Keseleo menjadi salah satu jenis cedera yang sering dialami oleh orang saat berolahraga, terutama dalam kegiatan yang memerlukan banyak perubahan arah, seperti padel, tenis, dan sepak bola. Banyak orang yang menganggap keseleo sebagai cedera ringan karena mereka masih dapat berjalan setelah mengalami cedera tersebut, sehingga memilih untuk membiarkannya sembuh dengan sendirinya. Namun, penting untuk tidak meremehkan keseleo.
Dokter Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, keseleo dapat menunjukkan adanya robekan pada ligamen. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat menimbulkan masalah pada sendi di kemudian hari. Keseleo sebenarnya adalah istilah umum untuk cedera pada ligamen atau sprain, yang merupakan jaringan penghubung antar tulang dan berfungsi untuk menjaga kestabilan sendi.
Pentingnya Menangani Keseleo dengan Serius
“Ligamen itu adalah jaringan pengikat. Jadi tidak selalu cedera itu berkaitan dengan tulang. Ligamen yang mengikat antara tulang ini bisa robek. Meskipun ada memar dan bengkak, seseorang masih bisa berjalan, apakah itu berarti selalu patah tulang? Tidak selalu, bisa jadi ligamennya yang robek,” ungkap dr. Gabriel.
Robekan ligamen biasanya disertai dengan gejala nyeri, bengkak, dan memar pada area yang terkena. Masalah utama dari keseleo, menurut dr. Gabriel, adalah risiko robekan ligamen yang tidak ditangani dengan baik. Meskipun beberapa orang mungkin tidak menganggap robekan ini penting, bagi mereka yang aktif, robekan ligamen dapat mengganggu kestabilan sendi dan dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Risiko Pengapuran Akibat Keseleo
Ligamen yang robek dapat menyebabkan ketidakstabilan sendi. Ketidakstabilan ini tidak selalu terlihat jelas, tetapi dapat terjadi dalam bentuk pergeseran kecil yang berulang saat sendi digunakan. “Karena robekan itu kadang-kadang jika tidak diperbaiki, engkelnya bisa menjadi goyang. Goyangan ini disebut micro motion, dan itu menyebabkan risiko pengapuran,” jelas dr. Gabriel.
Pengapuran yang dimaksud adalah osteoarthritis, yaitu kerusakan pada sendi akibat menipisnya bantalan sendi dan gesekan yang terus-menerus, yang dapat memicu nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi sendi.
Dr. Gabriel menekankan bahwa tidak semua kasus keseleo memerlukan tindakan medis yang serius. Yang terpenting adalah memastikan jenis cedera yang dialami melalui pemeriksaan oleh tenaga medis. Ia mengingatkan bahwa keseleo, robekan ligamen, retak tulang, dan patah tulang dapat menunjukkan gejala yang mirip, sehingga sulit untuk membedakannya tanpa pemeriksaan fisik atau penunjang seperti rontgen atau MRI.
“Yang pertama harus ke dokter ortopedi. Mereka dapat menilai langsung apakah ada patah tulang atau tidak. Selanjutnya, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, misalnya MRI atau X-ray, untuk memastikan adanya kerusakan lebih lanjut,” kata dr. Gabriel. Pemeriksaan yang dilakukan sejak awal akan membantu dalam menentukan penanganan yang tepat, sehingga sendi dapat pulih dengan baik dan risiko komplikasi, termasuk pengapuran di masa depan, dapat diminimalkan.