Kesehatan

Kualitas Udara Jakarta Berbahaya, Dapat Menyebabkan Kerusakan Kulit

Kualitas udara di Jakarta pada Selasa pagi terdeteksi dalam kategori tidak sehat dengan indeks 163, di mana polusi terutama disebabkan oleh partikel halus PM2.5. Paparan polusi ini berisiko merusak ke...

A
Angelica Putri Wijaya
22 September 2026 62 pembaca
Polusi udara di Kota Jakarta.(Unsplash)
Polusi udara di Kota Jakarta.(Unsplash)

JAKARTA - Pada Selasa (22/9/2026) pagi, kualitas udara di Jakarta tercatat tidak sehat dengan skor indeks mencapai 163. Polusi yang tinggi ini didominasi oleh partikel halus PM2.5 yang konsentrasinya mencapai 73 mikrogram per meter kubik. Selama ini, imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan atau menggunakan masker lebih difokuskan pada pencegahan gangguan pernapasan. Namun, paparan udara yang tercemar juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan kulit wajah jika tidak ditangani dengan baik.

Bahaya Partikel Polutan bagi Kesehatan Kulit

Partikel polutan yang sangat kecil ini dapat dengan mudah menembus lapisan pelindung tubuh. Spesialis kulit, dr. Marie Jhin, MD, menjelaskan bahwa partikel halus dari polusi perkotaan dan asap memiliki potensi merusak yang jauh lebih besar dibandingkan kotoran biasa. "Hal yang membuat asap kebakaran hutan dan polusi perkotaan berbeda dari kotoran biasa adalah penetrasi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setelah partikel tersebut masuk ke dalam kulit, mereka dapat menghasilkan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif, merusak kolagen, dan memicu peradangan.

Dampak Polusi Udara pada Kulit dan Cara Perawatannya

Kondisi udara yang tercemar tidak hanya meninggalkan debu yang terlihat di permukaan kulit, tetapi juga secara perlahan merusak sel-sel penyusun wajah. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah dalam rutinitas perawatan kulit sehari-hari. "Polusi udara dapat menyebabkan penuaan kulit dini, hiperpigmentasi, dan dapat memperburuk kondisi seperti eksim, rosacea, serta jerawat," ungkap dr. Melissa K. Levin, MD, spesialis kulit dan pendiri Entiere Dermatology.

Menanggapi ancaman tersebut, masyarakat mulai mencari berbagai produk yang diklaim mampu memberikan perlindungan dari polusi. Namun, banyak produk antipolusi ini masih mengandalkan bahan-bahan aktif yang populer seperti ceramide, vitamin C, dan niacinamide, yang diramu untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap kerusakan akibat lingkungan yang kotor.

Walaupun industri produk antipolusi berkembang pesat, keefektifan produk-produk tersebut masih diperdebatkan. Dr. Raj Fadadu, MD, seorang spesialis kulit di UC San Diego, berpendapat bahwa banyak klaim perlindungan dari produk perawatan mahal tersebut belum tentu sekuat yang tertera di label. "Banyak kehebohan yang mungkin hanya spekulatif tanpa bukti klinis yang kuat," katanya. Ia menyarankan agar alih-alih bergantung pada produk antipolusi yang mahal, lebih baik melakukan langkah pencegahan dasar seperti rutin mencuci muka, membatasi waktu di luar ruangan, menutup jendela dengan rapat, dan selalu menggunakan masker.

Ahli kecantikan utama di Rescue Spa, Diana Yerkes, juga menekankan pentingnya teknik pembersihan yang tepat. Banyak klien yang datang dengan wajah kusam dan kotor akibat polusi. "Pada akhirnya, pembersihan adalah langkah paling penting," ujarnya. Yerkes merekomendasikan metode double cleansing menggunakan produk berbahan dasar minyak untuk menghilangkan sisa tabir surya dan debu polusi. "Mantel kulit kamu terbuat dari minyak, dan ketika kamu mengoleskan minyak pada minyak, itu menghilangkan semua sisa kotoran lebih efisien daripada saat kamu mengikisnya dengan sabun berbusa," tambahnya.

Artikel Terkait