Kehidupan modern memberikan berbagai kemudahan, tetapi di sisi lain, juga menghadirkan tekanan yang terus menerus. Notifikasi dari ponsel, interaksi di media sosial, tuntutan pekerjaan, persaingan, serta kekhawatiran mengenai ekonomi dan masa depan dapat menyebabkan seseorang merasa stres, cemas, kesepian, atau bahkan kelelahan mental. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh fenomena yang dikenal sebagai ketidakcocokan evolusioner.
Konsep ketidakcocokan evolusioner menjelaskan adanya jurang antara lingkungan di mana manusia berevolusi selama ratusan ribu tahun dan kondisi kehidupan yang dihadapi saat ini. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioural Sciences menjelaskan bahwa otak manusia berkembang dalam konteks yang sangat berbeda dari kehidupan modern.
Perubahan Lingkungan dan Dampaknya
Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, individu hidup dalam kelompok kecil dan akrab dengan orang-orang di sekitarnya, serta menghadapi ancaman yang lebih langsung. Namun, kehidupan modern menghubungkan individu dengan lebih banyak orang, termasuk melalui platform digital. Kepadatan kota, konektivitas yang terus-menerus, dan media sosial, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, menciptakan kondisi yang dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan lingkungan yang dihadapi manusia selama proses evolusi. Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang mengalami stres berkepanjangan, kesepian, dan kecemasan.
Para peneliti menilai bahwa perasaan tersebut tidak selalu harus dianggap sebagai masalah pribadi. Lingkungan di mana seseorang tinggal juga dapat memengaruhi kondisi mental mereka.
Persaingan yang Tak Berujung
Masalah ini tidak hanya muncul dari media sosial. Studi tersebut juga menyoroti fenomena yang dikenal sebagai "polikrisis", yaitu situasi di mana berbagai tekanan terjadi secara bersamaan. Perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, pandemi, dan perkembangan teknologi yang cepat, termasuk kecerdasan buatan, dapat menciptakan tekanan yang saling bertumpuk. Hal ini berpotensi memperkuat rasa tidak aman dan persaingan, serta meningkatkan risiko kelelahan mental atau burnout.
Psikolog lingkungan, Sarah Chan, yang terlibat dalam penelitian tersebut, menyatakan bahwa stres, kesepian, dan kecemasan sering kali dianggap sebagai masalah pribadi atau gaya hidup. "Namun, hal ini juga dapat mencerminkan ketidakcocokan antara lingkungan tempat manusia hidup dan kondisi yang sejak awal berkembang untuk dihadapi oleh pikiran dan tubuh kita," jelasnya.
Meskipun demikian, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa manusia harus kembali ke cara hidup di masa lalu. Sebaliknya, kajian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ketidakcocokan tersebut agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan psikologis manusia. "Kita perlu merancang intervensi yang bekerja selaras dengan sifat alami manusia yang terbentuk melalui evolusi, bukan melawannya," ungkap Dr. Jose Yong, salah satu penulis studi.
Para peneliti juga menekankan pentingnya desain kota dan komunitas. Menurut mereka, kepadatan kota tidak selalu menjadi satu-satunya faktor yang menentukan rasa sesak atau tertekan. Cara sebuah kota dan komunitas dirancang dapat memengaruhi pengalaman individu yang tinggal di dalamnya. Dengan memahami aspek kehidupan modern yang mungkin tidak selaras dengan kebutuhan alami manusia, diharapkan pembuat kebijakan dan perancang lingkungan dapat menciptakan ruang hidup yang lebih mendukung kesejahteraan mental.