Kesehatan

Dampak Trauma pada Kesehatan Tubuh: Apa yang Perlu Diketahui?

Trauma dapat meninggalkan jejak pada tubuh yang berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental seseorang. Reaksi tubuh terhadap trauma sering kali muncul dalam bentuk ketegangan, sakit, dan gangguan tidu...

Y
Yusuf Ahmad Pratama
16 July 2026 63 pembaca
Dampak Trauma pada Kesehatan Tubuh: Apa yang Perlu Diketahui?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Kondisi fisik yang tidak nyaman seperti ketegangan, sakit kepala, atau kesulitan tidur sering kali muncul saat seseorang teringat akan pengalaman traumatis. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh dapat menyimpan jejak stres dari peristiwa yang menyakitkan, meskipun pikiran berusaha untuk melupakan. Psikolog dari Whitefield Hospital di Bengaluru, Mr. S Giriprasad, menjelaskan bahwa trauma dapat memengaruhi berbagai sistem dalam tubuh, termasuk saraf, hormonal, otot, dan kekebalan tubuh, dan dampak tersebut dapat bertahan hingga individu mengalami pemulihan yang sebenarnya.

Respons Tubuh Terhadap Trauma

Ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis, tubuh akan secara otomatis merespons dengan mekanisme bertahan hidup. Respons ini dapat berupa melawan (fight), melarikan diri (flight), atau membeku (freeze). “Tubuh merespons pengalaman traumatis melalui tiga mekanisme bertahan hidup, yaitu melawan, melarikan diri, dan membeku. Ketika seseorang menghadapi trauma berat yang tidak dapat diselesaikan, sistem saraf gagal kembali ke kondisi rileks secara alami,” ungkap Giriprasad. Dalam situasi seperti ini, tubuh tetap dalam posisi defensif karena menganggap ancaman masih ada, meskipun bahaya telah berlalu.

Jejak trauma tidak selalu muncul dalam bentuk ingatan yang jelas. Sebaliknya, tubuh dapat menunjukkan reaksi yang tidak terduga, seperti sensasi mendadak, gerakan otomatis, ketegangan otot yang berkepanjangan, atau perubahan kondisi mental yang datang tiba-tiba.

Stres yang Tersimpan dan Dampaknya

Trauma yang belum sepenuhnya teratasi dapat menyebabkan tubuh berada dalam keadaan stres yang berkepanjangan. Dalam kondisi ini, tubuh terus berfungsi seolah-olah sedang menghadapi ancaman, yang dapat mengakibatkan ketegangan otot, peradangan, dan ketidakseimbangan hormon. “Keadaan aktivasi yang terus berlangsung pada akhirnya dapat menyebabkan sakit kepala kronis, nyeri punggung dan leher, gangguan pencernaan, kelelahan, kambuhnya penyakit autoimun, serta gangguan tidur,” jelas Giriprasad. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dapat tetap berada pada tingkat tinggi dalam waktu yang lama, sehingga energi tubuh lebih banyak digunakan untuk mempertahankan fungsi bertahan hidup.

Akibatnya, individu yang mengalami trauma mungkin merasakan keluhan fisik meskipun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya masalah yang jelas. Membedakan antara penyakit fisik biasa dan respons tubuh akibat trauma bisa menjadi tantangan. Namun, ada pola tertentu yang dapat membantu. “Gejala fisik yang berkaitan dengan trauma sering memburuk ketika seseorang mengalami stres emosional atau konflik, maupun saat menghadapi pengingat dari peristiwa masa lalu,” tambahnya. Keluhan tersebut juga dapat berubah dengan cepat, dan tingkat keparahannya tidak selalu sebanding dengan hasil pemeriksaan medis. Sebaliknya, gejala bisa membaik ketika individu merasa aman secara emosional.

Penting untuk melakukan evaluasi medis terhadap setiap keluhan fisik. Jika tidak ditemukan penyebab medis yang jelas dan gejala berulang berkaitan dengan kondisi emosional, respons trauma dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, proses pemulihan harus mencakup perhatian terhadap tubuh serta pengalaman emosional yang belum sepenuhnya pulih.

Artikel Terkait