Jakarta menjadi saksi pergelaran busana SMERTI yang diselenggarakan oleh jenama fesyen Iwan Tirta bersama BCA. Acara ini berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026, dan menjadi momen bersejarah sebagai peragaan busana pertama yang diadakan di lokasi tersebut. SMERTI dirancang untuk menggali memori mendalam mengenai hubungan antara manusia, tempat, alam, dan budaya yang membentuk identitas saat ini.
Koleksi ini terinspirasi dari jejak-jejak yang tersimpan dalam ingatan, yang berubah seiring waktu dan kembali hadir dalam bentuk baru untuk menyongsong masa depan. Dalam pergelaran ini, Iwan Tirta menampilkan 50 tampilan busana pria dan wanita yang mengusung pendekatan struktur arsitektural yang lebih fleksibel. Koleksi ini menonjolkan kombinasi konstruksi garis yang terukur dengan siluet yang lembut dan dinamis.
Kreasi Busana Berbasis Lingkungan
Busana yang ditampilkan dibuat secara eksklusif menggunakan kain batik yang terbuat dari 100 persen katun dan serat Tencel, serta diperkaya dengan elemen tambahan dari sutra dan denim. Motif-motif yang dihadirkan bukan sekadar pengulangan masa lalu, tetapi diolah kembali melalui modifikasi skala, komposisi, dan penempatan yang memberikan ritme baru. Elemen-elemen yang familiar kadang muncul utuh, namun seringkali terfragmentasi, mencerminkan cara kerja memori.
Menariknya, Iwan Tirta juga berkolaborasi dengan organisasi lingkungan WWF, mengingat beberapa motif dalam koleksi ini terinspirasi oleh satwa endemik Indonesia yang terancam punah, seperti badak dan gajah. Hal ini menunjukkan komitmen Iwan Tirta untuk menjaga warisan budaya Nusantara tetap hidup dan relevan.
Mempersembahkan Seni Melalui Ruang Imersif
Kehadiran SMERTI adalah pernyataan tekad untuk menjadikan warisan budaya sebagai bahasa visual yang terus berkembang. CEO Iwan Tirta, Widiyana Sudirman, menjelaskan, “SMERTI lahir dari cara kami memandang memori sebagai sesuatu yang hidup. Karya dan pemikiran Iwan Tirta memberikan pijakan bagi kami untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik dalam konteks hari ini.” Ia menambahkan bahwa koleksi ini bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk meneruskan semangat penciptaan dalam bentuk baru.
Pemilihan Gedung Kesenian Jakarta sebagai lokasi pergelaran didasari oleh kesamaan visi dalam melestarikan jejak seni lintas generasi. Art Director Shadtoto Prasetio merancang peragaan ini untuk tidak hanya menjadi ajang pamer busana, tetapi juga untuk merespons karakter gedung melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme. “Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan,” ujarnya.
Presentasi artistik ini mencapai puncaknya dengan penampilan dari grup musik Efek Rumah Kaca, menjadikan pengalaman penonton semakin imersif. Kolaborasi dengan berbagai aksesori dan dukungan dari berbagai pihak turut memperkaya penampilan keseluruhan, menciptakan suasana yang harmonis antara busana dan seni.