Sikat gigi adalah alat yang digunakan setiap hari untuk menjaga kebersihan mulut. Meskipun begitu, sikat gigi juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, virus, dan jamur, terutama ketika seseorang sedang sakit. Lalu, seberapa sering sebaiknya kita mengganti sikat gigi? Apakah perlu membuangnya setelah sembuh dari penyakit?
Menurut rekomendasi dari American Dental Association, sikat gigi sebaiknya diganti setiap tiga hingga empat bulan. Namun, penggantian ini bisa dilakukan lebih cepat jika bulu sikat sudah terlihat rusak. Dokter anak Jason Nagata dari UCSF Benioff Children's Hospital menjelaskan bahwa bulu sikat yang melebar, melengkung, atau melunak adalah tanda bahwa sudah saatnya untuk mengganti sikat gigi.
Perubahan pada Bulu Sikat Menjadi Indikator Penting
Perubahan bentuk pada bulu sikat tidak hanya membuatnya tampak kurang baik, tetapi juga dapat mengurangi efektivitasnya dalam membersihkan gigi. Bulu sikat yang sudah tidak dalam kondisi optimal tidak dapat menjangkau permukaan gigi dan area di sekitar gusi dengan baik.
Dengan kata lain, tidak perlu menunggu hingga sikat gigi terlihat sangat kotor untuk menggantinya. Perubahan pada bulu sikat bisa menjadi indikator yang sederhana namun penting untuk diperhatikan.
Apakah Sikat Gigi Harus Dibuang Setelah Sakit?
Banyak orang merasa khawatir bahwa sikat gigi yang digunakan saat sakit dapat menyebabkan infeksi kembali. Namun, Nagata menyatakan bahwa infeksi ulang dari sikat gigi sendiri jarang terjadi pada orang yang sehat. “Sistem kekebalan tubuh biasanya sudah mengembangkan antibodi dan pertahanan lain yang dapat mengenali serta menghilangkan virus atau bakteri yang sama jika seseorang kembali terpapar dalam waktu dekat setelah sembuh,” ungkapnya.
Meski demikian, dokter gigi dan prostodontis Briar Voy mengingatkan bahwa sikat gigi yang disimpan dalam kondisi lembab atau di dalam wadah tertutup dapat membuat bakteri bertahan lebih lama. Oleh karena itu, perhatian lebih perlu diberikan setelah mengalami infeksi tertentu. Nagata menambahkan bahwa pada infeksi bakteri seperti radang tenggorokan akibat streptokokus, bakteri dapat bertahan di sikat gigi selama beberapa hari. Mengganti sikat gigi setelah menyelesaikan pengobatan bisa menjadi langkah pencegahan yang bijak.
Pentingnya Penyimpanan Sikat Gigi yang Benar
Selain rutin mengganti sikat gigi, cara menyimpannya juga sangat penting. Voy menyarankan agar sikat gigi dibilas dengan air mengalir setelah digunakan, lalu disimpan dalam posisi tegak agar dapat mengering dengan baik. Sikat gigi sebaiknya tidak disimpan terlalu dekat dengan milik anggota keluarga lain. Menurut Voy, risiko kontaminasi silang dari sikat gigi yang diletakkan terlalu dekat justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan risiko infeksi ulang pada diri sendiri.
“Yang lebih saya khawatirkan adalah menularkan kuman kepada anggota keluarga lain dibandingkan mengalami infeksi ulang, akibat sikat gigi yang disimpan terlalu berdekatan,” kata Voy. Ia juga menyarankan untuk tidak menggunakan penutup atau wadah sikat gigi ketika bulunya masih basah, karena kondisi lembab dapat membuat kuman bertahan lebih lama.