Kesehatan

Mengapa Pembatalan Rencana Sering Membuat Kita Lega? Penjelasan dari Psikolog

Banyak orang merasa lega saat rencana bertemu dibatalkan, sebuah fenomena yang umum terjadi dan memiliki berbagai alasan psikologis di baliknya.

M
Maria Gabriella
06 July 2026 61 pembaca
Mengapa Pembatalan Rencana Sering Membuat Kita Lega? Penjelasan dari Psikolog
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Apakah Anda pernah merasa bersyukur ketika teman membatalkan rencana untuk berkumpul? Ternyata, perasaan ini cukup umum. Sebuah survei yang dilakukan oleh YouGov di Inggris pada tahun 2019 menunjukkan bahwa hampir sepertiga responden merasa lega saat rencana mereka dibatalkan. Psikolog dan pelatih eksekutif bersertifikat, Dr. Anne Welsh, menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki banyak lapisan makna, mulai dari kelelahan hingga kebutuhan akan ruang pribadi yang lebih.

Alasan di Balik Rasa Lega Saat Rencana Dibatalkan

Ketika rencana dibatalkan, ada banyak alasan yang membuat seseorang merasa bahagia. Pertama, pembatalan memberikan kembali waktu luang yang berharga. "Saat dibatalkan, hal itu bisa memberikan rasa bebas," ungkap Welsh. Selain itu, pembatalan juga memberi otonomi karena Anda memiliki pilihan penuh atas sisa waktu yang tersedia. Ada pula rasa lega karena bukan Anda yang membatalkan, sehingga terhindar dari perasaan bersalah atau mengecewakan orang lain.

Menariknya, perasaan lega ini tidak hanya dialami oleh orang-orang introvert. Siapa pun dapat merasakannya sebagai cerminan dari berbagai faktor, seperti stres, kelelahan, atau bahkan kecemasan sosial. Namun, mengapa kita tetap membuat rencana meskipun pada akhirnya merasa terbebani? Menurut Welsh, sering kali kita setuju untuk membuat rencana karena antusiasme di awal. "Kita membuat rencana berdasarkan energi yang kita harap akan kita miliki, dan baru menyadari bahwa kita sudah terlalu lelah saat waktunya tiba," jelasnya.

Karakteristik Orang yang Merasa Lega Saat Rencana Dibatalkan

Welsh mengidentifikasi sembilan karakteristik yang sering ditemui pada orang-orang yang merasa bersyukur ketika rencana sosial mereka dibatalkan:

  1. Sangat bertanggung jawab: Anda menganggap serius kewajiban dan merasa tertekan untuk melakukannya dengan sempurna.
  2. Selalu ingin menyenangkan orang lain: Anda sangat peka terhadap kebutuhan orang lain, sehingga pembatalan rencana menjadi kesempatan untuk beristirahat.
  3. Memikul beban mental yang berat: Anda sudah cukup pusing dengan berbagai urusan, dan rencana yang batal berarti mengurangi beban yang harus dikelola.
  4. Mudah antusias di awal: Anda sering melebih-lebihkan waktu dan energi yang dimiliki, dan ketika satu rencana dibatalkan, Anda mendapatkan ruang kosong yang dibutuhkan.
  5. Mudah kewalahan: Anda memerlukan tenaga ekstra untuk beralih dari mode kerja ke mode santai, dan pembatalan rencana membantu menghemat energi tersebut.
  6. Kelebihan stimulasi: Meskipun menyukai teman-teman, Anda tidak tahan dengan keramaian, sehingga pembatalan mengurangi rangsangan sosial.
  7. Sangat mandiri: Anda menjaga kebebasan dan merasa lebih baik ketika rencana dibatalkan.
  8. Punya kecemasan antisipatif: Anda mengalami kecemasan sosial, dan pembatalan dapat meredakan perasaan tersebut.
  9. Sosok yang bisa diandalkan: Anda sering menjadi pengatur jadwal dalam pertemanan, sehingga pembatalan memberi izin untuk berhenti sejenak mengurus orang lain.

Meskipun perasaan lega ini wajar, penting untuk waspada jika hal itu berujung pada kebiasaan menjauh dari lingkungan sosial. Jika Anda merasa lelah terus-menerus, mudah marah, atau menganggap setiap ajakan sebagai beban, hal ini tidak boleh diabaikan. Menghindar dari interaksi sosial bisa menjadi pola yang menguat dengan sendirinya. "Membatalkan rencana mungkin mengurangi kecemasan sesaat, tetapi jika seseorang semakin menarik diri dari hubungan yang mendukung, berbicara dengan profesional kesehatan mental mungkin bisa membantu," jelas Welsh.

Artikel Terkait