bulan pertama, hubungan masih dipenuhi dengan romansa, dan individu belum memiliki cukup waktu untuk mengamati kelemahan atau kebiasaan buruk pasangan. Hal ini membuat seseorang terjebak dalam ekspektasi manis mengenai masa depan hubungan. "Sangat sulit bagi kebanyakan dari kita untuk menoleransi ketidakpastian, yang membuatnya hampir menjadi kebiasaan bagi otak kita untuk mengisi kekosongan dari hal-hal yang tidak diketahui dalam hidup," kata Brock. Namun, asumsi-asumsi ini sering kali tidak benar, sehingga mempersulit proses pemulihan setelah hubungan berakhir.

Kebiasaan Menyangkal Perasaan

Faktor terakhir yang memperlambat proses pemulihan adalah kebiasaan menyangkal perasaan. Sering kali, seseorang meyakinkan diri bahwa hubungan tersebut tidak nyata, sehingga merasa tidak berhak untuk bersedih. "Menghakimi perasaan kita membuatnya makin sulit untuk memproses dan melepaskannya," tegas Brock. Meskipun hubungan yang singkat tidak memenuhi standar sosial sebagai hubungan yang serius, bukan berarti seseorang tidak berhak merasakan kesedihan atas kehilangan tersebut.

Hubungan yang singkat masih dapat memicu perasaan sedih, penolakan, atau kekecewaan mendalam yang muncul seiring dengan perubahan rencana, impian, atau harapan masa depan. Oleh karena itu, penting untuk mengakui dan memproses emosi yang muncul, meskipun hubungan tersebut tidak dianggap serius oleh orang lain.

Artikel Terkait