Kehilangan pekerjaan sering kali memaksa seseorang untuk mencari alternatif demi mendapatkan penghasilan, seperti yang dialami oleh Amsiyah, atau Teh Aam. Setelah bekerja sebagai buruh pabrik selama sepuluh tahun, ia terkena PHK akibat pandemi Covid-19. Pada saat itu, Aam dan suaminya sama-sama kehilangan pekerjaan, sementara anak mereka masih balita. Dalam keadaan sulit tersebut, Amsiyah mulai berjualan untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Di tengah kesulitan, Aam memutuskan untuk belajar makeup. Pada tahun 2021, ia mengikuti pelatihan Beauty For a Better Life (BFBL) dan secara bertahap membangun karirnya sebagai makeup artist (MUA).
Perjalanan Belajar Makeup Setelah PHK
Sebelum terjun ke dunia makeup, Amsiyah menghabiskan waktu di pabrik. Ketika pandemi melanda, ia dan suaminya mengalami PHK, dan anaknya yang masih kecil mengharuskan Aam untuk mencari cara baru untuk bertahan. "Saya waktu itu kena PHK, suami juga kena PHK. Anak saya masih kecil, sekitar 14 bulan. Jadi saya sempat jualan karena waktu itu tidak ada pemasukan," jelas Aam saat berkunjung ke BFBL Tangerang Training Center L'Oréal Indonesia.
Setelah mendapatkan informasi mengenai pelatihan BFBL yang gratis, Aam merasa tertarik untuk mengikuti program tersebut agar bisa belajar makeup dan menjadi MUA. Ia menyadari bahwa pelatihan berbayar memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Belajar Makeup Tanpa Kendaraan
Amsiyah mengikuti pelatihan BFBL di Tangerang pada tahun 2021. Karena tidak memiliki kendaraan, ia harus menggunakan ojek untuk pergi ke lokasi pelatihan. Meskipun anaknya masih menyusu dan berusia sekitar 20 bulan, Aam tetap melanjutkan pelatihan meskipun harus meninggalkan anaknya sementara. Pelatihan berlangsung selama dua bulan, dan Aam rutin berlatih di rumah untuk meningkatkan keterampilannya.
"Saya setiap minggu latihan di rumah. Yang paling sering saya latihan itu alis, karena saya ingin bisa dan memang harus bisa," ungkapnya. Usahanya membuahkan hasil ketika ia mulai menerima pesanan makeup untuk pengantin sebelum menyelesaikan pelatihan.
Meskipun telah mendapatkan pesanan pertama, Aam masih menghadapi kendala dalam hal peralatan. Selama pelatihan, ia meminjam peralatan dari L'Oréal Indonesia, tetapi saat menerima pekerjaan di luar pelatihan, ia membutuhkan perlengkapan sendiri. Untuk itu, Aam menggunakan uang muka dari pengantin untuk membeli alat makeup yang diperlukan. "Pas dapat job pengantin pertama, saya belum punya alat. Jadi DP dari pengantin itu saya pakai untuk beli alat makeup," jelasnya.
Perjalanan menjadi MUA tidak selalu mulus. Setelah menyelesaikan salah satu pekerjaan, Aam hanya memiliki sisa uang sekitar Rp200.000. "Selesai job itu uang saya tinggal Rp200.000. Saya sempat berpikir, 'Apa sudah, enggak usah dilanjutkan saja ya?'" ceritanya. Namun, setelah itu, tujuh calon pengantin memesan jasanya untuk bulan berikutnya, dan uang dari pekerjaan tersebut digunakan Aam untuk membeli kebutuhan usaha serta mulai membangun salon dan galeri busana pengantin.
Setahun setelah memulai karir sebagai MUA, Amsiyah berhasil membuka salon dan galeri sendiri. Teman-teman sesama alumni dapat menyewa busana atau terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan makeup dan pernikahan. Aam tidak ingin berhenti di situ; ia kini juga berperan sebagai trainer BFBL, membagikan keterampilan makeup kepada peserta lainnya.
"Kalau belum punya modal, jangan menyerah. Yang penting skill makeup-nya dulu diperbaiki. Nanti kalau sudah punya skill, Insya Allah ada saja kesempatan dan rezekinya," pesan Aam. Program BFBL telah berjalan selama 12 tahun dan menjangkau sekitar 7.000 perempuan di Indonesia melalui pelatihan kecantikan profesional secara gratis. Di BFBL Training Center Tangerang, sekitar 1.000 peserta terdaftar, dan sekitar 65 persen di antaranya sudah bekerja menggunakan keterampilan yang dipelajari.