JAKARTA - Memiliki umur yang panjang adalah sebuah berkah, tetapi hal ini akan kurang berarti jika tidak diimbangi dengan kesehatan fisik yang baik saat menua. Saat ini, dunia menghadapi fenomena peningkatan harapan hidup yang disertai dengan meningkatnya angka penyakit tidak menular.
Menurut data dari WHO dan BPS Indonesia yang disampaikan oleh dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, rata-rata harapan hidup global kini mencapai 73,6 tahun. Namun, di Indonesia, angka usia sehat masih berada di bawah rata-rata global, yaitu 63,1 tahun, dengan kesenjangan mencapai 8,3 tahun. Banyak orang yang menghabiskan sisa hidup mereka dalam kondisi menderita penyakit kronis atau mengalami disabilitas fisik.
Penyakit Tidak Menular dan Kualitas Hidup Lansia
Dalam sebuah talkshow bertema "Rahasia Modern untuk Panjang Umur, Bongkar di Sini!" yang berlangsung di Ageless Festival di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, dr. Febby menjelaskan, "Umur tuh kita enggak bisa hindari. Setiap tahun kita akan bertambah umur, tapi kalau declining daripada kognitif kita, kesehatan kita, itu opsional." Tingginya angka penderita penyakit tidak menular menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kualitas hidup masyarakat lanjut usia.
Data yang disampaikan dr. Febby menunjukkan bahwa 76 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit seperti jantung, diabetes, dan kanker. Hal ini menjadi perhatian serius, terutama karena Indonesia diprediksi akan menjadi masyarakat yang menua, dengan 20 persen penduduknya berusia lanjut pada tahun 2045.
Pentingnya Layanan Kesehatan Preventif
Melihat kondisi tersebut, keberadaan pusat layanan medis yang fokus pada pencegahan menjadi semakin penting. Pusat layanan tersebut sebaiknya menawarkan konsep one stop service yang memudahkan masyarakat dalam mendapatkan perawatan. "Di situ ada wellness, ada aesthetic, and then ada sports and rehab juga. Jadi orang yang mau cantik bisa secara di luarnya, secara sehat di dalamnya juga bisa," jelas dr. Febby mengenai pentingnya fasilitas kesehatan yang terintegrasi.
Dia menambahkan, "Mumpung masih pada muda-muda, masih produktif, ini sebenarnya waktu yang tepat untuk kita nabung kesehatan kita ke depannya." Untuk mengatasi kesenjangan usia sehat, langkah pertama adalah memahami apa yang terjadi di dalam sel manusia.
Dr. Febby menjelaskan bahwa munculnya berbagai penyakit kronis degeneratif biasanya terkait dengan empat masalah mendasar dalam tubuh, yaitu disfungsi mitokondria, inflamasi yang meningkat, ketidakseimbangan hormonal, dan disfungsi otonom. Ia mengibaratkan disfungsi mitokondria seperti kerusakan pada pusat tenaga listrik di perkotaan, yang berdampak pada rendahnya energi dan metabolisme tubuh.
Meskipun statistik penyakit degeneratif mengkhawatirkan, dr. Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM), atau dr. Kris, menegaskan bahwa kerusakan metabolisme tubuh di usia lanjut bukanlah vonis yang tidak dapat diperbaiki. "Sistem kesehatan seseorang itu sangat bisa reversible, bisa diperbaiki. Pertama kita pasti coba dengan perubahan pola hidup dulu," ujarnya.
Pengobatan yang fokus pada perbaikan akar masalah ini mengutamakan pendekatan nutrisi dan aktivitas fisik, dibandingkan dengan intervensi kimia. Modifikasi ini mencakup konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan cukup istirahat setiap hari. "Kita akan usahakan dari pola hidup pasiennya dulu," jelas dr. Kris. "Tapi kalau misalnya memang dengan itu dirasa masih perlu bantuan dari luar, kita bahkan bantu dari treatment-treatment dari luar."
Ia menekankan bahwa langkah perbaikan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang ada atau tidaknya riwayat medis keluarga. "Tidak ada penyakit bawaan pun itu tetap bisa kita kembalikan kok fungsi kesehatannya, kita usahakan supaya bisa jadi lebih muda dari usia pasien," tambah dr. Kris.