Pernahkah Anda mencoba membuka media sosial atau membaca berita hanya untuk beberapa menit, tetapi tanpa sadar menghabiskan waktu berlama-lama untuk mengikuti kabar-kabar yang negatif? Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menggulir berita atau konten yang dapat memicu kecemasan, kesedihan, atau ketakutan. Meskipun sering kali membuat suasana hati memburuk, banyak orang merasa sulit untuk menghentikannya. Lalu, apa yang menyebabkan otak kita tertarik pada berita buruk?
Keinginan untuk Memiliki Kendali
Psikoterapis dan pelatih mental Tess Brigham, MFT, menjelaskan bahwa salah satu alasan utama mengapa seseorang terus membaca berita negatif adalah keinginan untuk merasa lebih siap menghadapi situasi yang tidak pasti. Menurut Brigham, banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak informasi yang mereka miliki, semakin besar pula kendali yang mereka rasakan terhadap keadaan di sekeliling mereka. "Orang melakukan doomscrolling karena berbagai alasan. Salah satu yang utama adalah untuk merasa memiliki kendali di dunia yang terasa semakin sulit diprediksi," ungkapnya.
Kecenderungan Otak Manusia
Brigham juga menjelaskan bahwa kecenderungan untuk mencari informasi negatif berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Sejak zaman purba, manusia memiliki naluri untuk lebih cepat memperhatikan potensi ancaman sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup. Kemampuan untuk mengenali bahaya membantu nenek moyang kita menghindari risiko dan meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. Meskipun kondisi kehidupan modern sangat berbeda, otak kita masih membawa mekanisme yang sama. Oleh karena itu, berita mengenai bencana, konflik, atau krisis sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan dengan kabar baik. "Kita secara naluriah diprogram untuk bertahan hidup dan mengenali hal-hal yang berpotensi membahayakan kita," jelas Brigham.
Kecemasan yang Meningkat
Brigham menambahkan bahwa doomscrolling lebih sering dialami oleh individu yang memiliki kecenderungan mengalami kecemasan. Ini termasuk mereka yang hidup dengan gangguan kecemasan, gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan stres pascatrauma (PTSD), serta kecemasan sosial. Semakin tinggi tingkat kecemasan seseorang, semakin besar pula dorongan untuk mencari informasi sebagai cara untuk merasa aman. Namun, alih-alih memberikan ketenangan, paparan berita negatif yang terus-menerus justru dapat memperkuat rasa khawatir. "Semakin cemas kita, semakin kita ingin mengendalikan situasi dan orang-orang di sekitar. Mendapatkan informasi tampak seperti cara untuk mengendalikan keadaan, padahal justru menciptakan lebih banyak kecemasan dan ketakutan," ungkapnya.
Kesulitan untuk Berhenti
Salah satu alasan yang membuat doomscrolling sulit dihentikan adalah karena kebiasaan ini sering dilakukan secara otomatis. Seseorang mungkin hanya berniat membuka ponsel selama beberapa menit, tetapi kemudian berpindah dari satu berita ke berita lain, membaca komentar, hingga mengikuti berbagai unggahan yang tidak mereka cari sejak awal.
Dampak Negatif bagi Kesehatan Mental
Meskipun memberikan kesan seolah-olah selalu mendapatkan informasi terbaru, doomscrolling tidak memberikan manfaat yang sebanding bagi kesehatan mental. Brigham menyatakan bahwa kebiasaan ini justru dapat meningkatkan kecemasan, membuat seseorang lebih mudah merasa takut terhadap dunia di sekitarnya, serta mengganggu kemampuan untuk menikmati momen saat ini. Paparan informasi negatif secara terus-menerus juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Gambaran atau berita yang baru saja dibaca dapat terus muncul dalam pikiran ketika seseorang mencoba beristirahat, sehingga tubuh menjadi lebih sulit rileks dan pikiran tetap dalam kondisi waspada.
Strategi Mengurangi Doomscrolling
Brigham menyarankan agar seseorang tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber yang kredibel, tetapi membatasi durasi mengonsumsi berita setiap hari. Dia juga merekomendasikan untuk menghindari media yang cenderung sensasional serta memilih ringkasan berita dari sumber tepercaya. Selain itu, ketika mulai menyadari diri terjebak dalam doomscrolling, cobalah mengalihkan perhatian ke aktivitas lain, seperti berjalan kaki, membaca buku, berbincang dengan keluarga, atau menikmati konten yang lebih positif. Menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, misalnya sekitar 20 menit untuk membaca berita, juga dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut tanpa membuat seseorang kehilangan informasi penting.