Stres yang berat tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan fisik, khususnya pada siklus menstruasi perempuan. Ketegangan emosional, fisik, dan psikologis dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur periode haid, sehingga durasi menstruasi bisa lebih lama dari biasanya.
Dokter Chetna Jain, yang menjabat sebagai Direktur Departemen Obstetri dan Ginekologi di Cloudnine Group of Hospitals di Gurgaon, menjelaskan bahwa stres dapat mengganggu siklus menstruasi pada beberapa perempuan. “Saat tubuh mengalami stres emosional, fisik, atau psikologis, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin,” jelasnya.
Pengaruh Stres terhadap Hormon dan Siklus Menstruasi
Stres berat dapat menyebabkan pelepasan hormon kortisol dan adrenalin, yang berfungsi mengganggu kinerja hipotalamus, kelenjar pituitari, dan ovarium. Ketiga komponen ini bekerja sama dalam mengatur siklus menstruasi. Menurut Dr. Jain, gangguan pada sistem tersebut dapat menyebabkan perubahan pola haid. “Sebagian perempuan mungkin mengalami haid yang terlambat, sementara lainnya mengalami perdarahan lebih banyak, bercak di antara siklus, siklus tidak teratur, atau haid yang berlangsung lebih lama,” tambahnya. Durasi haid yang biasanya berlangsung selama empat hingga lima hari dapat meluas hingga satu minggu atau lebih akibat ketidakseimbangan hormon yang disebabkan oleh stres.
Gangguan Ovulasi dan Peluruhan Rahim yang Tidak Teratur
Selain itu, stres berat juga dapat mengganggu atau menunda ovulasi. Ketika ovulasi terlambat atau tidak terjadi dengan semestinya, kadar hormon estrogen dan progesteron dapat berubah secara abnormal. “Ketidakseimbangan ini dapat memengaruhi lapisan rahim dan menyebabkan peluruhannya tidak teratur, sehingga perdarahan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ungkap Dr. Jain.
Stres berat dapat timbul dari berbagai faktor, seperti tekanan pekerjaan, masalah dalam hubungan, kesulitan finansial, duka atau trauma, serta tekanan akademik. Kurang tidur, olahraga berlebihan, dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat berkontribusi terhadap masalah menstruasi yang serupa.
Perubahan menstruasi akibat stres sering disertai dengan gejala lain, seperti kram yang parah, kelelahan, perubahan suasana hati, sakit kepala, munculnya jerawat, perubahan nafsu makan, hingga haid yang terlewat. Meskipun demikian, Dr. Jain mengingatkan bahwa haid yang berkepanjangan tidak selalu disebabkan oleh stres. “Kondisi seperti PCOS, gangguan tiroid, fibroid, endometriosis, infeksi, ketidakseimbangan hormon, atau komplikasi terkait kehamilan juga dapat menyebabkan perdarahan yang tidak normal,” katanya.
Oleh karena itu, jika haid berlangsung sangat lama dan terus terjadi selama beberapa siklus, penting untuk melakukan pemeriksaan medis agar penyebab pasti dari perubahan menstruasi dapat diidentifikasi dan ditangani dengan tepat.